Cara Mengatasi Stres dengan Mudah: Hindari Multitasking!

Shares

Benner-1.png

 

multitasking

Jaman sekarang jaman digital. Ke mana-mana, orang nenteng gadget. Di kereta, sambil desak-desakan, tak lupa nge-selfie. Di dalam mobil, nyetir sambil telponan. Mengobrol sambil main game. Di depan komputer, sambil dengerin musik!

Yup! Jaman digital adalah jaman multitasking. Teknologi memberikan kemudahan kepada kita untuk melakukan banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Kurang afdol rasanya saat meng-input data tanpa sesekali membuka email. Serasa ada yang kurang saat membuat laporan tanpa sesekali chatting di yahoo, atau FB.

Bukan hanya mengenai hal-hal sepele seperti di atas saja, dalam dunia kerja, multitasking memang tidak bisa dihindari. Apabila Anda bekerja sebagai staf administrasi, Anda pasti menjadi multitasker tulen!

Pertanyaannya, apakah multitasking efektif bagi kinerja Anda? Pernahkah Anda merasa bingung dan tidak fokus dalam bekerja dan karenanya kepala Anda sakit? Hmm, waspada! Bisa jadi itu dampak dari stres yang diakibatkan oleh kegiatan multitasking yang Anda lakukan.

Sejumlah penelitian menyimpulkan bahwa kegiatan multitasking membawa dampak negatif. Multitasking dapat mengurangi produktifitas. Multitasking juga dapat membuat kita stres.

Nah, ingin tahu bagaimana multitasking membuat kita stres? Yuk, kita simak penjelasan berikut.

Apa itu Multitasking?

Multitasking adalah melakukan dua atau lebih pekerjaan dalam waktu yang bersamaan. Sebagai contoh, mengetik di komputer sambil mengobrol, atau membalas SMS sambil mendengarkan musik dan makan.

Nah, karena semua aktifitas manusia dikendalikan oleh otak, maka demikian juga dengan aktifitas multitasking. Lalu, seperti apakah cara kerja otak saat melakukan aktifitas multitasking? Mau tahu? Simak penjelasan berikut.

Apa yang Terjadi?

Apakah yang terjadi di dalam otak Anda saat Anda melakukan kegiatan multitsaking? Menurut Jim Taylor, pakar psikologi dari Universitas San Francisco, ada tiga kemungkinan yang terjadi di dalam otak saat kita melakukan kegiatan multitasking.

1. Bagian otak yang digunakan untuk melakukan tugas pertama sama dengan bagian otak yang digunakan untuk melakukan tugas kedua.

Contoh kegiatan multitasking yang termasuk dalam kategori ini adalah membaca buku sambil mendengarkan lagu berlirik. Bagian otak yang digunakan untuk melakukan dua tugas itu (membaca buku dan mendengarkan lagu berlirik) sama. Akibatnya, seperti yang dijelaskan dalam situs thebrainbank.or.uk, bagian otak tersebut mengalami overload (beban) dan kebingungan.

Hal senada juga diungkapkan oleh Chris Woolston. Dalam artikel yang dimuat dalam situs consumerhealthy.com, mengutip Meyer, Woolstoon mengungkapkan, “Multitasking is especially futile if the different activities use the same part of the brain, Meyer says. For example, the brain only has one language channel. If a person tries to read while talking, one or both tasks will get short shrift.”

Kegiatan multitasking akan sia-sia khususnya jika tugas-tugas yang berbeda menggunakan bagian otak yang sama, kata Meyer. Sebagai contoh, otak hanya mempunyai satu saluran bahasa. Jika seseorang mencoba untuk membaca sambil berbicara, salah satu atau kedua tugas tersebut akan diabaikan.

2. Bagian otak yang digunakan untuk melakukan tugas pertama berbeda dengan bagian otak yang digunakan untuk melakukan tugas kedua.

Contoh kegiatan multitasking yang termasuk dalam kategori ini adalah membaca buku sambil mendengarkan musik instrumental. Tugas membaca buku dilakukan oleh bagian otak yang berbeda dengan bagian otak yang melakukan tugas mendengarkan musik (instrumental). Nah, karena itulah, kegiatan multitasking kategori ini tidak menimbulkan kebingungan otak.

3. Salah satu tugas merupakan tugas yang otomatis.

Contoh kegiatan multitasking yang termasuk dalam kategori ini yaitu membaca buku sambil mengunyah permen. Mengunyah permen merupakan kegiatan yang otomatis. Maksudnya, ia tidak membutuhkan fokus dan kesadaran, berbeda halnya dengan tugas membaca buku. Tugas membaca buku dilakukan oleh pikiran sadar. Bagian otak yang melakukan tugas ini membutuhkan fokus dan kosentrasi.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tugas melakukan kegiatan otomatis dilakukan oleh pikiran tidak sadar, sementara tugas melakukan kegiatan kognitif (berpikir, merasionalisasi, mengabstraksi, analisis) dilakukan oleh pikiran sadar. Dengan kata lain, kedua macam tugas tersebut dilakukan oleh bagian otak yang berbeda.

Karena dilakukan oleh bagian otak yang berbeda, kegiatan multitasking kategori ini tidak menimbulkan kebingungan dalam otak.

Nah, kita sudah mendapatkan tiga kategori kegiatan multitasking. Kategori kedua dan ketiga tidak menimbulkan kebingungan otak, sedangkan kategori pertama membuat otak mengalami kebingungan.

Mari kita singkirkan dua kategori, yaitu kategori kedua dan ketiga (jenis multitasking yang tidak menimbulkan kebingungan otak). Sekarang, kita berfokus pada kategori pertama. Multitasking kategori pertama inilah yang menimbulkan stres.

Ingin tahu bagaimana stres terjadi karena kegiatan multitasking jenis ini? Yuk, simak penjelasan berikut.

Terjadinya Stres karena Multitasking

Pada kegiatan multitasking kategori pertama, sebenarnya yang terjadi bukanlah multitasking, melainkan serial tasking (tugas yang berangkai). Hal ini dikarenakan, yang sebenarnya terjadi adalah bagian otak yang melakukan kegiatan multitasking tersebut tidak dapat melakuan dua atau lebih tugas dalam waktu yang bersamaaan. Alih-alih, bagian otak tersebut beranjak dari satu tugas ke tugas lainnya dengan sangat cepat. Begitu seterusnya hingga kegiatan multitasking itu selesai.

Sebagai contoh, dalam kegiatan membaca buku sambil mendengarkan lagu berlirik. Yang terjadi sebenarnya yaitu tugas mendengarkan lagu (berlirik) tidak serempak dengan tugas membaca buku. Otak tidak dapat melakukan dua tugas itu dalam waktu yang bersamaan. Alih-alih, otak beranjak dari membaca buku ke tugas mendengarkan musik, lalu beranjak lagi ke tugas membaca buku, lalu kembali lagi ke tugas mendengarkan musik. Begitu seterusnya.

Stres akan muncul manakala kita melakukan kegiatan serial tasking. Dalam artikel yang berjudul Multitasking and Stress, Mengutip Meyer, Chris Woolston menjelaskan:

The brain responds to impossible demands by pumping out adrenaline and other stress hormones that put a person ‘on edge.’ These hormones provide a quick burst of energy, but energy won’t make multitasking easier, he says. An old pickup can’t go 150 miles per hour no matter how much fuel you put in the tank or how hard you step on the gas.”

Otak merespons tugas yang tidak mungkin (tugas multitasking) dengan memompa adrenalin dan hormon stres lainnya yang membuat seseorang gelisah. Hormon-hormon itu menyediakan semburan energi, tetapi energi tidak lantas membuat multitasking menjadi mudah.

Nah, apabila stres terjadi terus menerus, lama kelamaan stres tersebut membahayakan. Masih mengutip Meyer, Woolston menjelaskan, “A steady flow of stress hormones can strain the body and threaten health.” Aliran hormon stres yang terus-menerus dapat menekan tubuh dan mengancam kesehatan.

Tidak mau, kan, terjangkit stres gara-gara melakukan kegiatan multitasking? Untuk itu, Anda harus menghentikannya sekarang juga. Anda juga dapat menerapkan cara-cara berikut untuk menghindari kegiatan multitasking yang membuat Anda stres.

1. Matikan saluran internet

Matikan saluran internet saat Anda sedang bekerja. Beri waktu khusus untuk berselancar di dunia maya. Sebagai contoh, 30 menit sebelum jam istirahat digunakan untuk membuka internet (membalas email, mengirim dokumen).

3. Perencanaan

Buat perencanaan atau jadwal mengenai apa saja yang akan Anda lakukan esok hari. Dengan perencanaan, Anda tahu apa yang harus Anda kerjakan. Nah, saat Anda tahu apa saja yang harus anda kerjakan, Anda dapat membagi waktu untuk tugas-tugas tersebut.

4. Bagi waktu

Bagilah waktu Anda di kantor untuk mengerjakan tugas yang berbeda. Misalnya, dua jam pertama digunakan untuk membuat laporan; Dua jam kedua digunakan untuk mengirim dukumen, fax, membalas email, menelepon, dan sebagainya. Agar manajemen waktu berhasil, Anda harus konsisten dengan jadwal yang Anda buat. Kesampingkan tugas lain saat Anda mengerjakan suatu tugas tertentu yang sesuai dengan jadwal yang sudah Anda buat.

5. Musik instrumental

Jika Anda suntuk dan ingin mendengarkan musik sembari bekerja, pilihlah musik instrumental. Jenis musik ini paling aman. Karena bagian otak yang digunakan untuk mendengarkan musik instrumental berbeda dengan bagian otak yang digunakan untuk bekerja, maka kegiatan multitasking ini (mendengarkan musik instrumental dan bekerja) tidak membuat Anda stres.

6. Meditasi

Meditasi melatih kita untuk terbiasa berkonsentrasi. Dengan meditasi, kita kebiasaan buruk multitasking dapat dikurangi. Nah, jika Anda awam dengan meditasi, Anda dapat mengunjungi pusat-pusat meditasi yang ada.

Memang tidak mudah menghindari multitasking di tempat kerja. Tugas yang tidak hanya satu macam saja menuntut kita untuk menyelesaikannya dalam waktu yang bersamaan. Demikian juga, terkadang tugas-tugas dadakan muncul, dan mengharuskan kita untuk segera menyelesaikannya. Tiba-tiba, bos meminta kita untuk segera menyelesaikan laporan, padahal kita masih meng-input data. Atau, telepon berdering dari orang yang sangat penting bagi perusahaan, memaksa kita untuk sejenak meninggalkan pekerjaan kita dan membalas telepon tersebut.

Agar tidak stres, lakukan tugas satu persatu. Saat Anda mengangkat telepon, tunda dulu pekerjaan lainnya. Fokuskan diri pada orang di seberang sana yang sedang berbicara dengan Anda. Hindari mengobrol yang tidak perlu saat bekerja, karena itu dapat membuat otak Anda bingung.

Selamat bekerja! Jangan lupa beri komentar.

Benner-1.png

 

About the Author Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

follow me on:
>