Manajemen Fokus: Rahasia Memecahkan Masalah

Manajemen Fokus: Rahasia Memecahkan Masalah

Apa yang Anda lakukan ketika menjumpai masalah?

Pastinya, Anda berpikir bagaimana memecahkannya, bukan?

Dalam memecahkan masalah, Anda mengamati sekitar, mengingat-ingat informasi yang barangkali berguna untuk memecahkan masalah itu. Singkatnya, Anda mengumpulkan hal-hal yang relevan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.

Tetapi, bagaimana agar informasi yang terkumpul itu relevan dengan masalah Anda?

Jawabannya, fokus Anda harus tepat sasaran. Jika fokus Anda tidak tepat sasaran, maka bisa dipastikan informasi yang terkumpul tidak ada gunanya.

Ini artinya, Anda perlu mengatur fokus sedemikian sehingga sesuai dengan tujuan Anda (memecahkan sebuah masalah).

Yup! Mengatur fokus! Anda perlu mengatur fokus Anda dengan tepat, yakni sesuai denga tujuan Anda. Dengan begitu, Anda mampu mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan masalah Anda dan mengesampingkan informasi yang tidak berhubungan dengannya. Baru, setelah itu, Anda mampu menemukan solusi permasalahan Anda bermodalkan informasi-informasi itu.

Inilah yang seringkali luput dari perhatian kita. Saat berbicara tentang fokus, apa yang sering kita bahas adalah cara agar kita betah berlama-lama berkonsentrasi pada satu aktivitas. Sementara itu, kita melupakan bagaimana cara mengatur fokus. Kita lupa pada manajemen fokus. Padahal, kesuksesan kita dalam memecahkan masalah bergantung pada bagaimana kita mengatur fokus kita. Fokus yang keliru akan mengakibatkan kebingungan dan semakin menjauhkan kita dari solusi.

“Ah, masa, sih?” mungkin demikian sanggah Anda, tidak percaya. Anda masih ragu bagaimana bisa fokus membantu memecahkan masalah.

Baiklah jika begitu. Agar Anda semakin yakin peran manajemen fokus dalam memecahkan masalah, mari simak penjelasan berikut.

Bagaimana Manajemen Fokus Memengaruhi Kemampuan Memecahkan Masalah?

Untuk mengetahui bagaimana manajemen fokus memengaruhi kemampuan problem solving, simak ilustrasi berikut.

Kemarin, penulis pergi bersama seorang teman. Sebut saja namanya A. Kami berdua pergi dengan sepeda motor. Penulis membawa sepeda motor penulis sendiri, begitu juga teman penulis. Kami masing-masing membawa sepeda motor.

Singkat cerita, sebelum meluncur ke tempat tujuan, kami mampir dulu ke SPBU untuk mengisi bahan bakar.  

Di SPBU, ada 3 mesin yang melayani penjualan bahan bakar untuk sepeda motor. Beberapa mesin yang lain melayani mobil dan truk.

Saat memasuki area SPBU, penulis langsung menuju antrian yang tampak paling pendek dibanding antrian lain, sedangkan A memperlambat laju sepeda motornya untuk membandingkan di antara 3 antrian yang paling pendek. Setelah beberapa saat, dia memutuskan untuk memilih antrian ke-2.

Pilihan itu rupanya tepat. Karena, antrian ke-2 lah yang terpendek.

Sementara itu, antrian yang penulis pilih adalah antrian pertama. Tidak sesuai dengan  perkiraan penulis, ternyata antrian itu adalah yang terpanjang.

Ilustrasi di atas menggambarkan keberhasilan A dan kegagalan penulis menentukan antrian terpendek.

Tahukah Anda apa yang membuat si A berhasil menentukan antrian terpendek?

Jawabannya, tidak lain dan tidak bukan adalah fokusnya yang tepat sasaran! Ia meluaskan pandangannya (bergeser dari fokus sempit ke fokus luas) untuk melihat semua mesin pengisian. Dengan begitu, ia mampu melihat dengan jelas mana di antara ketiga mesin pengisian itu yang antriannya paling pendek.

Sebaliknya, kegagalan penulis dalam memilih antrian dikarenakan fokus penulis yang tidak tepat. Penulis menggunakan fokus sempit sehingga hanya mampu melihat mesin pengisian yang paling dekat dengan kendaraan penulis.

Nah, dari ilustrasi itu, Anda paham, bukan, bagaimana manajemen fokus memengaruhi kemampuan memecahkan masalah?

Atau, barangkali, Anda maaaaasih saja ragu?

Baiklah jika begitu, perhatikan bagaimana perilaku remaja dan anak muda di jaman sekarang. Beberapa waktu yang lalu, heboh berita tentang anak muda yang dengan bangga menyebarluaskan video pembantaian kucing yang dilakukannya di media Youtube. Di tempat lain, ada sepasang kekasih yang masih duduk di bangu sekolah membantai temannya karena urusan cinta.

Penyimpangan-penyimpangan perilaku para pemuda di atas tidak lain akibat dari disorientasi alias bingung terhadap tujuannya sendiri.

Tetapi, mengapa mereka terjangkit disorientasi? Karena, fokus mereka keliru. Fokus mereka bukan tertuju pada tujuan mereka sebagai siswa, melainkan tertuju pada masalah lain. Lebih dari itu, mereka bahkan tidak mengetahui atau lupa dengan tujuan mereka. Hal ini disebabkan oleh pendidikan yang diterimanya dari lingkungan, terutama pendidikan yang diajarkan dari TV.

Kita semua tahu bagaimana hari ini televisi mendidik anak-anak kita. Lewat sinetron yang isinya hanya bullying, rebutan harta, dan pacaran, mental anak-anak kita rusak. Tontonan seperti itu mengalihkan perhatian anak dari apa yang penting terhadap apa yang sepele dan tidak penting. Awalnya, anak fokus pada pendidikan. Tetapi, karena pengaruh sinetron, fokus mereka beralih pada urusan asmara dan mencari popularitas.

“One could argue that the crises and general malaise we’ve experienced in the West during the past thirty years is, at its core, a crisis of attention. We’re either paying attention to the wrong problems or too distracted by the next “controversy” to solve the issues at hand.”

Bratt & Kate McKay

Benarlah apa yang diungkapkan pasangan Bratt & Kate McKay dari tehartofmanliness.com di atas. Terkadang, krisis dan depresi bukan disebabkan oleh masalah yang ada, melainkan disebabkan oleh krisis fokus/perhatian. Kita lebih fokus pada masalah-masalah sepele dibanding pada masalah yang penting. Contoh mudah, kita lebih mudah tersulut oleh masalah SARA dibanding memikirkan masalah pendidikan, kesuksesan usaha, dan pengentasan kemiskinan. Demikian pula, anak muda kita lebih mudah tersulut masalah asmara dibanding masalah pendidikan. Nah, karena fokus yang tidak tepat sasaran inilah, masalah mereka bertambah semakin rumit.

Begitu vitalnya fokus dalam problem solving dapat pula kita saksikan dalam kesaksian saksi mata atas kasus kriminalitas.

Tidak jarang, kesaksian seorang saksi mata dalam kasus kriminalitas tidak banyak membantu penyidikan polisi lantaran ketidaktepatan fokus. Saksi mata berfokus pada apa yang dilakukan penjahat ketika melakukan kejahatannya, dan bukan pada wajah atau baju yang dikenakan si penjahat. Padahal, yang dibutuhkan polisi utamanya adalah ciri-ciri pelaku (wajah dan baju yang dikenakan, misalnya).

Ketidaktepatan dalam mengarahkan fokus membuat kesaksian saksi mata kurang membantu aparat.

Sampai di sini, apakah Anda masih ragu? Masihkah Anda ragu bahwa untuk memecahkan masalah Anda harus mengatur fokus dengan tepat? Masihkah Anda ragu bahwa manajemen fokus berpengaruh besar pada kemampuan problem solving?

Tentunya, tidak, kan? Contoh-contoh di atas memberikan gambaran yang sangat jelas bagaimana manajemen fokus berperan besar dalam pemecahan masalah.

Sekarang, pertanyaannya, jika kemampuan problem solving bergantung pada bagaimana Anda mengatur fokus Anda, lantas bagaimana cara mengatur fokus Anda?

Untuk mengetahuinya, mari kita kupas dulu dua jenis fokus. Kesuksesan Anda dalam mengatur fokus bergantung pada pemahaman Anda tentang keduanya.

Tiga Kategori Fokus

Fokus dapat dikategorikan menjadi 3. Pertama, involuntary focus. Kedua, voluntary focus. Ketiga mind wandering alias melamun.

1. Involuntary Focus

Ketika tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan, secara spontan Anda menengok ke sumber suara. Atau, ketika tampak pemandangan aneh, secara spontan Anda memperhatikan pemandangan itu.

Tahukah Anda mengapa demikian? Mengapa suara dan pemandangan aneh itu menarik perhatian Anda?

Semua itu disebabkan involuntary focus (fokus yang tidak disengaja) Anda bekerja. Sebagaimana namanya, involuntary focus bekerja secara refleks alias tanpa disengaja. Munculnya stimulus (suara mengejutkan dan pemandangan aneh, misalnya) membuat involuntary focus Anda bereaksi. Dan, wujud reaksinya yaitu menoleh ke sumber suara secara refleks.

Jadi, involuntary focus atau fokus yang tidak disengaja adalah fokus yang terjadi berkat rangsangan luar, di mana munculnya fokus ini tidak kita sengaja. Sebaliknya, fokus ini terjadi secara otomatis ketika rangsangan muncul. Fokus ini dikendalikan oleh pikiran tak sadar kita.

manajemen fokus

Involuntary focus merupakan warisan nenek moyang kita. Pada manusia purba, involuntary focus berfungsi dalam membantu mereka mengenali musuh, bahaya, dan mangsa.

Sebagai contoh, saat ada musuh/predator (harimau, ular, angin kencang, misalnya), fokus mereka langsung tertuju pada sang musuh. dengan begitu, mereka mengetahui keberadaan musuh dan karenanya tahu ke mana harus berlari.

Saat bertemu mangsa, involuntary focus mereka juga bekerja. Ini artinya, perhatian mereka secara spontan tertuju pada mangsa. Dengan begitu, mereka mengetahui posisi mangsa dan menyerang mereka.

Nah, dalam kehidupan modern, involuntary focus bekerja saat bertemu rangsangan luar yang berupa suara-suara aneh, pemandangan aneh, peristiwa mengejutkan, ancaman, dan sesuatu yang baru.

Inilah mengapa, saat membuka internet, seringkali kita tidak dapat mengendalikan fokus kita. Kita tergoda untuk berselancar di dunia maya, dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dari satu situs ke situs lain.

Ini tidak lain disebabkan involuntary focus kita menangkap sinyal-sinyal adanya reward yang berupa informasi-informasi segar yang disajikan oleh situs-situs tersebut. Pada manusia purba, reward ini berupa mangsa; Pada manusia modern, reward ini berupa hal-hal yang menyenangkan, yang mengejutkan, dan hal-hal yang baru.

2. Voluntary Focus

Saat membaca buku, menulis, atau menjelaskan, kita menggunakan voluntary focus/fokus yang disengaja. Dengan sengaja, kita mengarahkan perhatian kita pada apa yang kita baca, tulis, atau jelaskan.

Nah, inilah mengapa, voluntary focus dinamakan demikian. Karena, fokus ini terjadi secara disengaja. Kehendak kita yang mengontrol fokus ini. Fokus ini tidak terjadi secara otomatis, melainkan secara sadar. Fokus ini dikendalikan oleh pikiran sadar kita, dan bukan oleh pikiran tak sadar kita.

Saat menjumpai rangsangan seperti musik, deru mesin kendaraan, bunyi hp, dan sebagainya, kita menggunakan voluntary focus untuk berkonsentrasi hanya pada satu stimulus dan mengesampingkan stimulus lainnya. Ini artinya, dengan sengaja, kita memusatkan perhatian pada satu hal (misal, buku) dan mengesampingkan musik, deru mesin kendaraan, dan bunyi hp.

Kemampuan Anda dalam mengatur voluntary focus sangat penting. Voluntary focus menyelamatkan Anda dari gangguan yang menguras involuntary focus Anda. Saat involuntary focus terus menerus bereaksi terhadap rangsangan luar (suara aneh, kejadian mengerikan, berita menarik), Anda dapat menundukkannya dengan mengaktifkan voluntary focus Anda.

Voluntary focus dibagi menjadi dua kategori, yaitu narrow focus dan broad focus. Anda perlu mengetahui dua kategori ini agar dapat mengatur fokus Anda, agar Anda tahu kapan harus menggunakan narrow focus dan kapan harus menggunakan broad focus.

a. Broad Focus

Suatu hari, Anda bertamasya ke pantai. Di pantai itu, Anda duduk di atas pasir sembari memandang ke lautan yang luas. Tampak segala keindahan alamnya: Burung-burung yang beterbangan, perahu yang merapat ke dermaga, dan ujung cerobong asap kapal di horizon.

Saat Anda menikmati seluruh pemandangan itu sebagai satu kesatuan, saat itulah Anda menggunakan broad focus. Broad focus/fokus luas adalah fokus di mana kita meluaskan pandangan kita; Broad focus adalah fokus di mana kita memandang berbagai detail dalam satu sistem yang tak terpisahkan.

Contoh lain penggunaan broad focus yaitu ketika mencari seseorang di tengah kerumunan. Apa yang Anda lakukan ketika mencari seseorang di tengah kerumunan? Anda meluaskan pandangan dan menyisir satu persatu individu dalam kerumunan itu, bukan? Nah, hal itu Anda lakukan dengan broad focus Anda.

Bagaimana dengan narrow focus? Narrow focus merupakan kebalikan dari broad focus. Berikut ini penjelasannya.

b. Narrow Focus

Suatu hari, Anda pergi ke pantai. Di sana, Anda duduk di atas pasir sambil menikmati pemandangannya yang indah. Burung-burung beterbangan, sunset, dan cerobong asap sebuah kapal di horizon.

Sesaat, pandangan Anda meluas sejauh mata memandang. Tetapi, tak lama kemudian, pandangan Anda tertuju pada satu hal, yakni cerobong asap itu. Anda amati terus cerobong asap itu hingga perlahan muncul bentuknya yang utuh: Sebuah kapal.

Nah, saat Anda memusatkan perhatian pada cerobong asap itu, Anda menggunakan narrow focus Anda.

Narrow focus alias fokus sempit adalah fokus di mana kita memperhatikan detail sebagai bagian yang berdiri sendiri dan terpisah dari detail lainnya.

3. Mind Wandering

Melamun sejatinya merupakan salah satu bentuk fokus. Seringkali, saat melamun, pikiran kita melayang-layang pada masalah yang sedang kita hadapi.

Nah, hal ini mengindikasikan bahwa aktivitas melamun bukanlah aktivitas yang sia-sia. Mengapa? Karena, kita memikirkan masalah kita. Melamun merupakan salah satu cara untuk mencari solusi atas masalah yang sedang kita hadapi.

Itulah mengapa, seringkali, masalah terpecahkan bukan saat kita berpikir, melainkan saat kita melamun. Untuk itu, sesekali, Anda perlu mengatur fokus Anda sedemikian sehingga berada dalam kondisi wandering alias melamun.

Demikian 3 kategori fokus sebagaimana dijelaskan para pakar. Dalam memecahkan masalah, Anda dapat mengatur fokus Anda dengan cara menggeser fokus Anda dari satu bentuk/kategori ke bentuk lainnya. Contohnya, Anda menggeser fokus Anda dari narrow focus ke broad focus untuk menentukan mesin pengisian BBM yang antriannya paling pendek sebagaimana yang dilakukan oleh si A. Atau, sebaliknya, Anda dapat menggeser fokus Anda dari broad focus ke narrow focus ketika mengamati masalah secara detail.

Dalam artikel berikutnya, penulis akan mengajak Anda untuk mengetahui cara mengatur fokus secara lebih mendalam.

Sumber: theartofmanliness.com

Baca juga:

Cara Menghilangkan Stres dengan Manajemen Fokus

Bagaimana Melatih Konsentrasi agar Bisa Fokus pada Satu Hal?

Kunci Sukses untuk Tetap Fokus

Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

This Post Has 2 Comments

Leave a Reply

Close Menu