Anak Malas Belajar? Apa Penyebab dan Solusinya?

Anak Malas Belajar? Apa Penyebab dan Solusinya?

Anak malas belajar lantaran mereka tidak serius. Mereka lebih mementingkan hura-hura ketimbang berjuang untuk sukses. Demikian pendapat sebagian besar orang. Mereka menyalahkan kemalasan anak sepenuhnya pada si anak itu sendiri. Mereka menuding si anak lebih mementingkan egonya dibanding mementingkan bagaimana agar tidak mengecewakan orangtuanya.

Selain itu, ada juga yang menuding orangtua sebagai biang kemalasan anak. Tudingan seperti ini didasarkan pada alasan bahwa orangtualah yang paling bertanggung jawab atas perilaku anak. Dikatakan, anak malas belajar dan malah berhura-hura lantaran kurang kasih sayang dari orangtuanya. Anak malas belajar dan menjadi anak nakal lantaran orangtuanya terlalu sibuk bekerja.

Tapi, benarkah demikian? Benarkah anak malas belajar lantaran kurang kasih sayang orangtuanya? Benarkah anak malas belajar lantaran mereka lebih mementingkan kesenangan?

Bagi Anda yang sudah berusaha keras memperhatikan anak, tentu pendapat di atas salah besar. Bagaimana tidak? Anda merasa Anda telah memberikan kasih sayang pada anak, tetapi tokh mereka tetap membangkang jika disuruh belajar. Dan, ini jugalah yang mengganjal di hati Anda. Anda bingung mengapa anak Anda masih suka membangkang jika disuruh belajar, padahal Anda sudah memperhatikan mereka. Bahkan, saking penasarannya, Anda sempat berpikir bahwa anak Anda memang egois, lebih mementingkan kesenangan dibandingkan belajar. Dan, karena itu, Anda merasa bersalah.

Well, sebelum jauh menyalahkan diri sendiri dan menyalahkan anak Anda, tidak ada salahnya untuk berpikir sejenak, mungkinkah ada hal lain yang menyebabkan anak malas belajar.

Kenyataannya, ada fakta mengejutkan mengapa anak malas belajar. Para pakar menemukan penyebab kemalasan pada anak tidak sesederhana dugaan kita.

Penasaran?

Penulis akan menjelaskan selengkapnya di dalam artikel ini. Untuk itu, terus simak artikel ini hingga selesai. Temukan penyebab anak malas belajar dan solusinya.

Kompetisi di Sekolah

Berbicara soal belajar tentu tidak luput dari kompetisi. Di sekolah, kompetisi merupakan salah satu elemen penting. Dengan ujian/tes, anak dituntut untuk berkompetisi satu sama lain. Kemampuan anak dinilai dari tes tersebut.

Anak yang meraih nilai tinggi mendapatkan peringkat yang bagus. Dan, di lingkungan sekolah, mereka dianggap sebagai anak yang cerdas. Sebaliknya, anak yang meraih nilai rendah tidak mendapatkan peringkat. Di lingkungan sekolah, mereka dianggap kurang cerdas.

Dampak Kompetisi

Apa dampak kompetisi bagi psikologis anak? Dampaknya yaitu anak menjadi terobsesi pada kompetisi. Mereka terobsesi menjadi juara satu. Mereka terobsesi untuk mendapatkan nilai yang sempurna. Mengapa demikian? Karena, juara satu atau nilai yang sempurna merupakan bukti bahwa mereka cerdas.

Kompetisi di sekolah bukan hanya berdampak pada psikologis anak. Seringkali, orangtua juga ikut terobsesi terhadap kompetisi di sekolah. Mereka menaruh harapan besar anaknya mendapatkan nilai yang sempurna dan menjadi juara.

Nah, karena harapan itu, tak jarang, orangtua mendorong dan bahkan menuntut anak untuk menjadi juara atau sempurna.

Sebagaimana kita tahu, obsesi menjadi juara/sempurna merupakan hal yang positif. Dengan obsesi itu, anak termotivasi untuk belajar. Mereka terdorong untuk belajar karena ingin mendapatkan juara atau nilai yang sempurna.

Namun demikian, terlepas dari dampak positif itu, ada dampak negatif yang perlu diwaspadai. Sebagaimana penulis jelaskan dalam artikel yang berjudul Dampak Negatif Mindset Perfeksionisme, obsesi terhadap kesempurnaan/perfeksionis dapat membuat kita depresi, stres, dan menunda-nunda pekerjaan (procrastination).

Nah, selain depresi, stres, dan menunda pekerjaan, obsesi terhadap kesempurnaan juga membuat kita takut gagal. Dampak negatif ini (takut gagal) juga berlaku bagi anak. Anak yang terobsesi kesempurnaan berpotensi memiliki ketakutan terhadap kegagalan.

Perfeksionisme dan Takut Gagal

Pertanyaannya, bagaimana obsesi terhadap kesempurnaan (perfeksionisme) membuat anak takut gagal?

Anak yang terobsesi terhadap kesempurnaan atau terobsesi menjadi juara tentu malu ketika mereka gagal mendapatkan nilai yang sempurna atau gagal menjadi juara. Mengapa mereka malu? Karena, kegagalan itu menjadi bukti bahwa mereka tidak cerdas.

Nah, untuk menutupi rasa takut itu, tidak jarang, anak merusak diri sendiri, alih-alih belajar lebih tekun. Dalam psikologi, perilaku merusak diri sendiri lantaran takut gagal lumrah disebut self-handicapping.

Anak Malas Belajar karena Takut Gagal

Sebagaimana dijelaskan di atas, untuk menutupi rasa takut terhadap kegagalan, anak merusak diri mereka sendiri.

Pertanyaannya, mengapa demikian? Dengan merusak diri sendiri, mereka mempunyai pembenaran (excuse) manakala mereka gagal meraih juara atau gagal mendapatkan nilai yang sempurna. Dengan pembenaran itu, mereka tidak perlu malu saat mereka gagal. Pembenaran itu menutupi kenyataan bahwa mereka bukan orang yang cerdas.

Sekarang, bagaimana anak merusak diri sendiri? Ada berbagai wujud self-handicapping. Yang pasti, kesemua wujud itu dapat dijadikan sebagai pembenaran (excuse) manakala mereka gagal.

Nah, apa saja wujud self-handicapping itu?

1. Anak malas belajar

Yang pertama yaitu anak malas belajar. Rasa takut terhadap kegagalan membuat anak malas belajar. Mengapa? Dengan malas belajar, saat tidak mendapatkan juara atau saat tidak mendapat nilai sempurna, ia tidak perlu malu. Kemalasannya dapat menjadi pembenaran mengapa ia gagal. Saat ditanya orang lain mengapa ia gagal, ia dapat menjawab ia gagal karena tidak belajar.

Coba Anda bayangkan, mana yang lebih memalukan di antara dua hal berikut ini.

Anak rajin belajar, tetapi tidak mendapat juara

Atau

Anak malas belajar dan tidak mendapat juara

Penulis berani bertaruh, Anda lebih malu ketika anak Anda rajin belajar, tetapi tidak juara ketimbang anak malas belajar dan tidak mendapat juara. Hayooo, ngakuuuu! Heheh.

anak malas belajar

Nah, sebagaimana diri Anda, psikologis anak pun demikian. Ia lebih malu ketika ia sudah rajin belajar, tetapi tidak juara ketimbang ia tidak juara lantaran malas belajar. Itulah mengapa, ia malas belajar.

2. Konsumsi obat terlarang, miras, dan perilaku merusak lainnya

Di samping malas belajar, self-handicapping juga dapat berupa konsumsi obat-obatan terlarang, minuman keras, begadang, bolos sekolah, dan perilaku merusak lainnya.

Minuman keras dan obat-obatan terlarang dapat menjadi pembenaran manakala anak tidak mendapatkan juara atau tidak mendapat nilai sempurna. Mereka dapat menjawab “Wajarlah kalau aku tidak juara. Otakku sudah rusak sama drugs dan miras. Coba kalau aku tidak nge-drugs, jadi juara, mah, kecil!” ketika ditanya orang lain mengapa mereka tidak menjadi juara. Jawaban itu dapat menutupi rasa malu mereka karena gagal menjadi juara. Jawaban itu dapat menutupi kenyataan bahwa mereka tidak mampu.

Solusinya?

Setelah menyimak penejelasan di atas, kesimpulan apa yang dapat Anda tarik?

Pertama, anak malas belajar bukan sepenuhnya lantaran kesalahan Anda. Demikian juga, anak malas belajar bukan sepenuhnya lantaran kesalahan sang anak. Sistem pendidikan di mana prestasi belajar diukur lewat kompetisi membuat anak terobsesi terhadap kompetisi, terhadap nilai dan  predikat juara.

Kedua, obsesi tersebut membuat anak menjadi perfeksionis. Fokusnya di sekolah bukan untuk mendapat pengetahuan, melainkan untuk menunjukkan bahwa ia cerdas.

Ketiga, karena fokusnya untuk menunjukkan bahwa ia cerdas, ia memiliki ketakutan ia tidak dapat membuktikan kepada orang lain bahwa ia cerdas. Ia takut gagal meraih juara.

Keempat, karena takut gagal, ia pun merusak diri sendiri.

Kelima, dengan merusak diri sendiri, ia memiliki pembenaran atas kegagalannya. Dengan merusak diri sendiri, ia tidak perlu malu manakala ia gagal.

Nah, setelah mengetahui kesimpulan di atas, bagaimana solusinya?

Beri penjelasan kepada anak bahwa kecerdasan tidak diukur lewat prestasi juara atau nilai. Kecerdasan dinilai dari paham atau tidaknya ia mengenai materi pelajaran. Adalah tidak terlalu penting apakah ia meraih juara satu atau tidak. Yang terpenting adalah ia paham dan mampu menerapkan materi pelajaran dalam kehidupan nyata.

Beritahu anak bahwa tujuan belajar bukan untuk mendapat juara melainkan untuk mendapat banyak pengetahuan dan keterampilan, di mana pengetahuan dan keterampilan itu akan bermanfaat baginya di kemudian hari.

Dengan begitu, anak tidak perlu takut gagal meraih juara. Jelaskan pada anak bahwa kegagalan merupakan fase yang lumrah dalam belajar. Kegagalan bukan untuk ditakuti melainkan untuk dicintai. Dengan kegagalan, anak tahu strategi yang salah. Dengan begitu, ia tidak mengulangi kesalahan itu.

Selain itu, beri juga ia penjelasan bahwa kecerdasan bukanlah sesuatu yang tetap. Kecerdasan harus diasah terus-menerus lewat belajar. Jika hari ini ia juara kelas, belum tentu besok predikat itu masih berlaku. Ia harus terus belajar, memperbarui pengetahuannya. Hanya dengan begitu, predikat cerdas dapat terus ia raih.

Nah, dengan pemahaman di atas, anak pun termotivasi kembali untuk belajar.

Baca juga:

Bagaimana Membantu Anak Anda Cepat Mendapatkan Kepercayaan Diri untuk Tampil di Muka Umum?

Apa Itu Mental Block dan Bagaimana Mengatasinya agar Anak Lebih Optimis?

Cara Mudah Menumbuhkan Minat Baca pada Anak

 

Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

This Post Has 1 Comment

Leave a Reply

Close Menu