Bagaimana Cara Berhenti Membandingkan Diri Anda dengan Orang Lain?

Benner-4.pnj

Ceritanya, Anda pulang dari kerja. Hari masih sore, menjelang malam. Kebetulan sekali, jalanan lancar sehingga kendaraan Anda dapat melaju kencang dan sampai rumah sebelum matahari tengglam.

Sesampai di rumah, si kecil, buah hati Anda menyambut dengan keceriaannya. Tetapi, ada saja yang mengganjal di hati Anda. Sambutan si kecil tidak mampu menghentikan kegelisahan Anda. Perasaaan Anda tetap tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang menekan. Tetapi, Anda tidak tahu apa itu.

Ingin tahu apa yang terjadi dengan diri Anda? Jangan-jangan, Anda sedang dilanda stres!

Tetapi, kan, kerjaan di kantor dapat saya handle dengan baik. Saya juga masih fit, tidak capai. Jalanan tidak terlalu macet tadi. Jadi, saya stres gara-gara apa?” Mungkin demikian pertanyaan Anda.

Hmmm, stres bukan hanya muncul lantaran capai, tekanan, dan masalah. Stres juga dapat muncul lantaran Anda tidak percaya diri. Anda memiliki image diri yang negatif, bahwa Anda kurang cerdas, kurang cantik, atau Anda memiliki penghasilan yang pas-pasan. Intinya, Anda memandang diri Anda sebagai orang biasa, yang tidak mungkin mencapai level orang sukses, keren, atau sempurna.

Akan tetapi, mengapa Anda tidak percaya pada diri Anda sendiri? Karena Anda selalu membandingkan diri Anda dengan orang lain. Yup! Anda membandingkan diri Anda sendiri dengan orang lain yang jauh lebih unggul dari Anda. Anda membandingkan diri Anda dengan si A, yang cantik; Anda membandingkan diri Anda dengan si B yang cerdas dan berbakat, yang dengan bakatnya, ia pun diangkat menjadi manajer. Sementara itu, Anda, Anda sudah bekerja lama di kantor yang sama dengan si B, tetapi tidak kunjung diangkat menjadi manajer. Seperti itu ilustrasinya.

Membandingkan diri Anda dengan orang lain membuat Anda tertekan dan stres. Ketika Anda dapati orang lain jauh lebih unggul dibanding Anda, Anda pun merasa inferior. Membandingkan diri Anda dengan orang lain membuat Anda berpikir seolah-olah diri Anda tidak bermakna dan tidak penting.

Nah, untuk itu, yang perlu Anda lakukan yaitu menghilangkan sumber stres itu, yakni berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain.

Tetapi, bagaimana caranya? Seringkali, secara otomatis, saya membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” demikian tanya Anda.

Itu namanya, Anda memiliki kebiasaan membandingkan diri sendiri dengan oran lain.

Jika Anda memiliki kebiasaan membandingkan diri Anda sendiri dengan orang lain, tentu susah jika harus menghilangkan kebiasaan itu, bukan?

Nah, untuk itu, Anda tidak perlu berhenti membandingkan diri Anda dengan orang lain. Yang perlu Anda lakukan adalah memanusiakan orang lain, yang Anda bandingkan kualitasnya dengan kualitas diri Anda. Tanyakanlah pada diri Anda sendiri, apakah kehebatan dan keunggulannya itu nyata, atau, jangan-jangan, Anda saja yang terlalu membesar-besarkan keunggulannya.

Nah, di sini Anda harus mengetahui apa yang sebenarnya terjadi ketika Anda membandingkan diri sendiri dengan orang lain: Apakah Anda sedang membandingkan diri Anda yang sebenarnya dengan diri mereka yang sebenarnya, atau Anda membandingkan diri Anda yang sebenarnya dengan gambar ideal tentang mereka (idealized images of them)?

Untuk mengetahuinya, mari simak kelanjutan artikel ini.

Apa yang terjadi?

Sebagaimana yang penulis sebutkan di atas, apa yang sebenarnya terjadi ketika Anda membandingkan diri Anda dengan orang lain? Apakah Anda membandingkan diri Anda yang sebenarnya dengan dirinya yang sebenarnya? Atau, apakah Anda membandingkan diri Anda yang sebenarnya dengan gambar ideal dirinya?

Perlu Anda ketahui, KONDISI orang lain yang SEBENARNYA berbeda dengan GAMBAR IDEAL tentang dirinya. Gambar ideal tentang dirinya (idealized image of him/her) adalah gambar mengenai separuh dirinya, yang tampak di luar. Gambar ideal ini menyembunyikan gambar/kondisinya yang sebenarnya.

Sebagai contoh, di kantor Anda, si A terkenal sangat berbakat. Ia direkomendasikan untuk menjadi manajer. Nah, gambar ideal mengenai si A adalah orang yang berbakat. Anda dan teman-teman Anda menilai A sebagai orang yang berbakat.

Dengan penilaian itu, muncul serta penilaian-penilaian lain tentang si A seperti si A adalah orang yang rendah hati, disiplin, dan cerdas. Intinya, si A adalah pribadi yang sempurna. Nah, penilaian-penilaian inilah yang disebut sebagai gambar ideal. Anda tidak mengetahui apakah penilaian-penilaian itu tepat atau tidak. Anda tidak tahu apakah memang benar si A rendah hati dan disiplin. Yang pasti, Anda menyematkan/mengidentikkan si A dengan penilaian-penilaian itu. Padahal, siapa tahu di rumahnya, si A dikenal sebagai orang yang menjengkelkan, atau memiliki kepribadian yang aneh. Who knows?

Di sini, yang terjadi sebenarnya yaitu, Anda membesar-besarkan (exaggerate) penilaian Anda mengenai si A. Anda tidak mengetahui kondisi si A yang sebenarnya. Tetapi, lewat gambar ideal tentang si A, Anda menilai A sebagai orang yang sempurna, tanpa cacat.

Nah, penilaian Anda yang terlalu tinggi mengenai si A inilah yang membuat Anda ciut. Bagaimana tidak? Anda membandingkan diri Anda yang sebenarnya, diri Anda yang apa adanya, tidak kurang dan tidak lebih dengan si A, yang penilaian Anda tentangnya Anda besar-besarkan. Tentu saja, perbandingan ini tidak seimbang.

Nah, sekarang, bagaimana cara mengatasi hal di atas? bagaimana cara menyeimbangkan perbandingan antara Anda dengan orang lain? Untuk mengetahuinya, yuk, kita simak uraian selanjutnya.

Manusiakan orang lain

Dari uraian di atas, kita tahu bahwa kita merasa inferior dibanding orang lain karena kita membayangkan orang lain dengan bayangan yang hebat-hebat. Kita menilai orang lain sebagai orang yang unggul, sempurna, tanpa cacat. Dengan bayangan itu, tentu saja hati kita ciut saat kita membandingkan diri kita dengan mereka.

Nah, untuk membebaskan diri kita dari perasaan inferior, bayangkanlah orang lain sebagaimana mereka adanya.

Bagaimana cara membayangkan mereka sebagaimana mereka adanya? Kan, saya tidak tahu aslinya mereka seperti apa,” mungkin demikian pertanyaan Anda.

Hmm, Anda tidak perlu bingung. Yang harus Anda lakukan yaitu memanusiakan mereka; Memperlakukan mereka sebagai manusia, yang memiliki kelebihan, tetapi tidak luput dari kekurangan.

Anda inferior ketika membandingkan diri Anda dengan orang lain karena Anda menganggap orang lain sebagai dewa, yang hebat, yang tidak memiliki kekurangan. Nah, untuk itu, yang harus Anda lakukan supaya perasaan inferior itu lenyap, anggap/nilailah orang lain sebagai manusia biasa, yang punya kelebihan dan kekurangan.

Dengan begitu, perbandingan seimbang. Katakan pada diri Anda sendiri (ketika tiba-tiba Anda membandingkan diri Anda dengan orang lain) bahwa ia (orang lain) memiliki kekurangan yang tidak Anda ketahui. “Wah, dia benar-benar hebat, berbakat. Pantas dia diangkat menjadi manajer. Tapi, siapa tahu, di rumahnya, ia sangat menjengkelkan. Siapa tahu, dia sebenarnya memendam ketakutan menjadi seorang manajer. Namanya juga manusia, mana ada yang sempurna?”

Apa yang kita lihat seringkali menipu

Prinsip yang perlu Anda tanamkan di dalam diri Anda yaitu bahwa apa yang Anda lihat tidaklah mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Prinsip ini telah terbukti. Banyak orang mengidam-idamkan kekasihnya, memandang kekasihnya sebagai orang yang sempurna tanpa cacat. Tetapi, ketika mereka menikahi sang kekasih, tinggal serumah dengan kekasih mereka, mereka pun mulai melihat wujud asli sang kekasih. Mereka mulai melihat kekurangan sang kekasih.

Hal yang sama juga dialami oleh para fans/penggemar sosok idola tertentu. Mereka diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu selama satu minggu dengan idolanya. Mereka, yang tadinya memuja-muja sang idola, niscaya kecewa karena mengetahui ternyata penilaian mereka selama ini tentang sang idola tidak seperti realitas yang sebenarnya. Menghabiskan waktu dengan sang idola membuat mereka sadar bahwa ternyata sosok yang mereka idolakan tidaklah sesempurna yang mereka kira.

Demikian ulasan mengenai cara berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang dapat penulis sampaikan kepada Anda. Semoga, ulasan di atas bermanfaat untuk Anda.

Benner-4.pnj

Rina Ulwia
 

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

>