Kapan Anda Harus Berhenti Menyandarkan Hidup pada Minat Anda?

Si A merupakan seorang musisi, yang berkonsentrasi hanya pada satu genre musik tertentu. Kecintaannya terhadap musik mendorongnya mendedikasikan diri pada dunia itu. Dan, karena kecintaannya itu, ia pun dapat terjun ke dunia musik dengan mudah.

Namun demikian, sayang sekali, di dalam industri musik, genre musik yang ia cintai, yang selama ini ia berkonsentrasi padanya, bukanlah genre musik yang disukai oleh pasar. Sang produser, yang memproduksi musiknya memintanya untuk membuat lagu-lagu dari genre lain, yang lebih laku di pasaran.

Menanggapi permintaan sang produser, tentu saja, si A tidak dapat berkata apa-apa selain kesanggupan. Bagaimana tidak? Menjadi musisi merupakan satu-satunya matapencaharian yang ia miliki. Jika ia menolak permintaan sang produsen, maka ia tidak akan bisa menghasilkan uang dari matapencahariannya.

Akhirnya, ia pun mengesampingkan genre musik yang disukainya dan beralih ke genre musik selera pasar.

Dengan keadaan itu, apakah ia menikmati menjadi musisi? Sayang sekali, ia tidak dapat menikmatinya. Dalam hati, ia selalu menyumpahserapahi dirinya sendiri ketika harus menciptakan lagu-lagu yang sesuai dengan selera pasar.

Ilustrasi di atas menggambarkan betapa terkadang menjadikan minat/passion kita sebagai matapencaharian/sandaran hidup merupakan pilihan yang kurang tepat.

Banyak sekali di antara kita yang menyandarkan hidupnya pada minat, seperti menjadi graphic designer, musisi, atau penulis novel harus berakhir menyerah pada selera pasar. Kendati bekerja di bidang yang sesuai dengan minat mereka, tokh mereka masih gemar menyumpahserapahi diri sendiri dan orang lain karena apa yang ia kerjakan tidak sesuai dengan apa yang menjadi kecintaannya.

Pada ujungnya, bekerja di ranah yang dicintai (sesuai minat) tidak mampu membuatnya ikhlas dan bahagia dalam bekerja, tetapi justru membuatnya tersiksa dan merasa terjebak.

Selain kondisi di atas, ada juga yang mengalami kondisi di mana, ia menyandarkan hidupnya pada minat/passion-nya. Tetapi, sayang sekali, pekerjaan di bidang passion itu tidak banyak dibutuhkan dan menghasilkan pendapatan yang tidak mencukupi. Contoh yang mudah dapat kita temukan pada para atlet dan pelukis.

Dua kondisi di atas (menyumpahserapahi diri sendiri karena harus bekerja sesuai selera pasar dan tidak mendapatkan pemasukan yang mencukupi) merupakan pertanda bahwa kita perlu berhenti sejenak, memikirkan kembali apakah keputusan kita untuk bekerja sesuai dengan minat/passion kita merupakan keputusan yang tepat atau tidak. Jangan-jangan, dua hal di atas mengindikasikan bahwa kita perlu berhenti mengejar minat kita, dan beralih pada pekerjaan lainnya, sekalipun pekerjaan itu tidak kita minati. Mengapa? Karena kebutuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup jauh lebih mendesak daripada kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri.

Ini sesuai dengan apa yang dijelaskan oleh Abraham Maslow mengenai hierarki kebutuhan dasar manusia. Dalam teorinya, Maslow menyatakan bahwa saat kebutuhan fisiologis belum terpenuhi, maka manusia harus terlebih dulu memenuhi kebutuhan itu dan mengesampingkan kebutuhan-kebutuhan pada level yang lebih tinggi, seperti kebutuhan keamanan, kasih sayang, penghargaan diri, dan kebutuhan aktualisasi diri.

Bagaimana jika manusia memaksakan diri untuk mengejar kebutuhan aktualisasi diri dan mengesampingkan kebutuhan fisiologis? Apa yang bakal terjadi yaitu, ia tidak akan dapat bertahan/survive.

Nah, jika mengejar passion/minat dipahami sebagai salah satu kebutuhan aktualisasi diri, maka kebutuhan itu bisa dikesampingkan terlebih dulu untuk memenuhi kebutuhan yang jauh lebih mendesak, yakni kebutuhan fisiologis seperti kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Tetapi, terkadang, banyak juga orang yang dapat, dengan sukses, menyandarkan kehidupannya pada minat/passion-nya. Ada orang yang memiliki minat dalam bidang teknologi informasi dan sukses menjadikan minatnya sebagai sumber penghidupan. Ada yang memiliki minat wirausaha dan berhasil menjadikan minatnya sebagai sumber pencaharian.

Lantas, pertanyaannya, kapankah kita harus mengesampingkan minat (tidak menjadikan minat sebagai sandaran hidup) dan bekerja pada ranah yang lain?

Untuk mengetahuinya, mari simak kelanjutan artikel ini hingga selesai.

1. Ketika minat/passion tidak menjanjikan

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, banyak orang yang menyandarkan hidup pada minatnya terpaksa hidup dalam keadaan yang serba kekurangan.

Mengapa mereka hidup dalam keadaan seperti itu? Karena, bidang pekerjaan yang sesuai dengan minatnya tidak menjanjikan. Penghasilannya dari bekerja sesuai minatnya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ini disebabkan kebutuhan pasar pada bidang itu bukanlah kebutuhan yang prioritas dan mendesak.

Sebagai contoh, pekerjaan sebagai atlet atau pelukis. Bagaimana pun juga, agar seorang pelukis atau atlet memperoleh penghasilan dari minatnya, ia harus menjual lukisan atau menjadi juara dalam olahraga tertentu. Atau, jika tidak, menjadi pelatih dalam bidang seni rupa atau olahraga tertentu. Tetapi, masalahnya, kebutuhan orang terhadap lukisan dan bidang olahraga tertentu bukanlah kebutuhan pokok, yang harus dipenuhi. Itulah mengapa, pasar dalam kedua bidang itu sangatlah terbatas.

Nah, karena keterbatasan pasar inilah, maka penghasilan dari menjual tenaga untuk pasar tidak mencukupi.

Oleh karena itulah, apabila kita merasa bahwa minat kita tidak bisa mencukupi kebutuhan kita, tidak ada salahnya untuk merenung, berpikir apakah keputusan kita untuk bekerja di bidang yang kita minati itu tepat atau tidak. Jangan sampai kita terus menekuni minat itu walau pun kehidupan kita semakin hari semakin merosot.

Sekarang, apa ukuran hidup kita sudah tercukupi? Parameter bahwa hidup kita telah tercukupi yaitu kita memiliki penghasilan yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari seperti kebutuhan makan, sandang (termasuk busana dan perkakas kelontong), pendidikan anak, rumah yang layak, listrik, transportasi, dan kesehatan.

“Lho, kita, kan, masih bisa hidup tanpa busana yang bagus/baru, tanpa sabun mandi, shampo, detergen, dan transportasi? Yang penting, kan, kita masih bisa makan,” mungkin demikian menurut Anda. Tetapi, masalahnya bukan pada diri Anda sendiri, tetapi pada keluarga Anda. Sanggupkah Anda membiarkan anak Anda putus sekolah sejak dini lantaran penghasilan Anda yang kurang? Sanggupkah Anda melihatnya tumbuh dikucilkan masyarakat lantaran busana dan kebersihan diri yang minim?

Dalam kondisi seperti di atas, di mana Anda telah memiliki keluarga, mempertahankan minat Anda sebagai matapencaharian/sandaran hidup meskipun matapencaharian itu tidak menjanjikan merupakan tindakan yang egois. Anda hanya mementingkan kepuasan Anda dan mengesampingkan kebutuhan keluarga Anda.

Sering kita temui rumah tangga yang hancur lantaran sang suami memilih menekuni minatnya, sekalipun minat itu tidak menghasilkan pemasukan yang cukup. Ia tidak peduli terhadap kebutuhan anak dan istrinya; Yang ia pedulikan hanya melakukan apa yang disukainya.

2. Ketika mengikuti selera pasar terasa sangat memuakkan

Pada ilustrasi yang disampaikan di muka, digambarkan bagaimana seseorang kecewa terhadap pekerjaannya, sekali pun pekerjaan itu sesuai dengan minatnya.

Ia kecewa lantaran seleranya tidak sesuai dengan selera pasar, yang dengan demikian, ia terpaksa menanggalkan idealismenya dan menuruti kemauan pasar.

Kita sering menjumpai kasus seperti itu pada para pekerja seni (graphic designer, pelukis, musisi, dan penulis).

Sebagai contoh, meskipun menjadi seorang musisi merupakan impian si A, tetapi ternyata genre musik yang ia sukai tidak diminati oleh pasar. Dalam keadaan seperti itu, jika ia bersikeras berkutat pada genre musik yang ia gemari, tidak mengindahkan selera pasar, maka profesinya sebagai musisi tidak akan banyak menolongnya memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ia terpaksa harus menanggalkan idealismenya dan memenuhi selera pasar karena pasarlah yang menjadi sumber penghasilannya.

Atau, jika ia enggan/setengah hati menciptakan lagu pasaran (sesuai selera pasar), maka tidak ada salahnya jika ia berhenti menjadikan musisi sebagai sandaran hidup. Sebagai gantinya, ia dapat mencari pekerjaan lain. Mengapa demikian? Karena, dengan sikap seperti itu, tidak mungkin matapencaharian sebagai musisi bisa membuatnya bahagia. Apa yang terjadi jika ia tetap mempertahankan matapencahariannya dan menyerah pada selera pasar adalah ia justru kecewa, tersiksa, dan merasa terjebak. Ia merasa kecewa dan tersiksa lantaran harus menciptakan lagu-lagu yang tidak diminatinya. Jangan heran jika ia akan menyumpahserapahi setiap jengkal langkahnya sendiri: “Sial, gue musti bikin lagu ecek-ecek kek gini lagi!”

Nah, dari penjelasan di atas, setidaknya ada dua jalan yang dapat kita tempuh manakala selera pasar tidak sesuai dengan selera kita.

Pertama, kita masih bisa mempertahankan matapencaharian yang sesuai minat kita, tetapi kita tanggalkan idealisme kita. Dengan begitu, kita masih memiliki penghasilan dari memberdayakan minat kita.

Sejujurnya, kita masih bisa mengaktualisasikan diri sekalipun matapencaharian kita tidak sesuai dengan idealisme kita. Caranya yaitu, sembari menciptakan karya untuk dijual kepada pasar, kita bisa menciptakan karya-karya yang sesuai dengan idealisme kita, di mana karya-karya itu diperuntukkan bagi diri kita pribadi.

Atau, kedua, jika menanggalkan idealisme membuat kita tersiksa, membuat kita merasa tidak menjadi diri sendiri, maka tidak ada salahnya untuk berhenti menjadikan minat sebagai sumber pencaharian dan mencari bidang pekerjaan lain.

Dengan cara yang kedua, jadikan minat dan idealisme kita sebagai pekerjaan sampingan, bukan matapencaharian utama. Dengan begitu, kita masih bisa memperoleh pendapatan dari bidang lain dan memenuhi kebutuhan aktualisasi diri kita.

3. Membutuhkan waktu yang lama untuk menguasai bidang yang kita minati

Seringkali, kita jumpai orang yang terlambat menyadari bakat dan minatnya. Selama bertahun-tahun, mereka bekerja sekadarnya, tidak peduli apakah bidang yang mereka tekuni mereka minati atau tidak.

Dan, saat menyadari bahwa ada bidang lain yang lebih menarik, mereka pun lantas terpikir untuk berhenti bekerja dan mencoba menekuni bidang yang lebih menarik itu. tetapi, Masalahnya yaitu, untuk bekerja di bidang yang jauh lebih menarik itu dibutuhkan skill yang saat ini belum ia kuasai. Ia harus, terlebih dulu menguasi skill itu.

Nah, dihadapkan pada kondisi seperti di atas, kira-kira, apa yang Anda lakukan? Anda ingiiiin sekali menjadi musisi/penyanyi. Anda ingin mendedikasikan hidup Anda pada musik dan menyandarkan kehidupan Anda padanya. Sementara itu, sekarang, Anda bekerja sebagai penulis. Anda tidak mengenal sama sekali dunia musik dan tarik suara.

Kira-kira, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda akan berhenti menjadi penulis dan fokus untuk belajar musik? Apakah Anda akan mencoba peruntungan Anda dalam bidang musik dan meninggalkan pekerjaan lama Anda? Atau, apakah Anda akan mempertahankan pekerjaan lama Anda sembari belajar musik?

Bagi penulis pribadi, pilihan yang terakhir jauh lebih aman dibanding dua pilihan pertama. Pada pilihan pertama, kita meninggalkan pekerjaan lama kita. Itu artinya, tidak ada pemasukan sama sekali yang dapat kita peroleh.

Pada pilihan yang kedua, keputusan kita untuk meninggalkan pekerjaan lama dan mencoba peruntungan di bidang musik merupakan keputusan gambling/spekulatif. Keputusan yang didasarkan pada spekulasi/gembling seperti itu rentan kerugian/kemudharatan. Kita telah menyaksikan bagaimana seorang Norman Kamaru, yang menanggalkan profesinya sebagai polisi untuk menjadi penyanyi harus rela menelan kepahitan karena ternyata lagunya tidak cukup laku di pasaran.

Bagaimana jika tidak sanggup bekerja di bidang lain?

Setelah menyimak penjelasan di atas, cara yang bisa kita tempuh saat minat tidak bisa dijadikan sumber penghidupan yaitu berhenti menggantungkan penghidupan pada minat dan mencari pekerjaan lain. Pertanyaannya, bagaimana jika bekerja pada ranah lain menyiksa kita? Bagaimana kita bertahan melakukan apa yang tidak kita sukai?

Berhenti menyandarkan penghidupan pada minat bukan berarti harus beralih pada pekerjaan yang tidak kita sukai/benci. Kita masih bisa mencari pekerjaan lain, yang kita sukai. Dengan catatan, pekerjaan itu menjnjikan (paling tidak, banyak dibutuhkan sumber daya pada bidang itu, serta penghasilan yang didapat mampu mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari).

Di sini, ketertarikan kita tentu bukan terbatas pada satu bidang pekerjaan. Dahulu, waktu duduk di bangku SMA, penulis sangat benci pelajaran akuntansi. Tetapi, setelah mengenal akuntasi lebih dalam, muncul ketertarikan penulis dalam bidang itu.

Kita tidak pernah tahu apakah kita cinta terhadap pekerjaan tertentu hingga kita mencoba melakukannya.

selain hal di atas, apa yang perlu Anda perhatikan yaitu mencari pekerjaan yang sesuai dengan skill Anda. Untuk itu, tidak keliru nasihat yang menyarankan kita untuk membekali diri dengan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Tentunya, untuk memperkaya pengetahuan dan skill dibutuhkan waktu yang lama. Kita harus bersabar berlatih.

Rina Ulwia
 

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

>