Ingin Banyak Ide Kreatif seperti Thomas Alva Edison? Ini Dia Rahasia!

Ingin Banyak Ide Kreatif seperti Thomas Alva Edison? Ini Dia Rahasia!

Pernahkah Anda menjumpai masalah yang saaaangat pelik dan susah dipecahkan? Saking peliknya, rasanya kepala mau pecah! Semua cara sudah dicoba, semua ide sudah diterapkan. Tetapi, masalah itu taaaaaaak juga terpecahkan.

Huuuuuh!!! Terbayang, bukan, bagaimana rasanya menghadapi situasi sulit seperti itu? Atau, jangan-jangan, sekarang Anda sedang menghadapi masalah seperti itu. Blank. Stuck. Buntu.

Di saat seperti itu, rasanya ingin memanggil orang-orang genius untuk membantu memecahkannya.

Jangan putus asa!

Thomas Alva Edison, si genius penemu Lampu pijar, siap membantu Anda. Edison punya satu cara dahsyat untuk menemukan banyak ide. Bagaimana caranya? TIDUR!

Tetapi, ini bukan sembarang tidur. Tidur ini menjadi kebiasaan Edison setiap kali menjumpai masalah yang tak terpecahkan. Teknik melakukan tidur ini tidak seperti tidur biasa. Teknik ini disebut tidur hipnagogi alias HYPNAGOGIC NAP.

Ingin tahu caranya? Kalau begitu, yuk, kita gali dulu apa itu hypnagogic nap dan bagaimana ia bisa menghasilkan banyak ide.

Apa Itu Hypnagogic Nap?

Hypnagogic nap merupakan kondisi antara tidur dan terjaga. Anda mengalami kondisi ini beberapa menit sebelum tertidur lelap atau beberapa menit menjelang bangun tidur. Para pakar percaya bahwa dalam kondisi ini, kreativitas melejit. Daya kreatif melonjak.

Mengapa mereka percaya? Karena, bahkan ilmuan-ilmuan tersohor seperti Thomas Alva Edison, Albert Einstein, Friedrik August Kekule (ahli kimia terkenal), dan maaaasih banyak lagi menggunakan teknik ini untuk menghasilkan ide. Selain para ilmuan, para seniman seperti Salvador Dali (pelukis surrealis) dan Richard Wagner, dan Beethoven (keduanya merupakan komposer terkenal) juga menggunakan teknik ini untuk menghasilkan karya-karya yang masyhur.

Bagaimana Hypnagogic Nap Menghasilkan Ide Kreatif?

Meskipun belum mengetahui secara pasti bagaimana teknik ini membantu menghasilkan ide, para pakar memiliki hipotesis yang masuk akal:

Sesaat setelah tidur, kita memasuki kondisi hypnagogis. Nah, pada kondisi ini, prefrontal cortex (bagian otak yang bertugas untuk berpikir) menjadi pasif. Kita memasuki gelombang otak alpha atau theta. Dalam gelombang ini, kendali otak diambil alih oleh pikiran bawah sadar.

Oya, sebelumnya, perlu Anda ketahui, otak memancarkan gelombang yang berbeda sesuai dengan kondisi yang dialaminya.

Saat terjaga, berpikir keras, menulis, Anda berada dalam gelombang beta. Sesaat setelah tidur, Anda memasuki gelombang otak alpha atau gelombang theta. Anda bisa masuk gelombang alpha, lalu tembus ke gelombang theta, dan bisa naik lagi ke gelombang alpha. Terakhir, saat tertidur lelap, Anda memasuki gelombang delta.

ide kreatif

Nah, sebagaimana disebutkan sebelumnya, sesaat setelah tidur atau sesaat menjelang bangun tidur, Anda memasuki kondisi hypnagogic alias antara sadar dan tak sadar. Anda memasuki gelombang aplha atau theta. Prefrontal cortex menjadi pasif. Kendali otak diambil alih oleh pikiran bawah sadar. Daaan, saat berada di pikiran bawah sadar inilah, otak menghasilkan baaaaanyak ide kreatif.

Bagaimana pikiran bawah sadar menghasilkan ide?

Jadi begini, saat terjaga, saat dalam kondisi sadar, kita berpikir dengan pikiran rasional dan logis. Tetapi, saat kita memasuki pikiran bawah sadar, cara berpikir kita berbeda. Otak tidak lagi menggunakan logika dan rasionalitas, melainkan menggunakan asosiasi.

Bagaimana otak berpikir dengan asosiasi?

Contoh, ketika melihat seseorang yang bertingkah aneh, Anda langsung teringat Mister Bean dan tertawa-tawa sendiri.

Dalam contoh itu, ketika melihat orang yang beringkah aneh, otak Anda MENGASOSIASIKAN tingkah itu dengan Mister Bean. Dan, bukan hanya tingkah aneh yang diasosiasikan oleh otak. Mister Bean pun kembali diasosiasikan. Dengan apa Mister Bean diasosiasikan? Dengan gerak tubuh berupa tertawa terbahak-bahak.

Jadi, asosiasinya seperti ini:

Tingkah aneh: Mister Bean

Mister Bean: gerak tubuh (tertawa)

Contoh lain, Anda sedang bermain catur dengan teman. Melihat papan catur, Anda langsung teringat Presiden Jokowi.

Bagaimana melihat papan catur bisa membuat Anda teringat Pak Jokowi? Jawabannya, ketika melihat papan catur, yang kotak-kotak, otak mengasosiasikannya dengan kemeja kotak-kotak yang biasa dipakai Pak Presiden sewaktu kampanye.

Sebagaimana digambarkan dua contoh di atas, sebenarnya, dalam kondisi sadar, otak juga berpikir secara asosiatif. Otak tak pernah luput dari aktivitas asosiatif. Setiap melihat, mengecap, mendengar, merasakan, memikirkan, teringat, dan mengendus sesuatu, otak mengasosiasikan apa yang dilihat, dikecap, didengar, dirasakan, dipikirkan, diingat, atau diendus itu dengan hal lain. Dan, asosiasi yang terjadi bukan hanya dalam satu tingkat. Apa yang diasosiasikan diasosiasikan kembali dengan hal lainnya, sebagaimana Daniel Kahneman mengatakan:

An idea that has been activated does not merely evoke one other idea. It activates many ideas, which in turn activate others.”

-Daniel Kahneman, Think, Fast and Slow

Sebuah ide/hal yang sudah diaktifkan tidak hanya membangkitkan satu ide lain. Sebaliknya, ia mengaktifkan baaaaaaanyak ide, yang pada gilirannya juga mengaktifkan ide-ide lainnya.

Di halaman lain, Kahneman menjelaskan:

The word evokes memories, which evoke emotions, which in turn evoke facial expressions and other reactions, such as a general tensing up and an avoidance tendency. The facial expression and the avoidance motion intensify the feelings to which they are linked, and the feelings in turn reinforce compatible ideas. All this happens quickly and all at once, yielding a self reinforcing pattern of cognitive, emotional, and physical responses that is both diverse and integrated….”

Sebuah kata membangkitkan banyak ingatan, yang membangkitkan banyak emosi, yang pada gilirannya membangkitkan banyak ekspresi wajah dan reaksi-reaksi lainnya, seperti ketegangan dan kecenderungan untuk menghindar. Ekspresi wajah dan gerak menghindar memperkuat perasaan yang diasosiasikan dengan keduanya, dan perasaan-perasaan itu pada gilirannya memperkuat ide-ide yang cocok. Semua itu terjadi dengan cepat dan serentak, menghasilkan pola respons kognitif, emosional, dan fisik yang memperkuat dirinya sendiri, yang bermacam-macam dan terpadukan….

Jadi, saat mendengar satu kata saja, otak mengasosiasikan kata itu dengan berbagai hal lain mulai dari emosi/perasaan, ekspresi wajah, reaksi tubuh (tekanan darah meningkat, misalnya) dan sebagainya.

Misalnya, saat mendengar kata “belatung”, tiba-tiba bulu tubuh Anda berdiri, sekujur tubuh jadi gatal-gatal, dan perut mual. Dan, Anda pun jadi mringis-mringis sendiri karena geli.

Nah, kiranya, seperti itulah bagaimana asosiasi terjadi. Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, saat berada dalam pikiran bawah sadar, otak bekerja dengan asosiasi. Namun demikian, sebenarnya, saat dalam kondisi sadar pun otak tak luput dari aktivitas asosiasi. Tetapi, hanya sedikit saja yang muncul ke permukaan/pikiran sadar. Hanya sedikit saja yang disadari oleh pikiran sadar.

Daniel Kahneman menulis:

“…Only a few of the activated ideas will register in consciousness; most of the work of associative thinking is silent, hidden from our conscious selves.”

Hanya sedikit ide/hal-hal yang diaktifkan akan sampai di pikiran sadar; sebagian besar mekanisme kerja asosiasi tak tampak, tersembunyi dalam pikiran bawah sadar kita.

Contohnya bagaimana? Contohnya, dalam keadaan sadar/terjaga, Anda mendengar orang berkata, “Merdeka!”, maka otak Anda langsung membuat banyak asosiasi seperti perang, bendera merah putih, bambu runcing, 17 Agustus, Belanda, bahasa Inggris, bule, Si Pitung, Robin Hood, Jalan Raya Pos, darah, zodiak Anda, Stephen Hawking, lomba panjat pinang, kera bipedal (berjalan tegak), dan sebagainya.

Tetapi, hanya beberapa saja yang sampai di pikiran sadar, seperti bendera merah putih, 17 Agustus, Belanda, lomba panjat pinang dan perang. Sementara itu, asosiasi lainnya seperti kera bipedal, Jalan Raya Pos, darah, Stephen Hawking, zodiak Anda, dan Robin Hood hanya tersimpan di pikiran bawah sadar.

Mengapa begitu? Karena pikiran sadar menganggap Stephen Hawking, zodiak Anda, kera bipedal, dan Robin Hood tak ada hubungannya dengan kata “merdeka”. Menurut pikiran sadar, tidak masuk akal menghubungkan kata “merdeka” dengan Robin Hood, Stephen Hawking, kera bipedal, dan zodiak Anda. Tetapi, tidak demikian menurut pikiran bawah sadar. Menurut pikiran bawah sadar, zodiak Anda, Robin Hood, Stephen Hawking, dan kera bipedal berhubungan dengan kata “merdeka”.

Kok bisa? Penjelasannya begini:

Saat mendengar kata “merdeka”, otak mengasosiasikannya dengan 17 Agustus. Selanjutnya, oleh otak, Agustus diasosiasikan dengan zodiak Anda, Taurus, misalnya. Taurus diasosiasikan kembali oleh otak dengan bintang. Bintang diasosiasikan dengan astronom. Astronom diasosiasikan dengan Stephen Hawking, salah seorang astronom terkemuka.

Selain itu, saat mendengar kata “merdeka”, otak Anda mengasosiasikannya dengan lomba panjat pinang. Lomba panjat pinang diasosiasikan dengan kera yang mencari makan dengan memanjat pohon. Memanjat pohon diasosiasikan dengan kera bipedal (berjalan tegak) yang sudah tak perlu memanjat untuk mencari makan.

Lalu, bagaimana kata “merdeka” berhubungan dengan Robin Hood? Kata merdeka mengingatkan Anda akan sepak terjang pahlawan legendaris Si Pitung. Oleh otak, Si Pitung diasosiasikan dengan Robin Hood karena sepak terjang keduanya hampir serupa.

Nah, ketika Anda memasuki pikiran bawah sadar, logika dan rasionalitas pikiran sadar itu pasif. Kendali sepenuhnya diambil alih oleh pikiran asosiatif. Tanpa campur tangan pikiran sadar, pikiran bawah sadar beeeeebas sebebas-bebasnya membuat asosiasi. Daaaaan, asosiasi bebas inilah yang menjadi sumber kreativitas!

Tetapi, bagaimana asosiasi bebas menjadi sumber kreativitas?

Bagaimana asosiasi bebas menjadi sumber kreativitas?

Mekanismenya begini:

Sesaat setelah tertidur, Anda memasuki kondisi hipnagogis. Anda ada di antara sadar dan tidak sadar. Anda memasuki gelombang otak alpha atau pun theta. Neo cortex Anda menjadi pasif. Kendali otak sepenuhnya didominasi oleh pikiran bawah sadar.

Pikiran logis dan rasional menjadi non-aktif, dan digantikan pikiran asosiatif. Dalam kondisi ini, pikiran bawah sadar Anda mengasosiasikan masalah yang sedang Anda hadapi sebelum tidur dengan berbagai memori yang tersimpan di dalamnya.

Contoh:

Sebelum tidur, Anda memikirkan bagaimana cara agar anak Anda tidak ngebut saat membawa mobil. Ceritanya, Anda sudah memperingatkannya untuk tidak ngebut. Tetapi, ia ngeyel dan tidak mendengarkan.

Nah, setelah pusing mencari cara supaya anak Anda berhenti ngebut, Anda pun capai dan ketiduran di kursi. Beberapa saat setelah tertidur, Anda bermimpi Anda menonton berita kriminalitas (Investigasi) di TV, darah, dan sedotan.

Belum sempat tertidur lelap, Anda terbangun oleh dering telepon di HP Anda. Saat terbangun, Anda masih ingat mimpi Anda walaupun samar-samar. Anda ingat tentang berita kriminalias (Investigasi) di TV. Anda juga masih ingat, dalam mimpi Anda, terlihat darah dan sedotan. Anda tak tahu apa arti semua itu. Oleh karena itu, Anda abaikan begitu saja. Anda kembali memikirkan masalah Anda: bagaimana cara supaya anak Anda tidak ngebut lagi.

Saat pusing berpikir, Anda pun capai dan akhirnya melamun. Tiba-tiba, Anda teringat mimpi tentang berita kriminalitas di TV. Anda ingat salah satu kasus kriminalistas di TV yang Anda tonton adalah penjualan air minum palsu, mulai dari air mineral hingga air soda. Hal itu mengingkan Anda pada sedotan dan darah dalam mimpi Anda. Menurut Anda, air soda palsu warnanya mirip darah. Dan, darah membuat Anda teringat akan darah yang muncrat ketika terjadi kecelakaan. Lalu, tiba-tiba….”Aha!” Anda punya akal membuat anak Anda berhenti ngebut. Apa itu? Anda akan menaruh sebotol air mineral di dalam mobil (tanpa tutup botol), tepatnya di jog sopir dan mengatur letaknya sedemikian sehingga saat anak Anda mengerem mobil secara mendadak air itu bisa tumpah dan mengenai tubuhnya. Dengan begitu, ia akan lebih hati-hati ketika mengemudikan mobil.

Bagaimana ide itu bisa datang? Dengan mengasosiasikan data-data yang Anda peroleh lewat mimpi, lamunan Anda, dan usaha sadar Anda. Botol air mineral terinspirasi dari mimpi tentang berita kriminalitas dan lamunan tentang kasus kriminalitas penjualan air minum palsu. Goncangan yang membuat air mineral muncrat terinspirasi dari mimpi tentang darah dan lamunan tentang darah yang muncrat saat terjadi kecelakaan. Mimpi sedotan memberikan inspirasi agar botol mineral dibiarkan terbuka tanpa tutup supaya waktu tergoncang airnya tumpah.

Jadi, asosiasinya seperti ini:

Berita kriminalitas: penjualan air minum palsu: botol air mineral

Darah: air minum palsu: botol air minum: muncratan darah ketika kecelakaan

Sedotan: botal: tutup botol, botol kaca: sampah

Akhirnya, dengan pikiran sadar Anda, Anda dapat merangkai itu menjadi ide kreatif seperti di atas.

Nah, kira-kira, seperti itulah contoh bagaimana asosiasi bebas menjadi sumber kreativitas.

Menajkubkan, bukan?!

Yup! memang menakjubkan kekuatan pikiran bawah sadar kita. memang menakjubkan cara kerja otak kita. Dari hal-hal kecil yang tampaknya sepele, kita bisa merangkai banyak ide kreatif. Tak heran jika Thomas Alva Edison memperoleh baaaaaanyak sekali ide dari kebiasaannya melakukan tidur hipnagogis.

Sekarang, giliran Anda mempraktikkan teknik itu untuk kepentingan Anda sendiri.

Bagaimana caranya? Yuk, langsung simak di bawah ini.

Menghasilkan Banyak Ide Kreatif dengan Tidur seperti Thomas Edison

Bagaimana Thomas Edison melakukan teknik hypnagogic nap untuk memperoleh ide-ide kreatif?

Dalam situs theartofmanliness, dijelaskan bahwa Thomas Alva Edison melakukan teknik itu dengan tidur dalam posisi duduk di kursi. Kedua tangannya ditopang oleh penopang. Salah satu tangannya memegang koin. Tepat di bawah kursi bagian kanan ditaruh sebuah piring.

Nah, ketika ia tertidur, badannya menjadi rileks. Koin terlepas dari pegangannya, dan terjatuh mengenai piring di bawahnya. Dan, klang! Benturan koin dan piring membuat bunyi yang keras.

Akhirnya, Edison terbangun dengan ingatan yang masih segar tentang semua hal yang ada di otaknya ketika tertidur dan saat terbangun. Dengan begitu, ia catat semua hal itu ke dalam buku catatan. Selanjutnya, ia mengolah semua data yang diperolehnya ketika tidur (mimpi, penampakan, sensasi saat tidur, pikiran yang terbersit saat terbangun) menjadi ide yang kreatif.

Lalu, bagaimana Anda mempraktikkannya? Ikuti langkah berikut ini.

ide kreatif

1. Siapkan benda-benda yang dibutukan

Siapkan terlebih dulu benda-benda yang diperlukan. Apa saja benda yang dibutuhkan?

Koin/kelereng

Piring

Kertas

Pulpen

Kursi

2. Kumpulkan data yang berkaitan dengan masalah yang ingin Anda pecahkan

Sebelum tidur, pikirkan dulu bagaimana memecahkan masalah itu. Cari sebisa mungkin solusinya. Kumpulkan semua data yang berhubungan dengan masalah itu.

Mengapa harus begitu? Supaya asosiasi yang terjadi di dalam pikiran bawah sadar Anda nantinya berkaitan dengan masalah tu. Jika tidak, asosiasi yang dihasilkan tak ada hubungannya dengan masalah Anda. dan, apabila asosiasinya tak berhubungan dengan masalah Anda,  maka Anda tetap kesulitan merangkainya menjadi ide kreatif.

Sehubungan dengan ini, Poincare (matematikawan yang juga mempraktikkan teknik ini) menjelaskan:

Sudden inspirations…never happen, except after some days of voluntary effort which has appeared absolutely fruitless and whence nothing good seems to have come, where the way taken seems totally astray. These efforts then have not been as sterile as one thinks; They have set agoing the unconscious machine and without them it would not have moved and would have produce nothing.”

Solusi tak mungkin muncul kecuali setelah Anda memikirkannya berkali-kali, bahkan berhari-hari. Aetelah pikiran buntu, Anda mengira semua cara yang Anda tempuh memang tak bisa menghasilkan apa-apa. Tetapi, tidak! Cara-cara itu sebenarnya masuk ke dalam pikiran bawah sadar dan diolah di sana, dan menjadi solusi. Jadi, apabila sebelumnya Anda tidak memikirkan cara memecahkan masalah Anda, maka pikiran bawah sadar pun tak bisa menghasilkan apa-apa yang membantu Anda memecahkan masalah itu.

Jadi, sekali lagi, sebelum melakukan teknik hypnagogic nap, Anda harus memikirkan solusi masalah Anda dengan pikiran sadar Anda.

3. Duduk di kursi

Selanjutnya, apabila solusi tak kunjung datang, siapkan kursi. Duduklah dengan tenang di kursi itu.

Taruh piring di bawah kursi itu di sebelah kanan. Atur posisinya sedemikian sehingga jika nanti koin jatuh dari tangan Anda, lokasi jatuhnya tepat di tengah piring itu.

4. Pegang koin/kelereng

Sembari duduk, ambil koin atau kelereng dan pegang di antara telunjuk dan jempol Anda. buat posisi sedemikian sehingga di bawah pegangan tak ada benda apa pun (bagian tubuh Anda, misalnya) yang dapat dijadikan senderan/alas. Tujuannya, supaya ketika koin jatuh, ia langsung jatuh ke bawah tanpa ada yang menghalangi.

5. Tidur

Selanjutnya, tidurlah seperti biasa. Biarkan hingga Anda benar-benar jatuh tertidur. Saat Anda jatuh tertidur, tubuh Anda menjadi rileks. Pegangan Anda merenggang. Dan, koin dalam pegangan itu pun akhirnya terjatuh, mengenai piring di bawah kursi.

Klontang…ng..g!!!

Dan, Anda pun terbangun.

6. Tuliskan mimpi Anda

Setelah terbangun, segera catat semua yang ada dalam mimpi Anda, semua yang ada di otak Anda saat itu.

7. Rangkai mimpi itu menjadi ide kreatif

Terakhir, periksa catatan Anda. Apa saja data yang Anda peroleh? Coba hubungkan data-data itu dengan masalah yang ingin Anda pecahkan sebelumnya. Coba rangkai ide kreatif dari data-data itu. jika perlu, Anda dapat menambahkannya dengan ide Anda sendiri, dengan data-data yang Anda lihat, dengar, bayangkan, dan lamunkan.

Jadi, ide kreatif tidak datang secara instan, secara utuh, mak bedunduk begitu Anda bangun. Ide itu datang dalam bentuk teka-teki, masih abstrak, penuh misteri. Anda harus memecahkannya sendiri dengan pikiran sadar Anda. Hypnagogic nap hanya membantu Anda memperoleh data-data (mimpi, bayangan dalam otak) yang dapat menjadi petunjuk untuk memecahkan masalah Anda. Selanjutnya, Anda sendiri yang harus mengolah petunjuk itu menjadi ide kreatif.

Sehubungan dengan hal ini, Poincare mengatakan:

It never happens that the unconscious work gives us the result of a somewhat long calculation all made….all one may hope from these inspirations, fruits of unconscious work is a point of departure for such calculations.”

Kerja pikiran bawah sadar (asosiasi bebas) tidak memberikan hasil dari perhitungan yang panjang secara instan…apa yang bisa diharapkan dari asosiasi bebas adalah titik berangkat alias petunjuk-petunjuk.

Dalam penjelasan di atas, Poincare menggambarkan bagaimana hypnagogic nap membantunya menemukan rumus matematika tertentu. Tetapi, hypnagogic nap memberikan solusi bukan dalam bentuk rumus sekali jadi begitu saja, melainkan hanya memberikan data-data yang dapat digunakannya sebagai petunjuk membuat rumus/menemukan solusi. solusi/rumus tercipta dengan mengolah petunjuk-petunjuk itu dengan pikiran sadarnya, dengan berpikir seperti biasa.

Naaaaah, akhirnya, demikianlah bagaimana menghasilkan ide-ide kreatif dengan teknik hypnagogic nap. Yang perlu Anda ingat, meskipun namanya hypnagogic nap, tetapi tidak harus siang hari melakukannya. Anda dapat mempraktikkannya di malam, pagi, dan sore. Selain itu, Anda perlu melatihnya berulang kali. Mungkin, praktik pertama tidak membuahkan hasil. Begitu juga dengan praktk kedua, ketiga, keempat dan kelima. Tetapi, yakinlah Anda mampu. Thomas Alva Edison berhasil melakukannya. Einstein juga. Poincare, Salvador Dali, Beethoven, Richard Wagner, August Kekule… semmmmua menggunakan teknik yang sangat powerful ini. Dan, Anda saksikan hasil karya mereka yang FANTASTIS!

Jadi, jika mereka bisa, Anda pun juga pasti bisa!

Sumber:

Think, Fast and Slow, Daniel Kahneman

theartofmanliness.com

jeffwarren.org

scienceline.org

 Baca juga:

Bagaimana Mengingat Isi Bacaan dengan Mudah?

Membaca Sambil Mendengarkan Musik? Efektifkah?

Bagaimana Cara Mengatur Fokus dengan Efektif?

 

Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

This Post Has 7 Comments

Leave a Reply

Close Menu