Apa Hal yang paling Penting dalam Hidup Anda?

Apa yang paling penting dalam hidup Anda? Apakah pekerjaan? Keluarga? Cinta/pasangan? Agama? Atau diri Anda sendiri?

Bagi banyak orang, agama, keluarga, dan cinta/pasangan merupakan hal yang paling penting.

Mementingkan dan memusatkan hidup pada tiga aspek tersebut memang tampak benar dan alamiah.

Tetapi, tahukah Anda, menurut Stephen R. Covey, penulis buku 7 Habits of Highly Effective People, memusatkan hidup pada salah satu dari 3 aspek itu cenderung tidak efektif.

Mengapa?

Dalam artikel ini, penulis akan menunjukkan kepada Anda apa alasannya. Di samping itu, penulis juga akan menunjukkan kepada Anda apa yang seharusnya menjadi pusat dalam kehidupan seseorang menurut Covey.

Untuk itu, simak terus artikel ini sampai selesai. Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda.

Mengapa Berpusat pada Keluarga, Cinta, atau Agama tidak Efektif?

Mengapa berpusat pada keluarga, cinta/pasangan, atau agama tidak efektif?

Berikut ini alasannya.

Keluarga

Memusatkan diri pada keluarga memang tampak benar dan alami. Tetapi, terkadang sikap ini justru menghancurkan.

Orang yang memusatkan hidupnya pada keluarga seringkali kecewa mendapati ikatan keluarganya tidak seindah yang ia harapkan. Seorang ayah atau ibu kelak akan ditinggalkan oleh anak-anaknya dan anak-anaknya akan lebih mengutamakan keluarga mereka sendiri. Demikian juga ikatan saudara. Seorang kakak atau adik kelak akan terpisah jauh dan semakin jauh.

Orangtua yang memusatkan hidup pada keluarga merasa berharga sebagai seorang pribadi ketika reputasi keluarganya baik. Oleh karenanya, apa yang penting baginya adalah menjaga agar reputasi keluarga tidak tercoreng.

Reputasi keluarga ini dapat dijaga dengan mempertahankan tradisi dan budaya keluarga yang sesuai dengan tradisi dan budaya lingkungan tempat keluarga itu hidup.

Masalahnya adalah ketika salah satu atau beberapa anggota keluarga meninggalkan tradisi dan budaya itu dan memilih jalan hidupnya sendiri. Bagi orangtua yang memusatkan hidup pada keluarga, hal ini tentu dianggap membuat reputasi keluarga tercoreng.

Akhirnya, bukan hanya orangtua yang terluka. Anak-anak juga terluka akibat dianggap sebagai pencoreng nama baik keluarga.

Sayang sekali, tidak sedikit anak yang merasa tidak nyaman dan tidak cocok dengan tradisi dan budaya keluarga dan lingkungannya.

Cinta/pasangan

Orang yang memusatkan hidupnya pada cinta/pasangan menjadi tergantung secara emosial terhadap cinta sang pasangan. Kebahagiaan dan kesedihannya tergantung pada sikap pasangannya. Apabila pasangannya baik kepadanya, maka ia bahagia. Tetapi, ketika pasangannya tidak sesuai yang ia harapkan, ia pun menjadi kecewa.

Agama

Hero-Image-LifeSciences-General

Orang yang memusatkan hidupnya pada agama seringkali mendapati dirinya justru kehilangan makna spiritualitas/keberagamaannya. Ia terlalu sibuk dengan ritual hingga melupakan hakikat. Karenanya, ia justru menjadi pribadi yang dogmatis yang menerima dan menjadikan setiap ajaran agama sebagai pedoman hidup tidak peduli apakah ajaran itu sesuai dengan konteks zamannya atau tidak.

Apa yang Idealnya menjadi Pusat dalam Kehidupan Seseorang?

Nah, dari penjelasan di atas, Anda paham, bukan, mengapa memusatkan hidup pada salah satu dari 3 aspek di atas tidak efektif? Oleh karena itulah, menurut Stephen Covey, kita perlu mengubah fokus hidup kita.

Covey menjelaskan bahwa idealnya kita memusatkan hidup pada prinsip (hukum alam/keilmiahan).

Tetapi, apa alasannya?

Prinsip adalah hukum yang mengatur alam semesta termasuk masyarakat dan individu. Mengambil keputusan yang sesuai dengan prinsip menyelamatkan seseorang dari ketersesatan.

Contoh, kita paham bahwa salah satu prinsip perkembangan dan pertumbuhan diri adalah bahwa proses perkembangan diri meliputi rasa sakit. Perkembangan diri senantiasa melewati tahap yang menyakitkan.

Nah, orang yang ingin dirinya berkembang tetapi tidak bersedia melewati proses yang menyakitkan maka bisa disimpulkan orang tersebut telah mengingkari prinsip perkembangan. Walhasil, karena mengingkari prinsip perkembangan, ia justru tidak kunjung berkembang.

Contoh lain, orang-orang jaman dulu mengira bahwa gerhana matahari terjadi karena matahari ditelan raksasa. Dan, orang yang sedang hamil diharuskan untuk bersembunyi di kolong tempat tidur.

Penjelasan tentang munculnya gerhana matahari yang seperti itu tidaklah sesuai dengan prinsip/keilmiahan. Dan, oleh karenanya, menghasilkan tindakan yang juga tidak ilmiah (orang hamil harus bersembunyi di kolong tempat tidur).

Akhirnya, tindakan yang tidak ilmiah/tidak sesuai dengan prinsip tersebut justru membuat sang ibu hamil terancam bahaya (misal, karena memaksakan diri sembunyi ke kolong tempat tidur, si ibu malah jatuh sakit).

Keuntungan Memusatkan Hidup pada Prinsip

Sebagaimana penulis jelaskan di atas, memusatkan hidup pada prinsip memberikan keuntungan bagi kita, yaitu kita terselamatkan dari sikap, tindakan, dan keputusan yang menyesatkan. Di samping keuntungan itu, ada keuntungan lain yang akan kita peroleh ketika kita memusatkan hidup kita pada prinsip.

Apa itu?

Dengan berpusat pada prinsip, kita dapat menyeimbangkan berbagai aspek kehidupan kita. Ini karena, kita dapat memanfaatkan prinsip untuk mencapai tujuan.

Dalam hidup, kita memiliki tujuan yang berbeda-beda sesuai dengan aspek kehidupan kita yang juga berbebda-beda.

Sebagai anggota keluarga, kita memiliki tujuan membahagiakan keluarga, menjadikan keluarga kita harmonis, berbagi cinta, kasih, dan perhatian. Sebagai seorang pasangan, kita bertujuan untuk bisa hidup harmonis dan bahagia bersama pasangan kita. Sebagai seorang pemeluk agama, kita bertujuan memperoleh pencerahan spiritual.

Terkadang, terjadi benturan antara satu aspek dengan aspek lainnya dan kita dihadapkan pada pilihan yang sulit: memilih satu aspek atau aspek lainnya; memilih keluarga atau pasangan, misalnya.

Nah, dengan memanfaatkan prinsip, kita bisa memilih keduanya; kita tidak harus memilih salah satu dan mengesampingkan yang lainnya.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana cara mengetahui prinsip? Tidak setiap orang mengetahui prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan.

Terus Belajar adalah Kuncinya

Jika idealnya kita memusatkan hidup kita pada prinsip, lalu bagaimana cara mengetahui prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan?

Pengetahuan tentang prinsip diperoleh lewat proses belajar tanpa akhir. Lewat pembelajaran, setahap demi setahap manusia beranjak dari ketidaktahuan menuju masyarakat yang berilmu. Kehidupan manusia purba yang penuh dengan tahayul dan klenik lama kelamaan berubah. Generasi selanjutnya mulai mengenal pengetahuan yang berdasarkan rasionalitas. Pengetahuan yang lama diganti yang baru. Pengetahuan yang baru diganti dengan yang lebih baru. Begitu seterusnya, karena memang demikianlah cara manusia memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip yang mengatur kehidupan.

 

Nah, demikianlah penjelasan yang dapat penulis sampaikan. Akhir kata, semoga tulisan di atas bermanfaat bagi Anda.

 

About the Author

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

Leave a Reply 0 comments

Leave a Reply: