Bahagia dalam Ketidakpuasan

Shares

Bahagia dalam ketidakpuasan? Wow! Judul yang aneh!

Mungkin seperti itu pikir Anda ketika membaca judul di atas. Tentang apa, sih, sebenarnya artikel ini?

Artikel ini akan membahas mengapa kita perlu menjadi orang yang tidak mudah puas.

Nah, sekarang, penulis ingin bertanya kepada Anda, di antara dua tipe berikut ini, manakah yang mencerminkan diri Anda? Apakah Anda tipe orang yang mudah puas? Atau, apakah Anda orang yang tidak gampang puas?

Orang yang gampang puas biasanya jauh lebih bersahaja ketimbang orang yang tidak gampang puas. Selain itu, orang yang gampang puas tampak jauh lebih tenang hidupnya, tidak neko-neko, dan lebih menerima keadaan apa adanya.

Sebaliknya, orang yang tidak mudah puas tampak lebih gusar dalam hidupnya. Ia juga tampak neko-neko, banyak keinginan, dan selalu menginginkan lebih.

Dengan stereotip di atas, kita menilai tipe mudah puas sebagai tipe yang ideal. Dan, sebaliknya, kita menganggap tipe yang tidak mudah puas sebagai tipe yang tidak ideal, yang harus dihindari.

Di sini, sikap mudah puas dianggap sebagai cerminan orang yang senantiasa bersyukur, sedangkan sikap tidak mudah puas dipandang sebagai cerminan orang yang tidak pernah bersyukur. Bahkan, yang jauh lebih parah, tipe tidak mudah puas sering dianggap mendorong orang yang bersangkutan menghalalkan segala cara demi memenuhi setiap keinginannya.

Namun demikian, apakah benar seperti itu kenyataannya? Apakah benar orang yang mudah puas berarti orang itu selalu bersyukur? Apakah benar orang yang tidak mudah puas menandakan ia tidak pernah bersyukur?

Well, dalam artikel ini, kita tidak akan membahas kedua tipe di atas dari sudut pandang syukur. Dalam artikel ini, kita akan membahas kedua tipe di atas dari sudut pandang kebutuhan (necessity). Dalam konteks kebutuhan/necessity, sikap manakah yang menurut Anda jauh lebih diperlukan? Apakah sikap mudah puas? Atau, sikap tidak mudah puas?

Untuk menjawabnya, mari kita perhatikan ilustrasi berikut ini.

Suatu hari, turun hujan yang sangat lebat di pemukiman tempat tinggal Anda. Akibatnya, rumah Anda kebocoran.

Karena hal itu, suami Anda berencana untuk merombak atap rumah Anda seluruhnya. Akan tetapi, Anda tidak menyetujuinya. Menurut Anda, yang diperlukan hanyalah mengganti genteng yang bocor. Alasannya, dibanding merombak atap rumah secara keseluruhan, mengganti genteng yang bocor jauh lebih murah. Untuk merombak atap keseluruhan memakan banyak biaya.

Setelah bermusyawarah, akhirnya diputuskan untuk cukup mengganti genteng yang bocor.

Singkat cerita, genteng yang bocor telah diganti. Hari dan minggu pun berlalu. Hujan turun lagi. Kali ini, derasnya melebihi hujan di minggu sebelumnya. Akibatnya, rumah Anda kebocoran lagi, di lokasi yang berbeda.

Nah, dari ilustrasi di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa pendapat awal suami Anda mencerminkan bahwa ia tipe yang tidak mudah puas. Ia tidak puas hanya mengganti genteng yang bocor. Ia ingin agar semuanya diperbaiki sekalian. Karena, menurutnya, lebatnya hujan dapat merusak tatanan genteng atap rumah Anda.

Sementara itu, berkebalikan dari sang suami, pendapat Anda menunjukkan bahwa Anda tipe orang yang gampang puas. Anda sudah puas hanya mengganti genteng yang bocor. Anda tidak memikirkan akibat jangka panjang jika atap rumah Anda tidak diperbaiki secara total.

Sampai di sini, cukup jelas, bukan, bahwa sikap tidak mudah puas jauh lebih diperlukan/necessary dibanding sikap mudah puas?

Sikap tidak mudah puas diperlukan/necessary lantaran selama kita hidup, selama itu pula kita mengalami kondisi yang berubah-ubah. Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi itu. Tidak ada kondisi yang tetap/settled. Jika sekarang kita tinggal di pemukiman A yang masih aman, beberapa tahun kemudian kita perlu berpikir untuk mencari tempat tinggal lain, kalau-kalau tempat tinggal yang sekarang sudah tidak aman lagi (Misalnya, sekarang pemukiman Anda aman dari banjir. Tapi, siapa tahu 10 tahun ke depan pemukiman itu rentan banjir karena berbagai sebab).

Pertanyaannya, seringkali, sikap tidak mudah puas membuat kita merasa tidak bahagia. Sikap tidak mudah puas membuat hidup kita serasa diburu waktu, tidak tenang, dan gusar. Lebih dari itu, sikap tidak mudah puas juga membuat kita serasa kehilangan makna.

Hari ini, kita menginginkan A, besoknya, kita ingin B. Saat B sudah diraih, kita pun beralih ke keinginan lainnya.

Menjalani kehidupan yang seperti itu membuat kita bertanya-tanya sebenarnya apa tujuan kita. Dalam keadaan seperti ini, kita sering merasa hidup kita kosong, tidak memiliki makna yang final.

Nah, apabila sikap tidak mudah puas sangat penting/necessary dan krusial dalam hidup kita, bagaimana cara agar sedemikian sehingga kita masih bisa bahagia dalam ketidakpuasan?

Berikut ini penulis akan berbagi sedikit trik menjadikan hidup Anda, sebagai pribadi yang tidak pernah puas, lebih bahagia.

Penasaran? Yuk, simak kelanjutan artikel ini hingga selesai.

Pelajaran dari video game

Pernahkah Anda bermain video game? Tentu pernah, bukan? Heheheh. Bagaimana biasanya pola permainan dalam video game disajikan? Biasanya, permainan dibagi ke dalam beberapa level.

Untuk menjadi pemenang, Anda harus melalui semua level yang ada. Seringkali, level terakhir sangat sulit dicapai. Hanya orang yang benar-benar maniak game yang bisa mencapainya.

Sekali pun belum mencapai level tertinggi, bagaimana perasaan Anda saat melalui level pertama, kedua, atau kelima? Anda puas, senang, dan bahagia, bukan? Rasanya seolah Anda berada di puncak kemenangan, bukan?

Sekarang, andaikanlah game yang Anda mainkan tidak dibagi ke dalam level-level. Hanya ada satu level. Saat Anda sudah mencapai garis finish, itu artinya Anda telah memenangkan permainan itu dan tidak ada lagi level selanjutnya.

Meskipun hanya ada satu level, tetapi level itu sangat panjang/lama, setara dengan 10 level pada game lainnya.

Jika model permainannya seperti itu, kira-kira bagaimana perasaan Anda saat bermain game itu dan belum mencapai finish? Anda lelah dan bosan, bukan?

Mengapa Anda lelah dan bosan? Penyebabnya, Anda merasa masih harus berjuang keras karena belum mencapai finish. Anda bosan dan lelah karena merasa belum mencapai apa-apa, belum ada pencapaian yang dapat Anda raih, belum ada momen yang membuat Anda senang.

Nah, di sinilah kita menyaksikan arti pentingnya level-level dalam video game. Pembagian game ke dalam beberapa level bertujuan agar para pemainnya tidak bosan. Saat mencapai suatu level, pemain diberi kesempatan untuk menikmati pencapaiannya. Selain itu, ia juga diberi kesempatan untuk menyadari bahwa ia telah mencapai progres dari titik tolak ia bermain (level 0).

Kesadaran itu membuatnya puas. Yup! Ia puas lantaran ada kemajuan yang dapat ia capai.

Yang harus dilakukan?

Dari penjelasan di atas, pelajaran apa yang dapat kita petik dari permainan video game? Yup! Pelajaran bahwa untuk membuat suasana hati kita lebih senang, bahagia, dan puas, kita perlu menyadari dan menikmati pencapaian yang telah kita raih, sebelum beranjak pada goal/tujuan lainnya.

Untuk membuat hidup Anda (yang penuh dengan keinginan) jauh lebih memuaskan dan membahagiakan, anggaplah perjalanan hidup Anda sebagai permainan video game. Di dalamnya, terdapat banyak sekali level yang harus Anda lalui untuk menuju puncak/goal/tujuan akhir.

Level-level itu adalah goal-goal yang ingin Anda raih. Saat Anda mencapai suatu level/goal, berhentilah sejenak. Sadari bahwa Anda telah mengalami kemajuan/progres dari titik awal Anda memulai perjalanan. Nikmatilah pencapaian Anda. Rasakan kemenangan karena telah beranjak ke depan, sebelum Anda merumuskan kembali goal-goal selanjutnya.

Selama kita hidup, selama itu pula kita harus bergerak. Kita harus bergerak ke depan, menyesuaikan perubahan dunia, yang semakin hari semakin maju.

Kondisi kehidupan yang selalu berubah, yang menggiring kita pada tujuan yang berbeda-beda seringkali membuat kita kehilangan makna. Kita lelah dan bertanya, buat apa sebenarnya kita mengejar semua keinginan kita; apa tujuan akhir hidup kita.

Terkadang, kita tidak perlu tahu apa tujuan akhir hidup kita. Yang pasti, dalam hidup, kita ingin merasakan bahagia dan puas. Nah, goal-goal yang silih berganti kita rumuskan dan ingin kita capai merupakan goal-goal yang membawa kita pada kebahagiaan, meskipun goal itu bukanlah tujuan akhir. Namun, seringkali, kita lupa untuk menikmati goal itu lantaran terdesak kebutuhan untuk segera merumuskan dan mengejar goal lainnya.

Supaya kita dapat menikmati goal yang sudah kita raih, berhentilah sejenak. Sadari. Sadari bahwa kita telah mencapai progres/kemajuan dari titik awal kita beranjak. Nikmati kemenangan itu, sebelum melanjutkan perjalanan kembali.

About the Author Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

follow me on:
>