Dampak Negatif Mindset Perfeksionisme

Benner-1.png

 

Pernahkah Anda mendengar berita di TV tentang seorang siswa sekolah yang melakukan bunuh diri lantaran kecewa dengan prestasinya sendiri? Ia kecewa karena nilai yang ia raih tidak setinggi yang diharapkannya. Ia malu karena menanggap dirinya telah gagal. Dan, oleh karena itulah ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Karena, ia menganggap dirinya tidak berharga dan tidak berguna.

Nah, tahukah Anda mengapa dia sebegitu malu dan frustasinya saat mendapati prestasinya mengecewakan? Karena ia terlalu perfeksionis.

Orang yang perfeksionis memandang bahwa kegagalan merupakan hal yang tidak dapat ditolerir. Baginya, tidak ada kata gagal di dalam kamusnya. Kegagalan dipandang sebagai aib yang tidak dapat diperbaiki. Memperbaiki kegagalan sama artinya membuat hasil yang dicapai tidak sepenuhnya sempurna. Itulah anggapan orang yang perfeksionis mengenai kegagalan. Sekali sebuah cermin pecah, maka ia tidak akan lagi pulih seperti semula.

Anggapan tentang kegagalan seperti di atas menjerumuskan sang perfeksionis pada keputusasaan, terutama saat ia tidak mampu meraih kesempurnaan yang didambakannya.

Hal ini bukan berarti kesempurnaan mengandung dampak yang destruktif terhadap perkembangan diri kita, dan oleh karenanya harus dihindari. Sebaliknya, kesempurnaan sangat diperlukan demi perkembangan diri kita, demi peningkatan produktivitas kita, bahkan demi kemajuan peradaban umat manusia.

Peradaban umat manusia tidak akan semaju sekarang jikalau manusianya tidak menetapkan kesempurnaan sebagai standar kesuksesan dan sebagai tujuan. Kesempurnaan mendorong umat manusia untuk terus-menerus berjuang.

Lantas, mengapa kesempurnaan berbahaya bagi orang yang perfeksionis? Kesempurnaan menjadi bahaya manakala kita terobsesi terhadapnya. Seseorang disebut perfeksionis manakala ia terlalu terobsesi terhadap kesempurnaan, di mana obsesi itu justru menghambat produktivitasnya. Ini dikarenakan, ia menetapkan standar kesempurnaan yang tidak realistis. Standar kesempurnaannya terlalu tinggi, tidak diimbangi dengan kemampuan yang memadai.

Sebagai contoh, obsesi terhadap kesempurnaan di dunia kerja. Obsesi ini tidaklah relevan. Mengapa? Karena waktu untuk mengerjakan tugas-tugas kita di kantor terbatas. Kita tidak dapat menghabiskan waktu hanya untuk memperbaiki hasil kerja kita hingga benar-benar sempurna. Dunia tidak dapat menunggu kita untuk menyempurnakan tugas-tugas kita. Waktu terus berjalan, dan tugas kita di kantor pun bergulir silih berganti. Satu tugas selesai, tugas yang lain sudah menunggu. Begitu seterusnya.

Jadi, jika kita menghabiskan waktu hanya untuk menyempurnakan satu tugas, kita akan ketinggalan. Tugas yang lain akan terbengkalai. Dan, selanjutnya…huuuuh, sanggupkah Anda membayangkan apa yang bakal terjadi selanjutnya?

Bahkan, menurut para pakar psikologi, perfeksionisme bukan hanya membawa dampak negatif seperti yang tersebut di atas, yakni kurang efisien waktu. Lebih dari itu, banyak sekali dampak negatif perfeksionisme terhadap produktivitas kerja.

Apa sajakah dampak tersebut? Nah, berikut ini penulis jabarkan beberapa di antaranya. Semoga, penjabaran mengenai dampak negatif perfeksionisme ini dapat membuka mata Anda untuk lebih berhati-hati terhadap obsesi atas kesempurnaan. Jangan sampai obsesi itu mengurangi produktivitas Anda.

Nah, sekarang, mari kita mulai dengan dampak yang pertama, yaitu kita menjadi kurang efisien waktu.

Kurang Efisien

Sebagaimana telah penulis sebutkan sebelumnya, perfeksionisme membuat kita kurang efisien waktu. Kita menghabiskan banyak waktu hanya untuk menyempurnakan satu tugas. Padahal, tugas yang lain telah menunggu untuk segera dikerjakan.

Meneliti dan mengoreksi hasil kerja merupakan suatu kewajiban. Tetapi, bagi orang yang perfeksionis, hal ini menjadi berlebihan. Mereka terus-menerus mengoreksi hasil kerja yang sebenarnya sudah sempurna sesuai dengan standar yang diharapkan oleh perusahaan. Mengapa mereka masih mengoreksi hasil kerja yang sudah sesuai standar perusahaan? Apakah mereka terlalu rajin? Bukan, tetapi karena, menurut mereka, hasil kerja mereka belumlah sempurna.

Kurang Efektif

Selain membuat kita kurang efisien waktu, perfeksionisme juga membuat kita kurang efektif. Mengapa? Secara tidak sadar, orang yang perfeksionis menganggap bahwa detail yang remeh temeh merupakan hal yang penting, yang mendukung kesempurnaan hasil kerjanya. Untuk itu, mereka mencurahkan banyak perhatian pada detail. Nah, karena terlalu berfokus pada detail, yang sebenarnya tidak penting itulah, orang yang perfeksionis justru mengabaikan hal yang jauh lebih penting.

Sebagai contoh, saat mempresentasikan hasil kerjanya, seorang yang perfeksionis akan menjabarkan hal-hal remeh temeh yang sejatinya tidak penting. Mereka mengira bahwa hal-hal itu perlu diungkap sedemikian sehingga presentasinya dinilai sempurna. Apa akibatnya? Akibatnya, ia kehabisan waktu untuk mengungkapkan hal-hal yang jauh lebih penting.

Menunda-nunda Pekerjaan

Mungkin Anda akan bertanya, “Bagaimana bisa perfeksionisme membuat orang menunda-nunda pekerjaannya? Bukankah justru sebaliknya, perfeksionisme membuat orang terlalu rajin mengerjakan tugas-tugasnya?”

Yach, menurut para pakar psikologi, seperti itulah kenyataannya, perfeksionisme membuat si perfeksionis selalu menunda-nunda mengerjakan tugasnya. Mengapa? Penjelasannya, obsesi terhadap kesempurnaan membuatnya berpandangan bahwa setiap tugas yang hendak dikerjakannya mengandung kompleksitas yang tinggi, yang oleh karenanya harus dikerjakan dengan penuh kehati-hatian.

Dan, karena membayangkan tugas-tugas yang hendak dikerjakannya mengandung kompleksitas tinggi, secara psikologis, ia terintimidasi oleh  bayangan itu.

Nah, seperti yang pernah penulis jelaskan pada artikel yang berjudul Cara Memotivasi Diri Ini Mungin Tidak Pernah Anda Bayangkan Sebelumnya, anggapan (kita) mengenai suatu tugas turut memengaruhi mood kita untuk mengerjakannya. Jika kita beranggapan bahwa tugas yang hendak kita kerjakan memiliki tingkat kompleksitas dan kesulitan yang tinggi, maka secara tidak sadar, kita pun malas untuk mengerjakannya. Ini dikarenakan, kita merasa terintimidasi oleh tugas itu. Sebaliknya, jika kita beranggapan bahwa tugas yang hendak kita kerjakan sangat simple dan mudah, maka kita pun termotivasi untuk segera mengerjakannya.

Depresi dan Stres

Seperti yang telah penulis sebutkan sebelumnya, orang yang perfeksionis menganggap kegagalan sebagai aib yang tidak akan hilang sekalipun diperbaiki.

Anggapan ini membuatnya frustasi manakala ia menemui kegagalan. Nah, dalam kasus siswa yang bunuh diri lantaran prestasinya mengecewakan, ia memutuskan bunuh diri lantaran tertekan/stres oleh kegagalan yang dialaminya. Ia tidak dapat menerima kegagalan itu, karena menurutnya, sekalipun ia memperbaiki kegagalannya, ia tidak akan mencapai hasil yang sepenuhnya sempurna. Kegagalan membuat kesempurnaan yang diraihnya tidak penuh, ibarat mesin yang rusak, yang tidak akan pulih seperti semula setelah diperbaiki.

Lupa terhadap Tujuan

Perfeksionisme juga membuat kita lupa terhadap tujuan semula. Hal ini dikarenakan, kita terlalu berfokus pada detail. Padahal, belum tentu detail tersebut penting.

Sebagai contoh, andaikanlah Anda seorang yang perfeksionis. Bayangkan Anda sedang menyusun sebuah draft outline untuk edisi terbaru majalah Anda.

Sebenarnya, draft itu sudah selesai. Tetapi, Anda sibuk memperbaiki lay out tulisannya. Anda bingung memutuskan menggunakan font yang mana untuk draft tersebut.

Nah, karena terlalu sibuk memilih font yang tepat, Anda pun lupa bahwa model tulisan (font) bukanlah tujuan utama draft itu ditulis. Anda lupa bahwa hal yang paaaaaling penting dalam draft tersebut yaitu substansi laporan.

Demikianlah beberapa dampak negatif perfeksionisme yang dapat penulis jelaskan kepada Anda.

Sekarang, setelah mengetahui dampak negatif perfeksionisme, apa yang akan Anda lakukan untuk menghindari mindset yang merusak ini? Kunci untuk menghindari perfeksionisme yaitu menentukan standar kesempurnaan serealistis mungkin, sesuai dengan kemampuan Anda.

Setujukah Anda? yuk, jangan lupa untuk memberikan komentar.

.Benner-1.png

 

Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

Leave a Reply

Close Menu