mengambil keputusan

Satu Aspek yang Harus Anda Pertimbangkan sebelum Mengambil Keputusan

Shares

Anda sedang bingung mengambil keputusan?

Iya, nih. Saya bingung lanjut kerja di tempat orang atau bikin usaha sendiri. Pinginnya bikin usaha tapi masih ragu.”

Mengapa Anda ragu?

“Takut saja. Jangan-jangan itu keputusan yang tidak tepat buat saya.”

Memang, mengambil keputusan tidak semudah memilih antara makan tongseng atau sate. Anda perlu mempertimbangkan banyak hal. Jika tidak, bisa-bisa Anda menyesal nantinya.

Kita sering menyaksikan kejadian di mana orang ingin meninggalkan A demi mengejar B. Tetapi, setelah meraih B, ia kecewa karena ternyata ia tidak menyukai B. Kita sering melihat banyak orang yang meninggalkan tempat kerjanya demi bekerja di tempat lain. Tetapi, setelah diterima kerja di tempat lain, ternyata mereka merasa tidak cocok dan karenanya menyesal. Banyak yang ingin tinggal di kawasan terpencil karena mengira tempat terpencil tenang dari hiruk pikuk dunia. Tetapi, setelah tinggal di tempat seperti itu, mereka menyesal karena ternyata apa yang dibayangkan tidak sesuai kenyataan.

Untuk itulah, melihat kejadian di atas, kita perlu mempertimbangkan berbagai hal sebelum mengambil keputusan. Jika tidak, bisa-bisa kita menyesal dengan keputusan kita.

Lantas, apa saja yang harus dipertimbangkan dalam mengambil keputusan?

Tentu, baaaanyak sekali hal yang perlu dipertimbangkan. Dalam artikel ini, kita akan mengulas satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan sebelum mengambil keputusan menyangkut hidup Anda.

Apa itu?

Untuk mengetahuinya, yuk, simak penjelasan berikut ini.

Suka atau Sekadar Ingin?

Sebagaimana disampaikan sebelumnya, seringkali kita melihat banyak orang yang meninggalkan A demi mengejar B. Tetapi, setelah mendapatkan B, mereka kecewa karena ternyata mereka tidak menyukai B. Banyak orang meninggalkan kantor tempat mereka bekerja demi bekerja di tempat lain. Tetapi, setelah diterima di tempat lain, mereka menyesal karena ternyata tempat baru tidak sesuai dengan bayangan mereka.

Nah, dari kejadian di atas, apa yang dapat Anda simpulkan?

SERINGKALI, KITA DIBINGUNGKAN ANTARA APA YANG KITA SUKAI DENGAN APA YANG KITA INGINKAN!

Kita mengira apa yang kita inginkan sama dengan apa yang kita sukai. Padahal, belum tentu apa yang kita inginkan benar-benar kita sukai. Sebaliknya, belum tentu juga, apa yang tidak kita inginkan adalah apa yang tidak kita sukai. Terkadang, kita tidak menginginkan sesuatu. Tetapi, begitu mencobanya, kita sadar ternyata kita saaaangat menyukainya. Begitu juga sebaliknya, terkadang, kita saaaangat menginginkan sesuatu. Tetapi, begitu mencobanya, kita sadar ternyata kita saaaaaangat tidak menyukainya.

Lalu, apa sih sebenarnya perbedaan antara suka dan ingin?

Kita tahu kita suka sesuatu setelah kita mencoba dan merasakannya. Selama kita belum mengetahui rasanya, maka kita tidak bisa memutuskan apakah kita suka atau tidak suka. Contoh, menurut Anda, Anda suka tongseng. Tetapi, seumur hidup, Anda belum pernah merasakan tongseng. Itu artinya, perasaan yang Anda rasakan itu bukan ‘suka’, melainkan sekadar ‘ingin’.

Jadi, kita bisa bilang kita suka sesuatu hanya jika kita pernah merasakannya. Apabila kita belum pernah merasakannya, tetapi kita merasa suka pada hal itu, maka itu namanya sekadar ‘ingin’.

Akan tetapi, seringkali, kita tidak bisa membedakan keduanya. Walhasil, kita sering menyalahpahami keinginan sebagai rasa suka. Seringkali kita menyamakan apa yang kita inginkan dengan apa yang kita sukai.

Saat ditanya orang, misalnya, mengapa Anda memutuskan untuk keluar dari tempat kerja Anda sekarang, Anda menjawab, “Karena saya lebih suka membuka usaha sendiri.” Padahal, Anda belum pernah membuka usaha, belum pernah merasakan menjadi wirausahawan.

Dari mana Anda tahu Anda suka membuka usaha sendiri jika Anda belum pernah merasakan menjadi wirausahawan? Nah loh! Heheheh.

Sekarang, apa kira-kira dampak kesalahpahaman itu?

Dampaknya, bisa-bisa, keputusan yang Anda ambil keliru!

Anda bingung memilih bekerja di tempat orang atau membuka usaha. Tetapi, hati Anda lebih condong ke buka usaha. Anda mengira Anda suka menjadi wirausahawan. Oleh karena itu, Anda lebih condong dan lebih ingin membuka usaha sendiri daripada kerja di tempat orang lain.

Dan, karena perkiraan itu, Anda pun memutuskan untuk keluar dari tempat kerja dan memulai usaha. Tetapi, setelah menjalankan usaha, Anda baru sadar ternyata menjadi wirausahawan bukanlah passion Anda.

Jika sudah begitu, wassalam, deh! Heheheh.

Untuk itulah, sebelum mengambil keputusan, sebelum memilih antara berbagai pilihan, Anda perlu mempertimbangkan apakah Anda benar-benar suka atau sekadar ingin.

mengambil keputusan

Jadi, salah satu aspek yang perlu Anda pertimbangkan sebelum mengambil keputusan yaitu ASPEK KESUKAAN/KEGEMARAN. Sebelum mengambil keputusan, sebelum memilih antara banyak pilihan, selidiki lebih dulu apakah Anda suka dengan pilihan Anda atau sekadar ingin.

Pertanyaannya, mengapa kita sering menyalahpahami ‘rasa ingin’ sebagai ‘rasa suka’? Mengapa kita sering mengira kita menyukai sesuatu dan karenanya menginginkannya?

Untuk mengetahuinya, yuk, simak penjelasan berikut ini.

Mengapa Anda Mengira Anda Menyukai Sesuatu dan Karenanya Menginginkannya?

Sebagaimana dijelaskan di atas, ada satu sebab mengapa Anda menginginkan sesuatu yang Anda sendiri tidak tahu apakah Anda menyukainya atau tidak.

Apa itu?

Anda mengira Anda menyukainya. Oleh karena itu, Anda menginginkannya.

Tetapi, mengapa Anda mengira Anda menyukainya?

Berikut ini beberapa penyebabnya.

1. Kesan yang salah

Pernahkah Anda bertamasya ke suatu tempat yang indah, nyaman, tenang, dan menyenangkan?

Tentunya pernah, bukan?

Lantas, apa kesan Anda tentang tempat itu? Apa yang Anda rasakan setelah berkunjung ke tempat itu?

Penulis jamin, terbersit dalam benak Anda keinginan untuk tinggal di tempat itu.

Nah, tahukah Anda mengapa Anda ingin tinggal di tempat seperti itu? Karena, Anda mengira Anda menyukai tempat itu. Mengapa Anda mengira Anda menyukai tempat itu? Karena, kesan pertama Anda tentang tempat itu saaaaangat menyenangkan: Udaranya bersih dan sejuk; Lingkungannya bersih; Suasananya tenang; Orang-orangnya ramah.

Kesan pertama itu Anda jadikan sebagai patokan untuk menilai tempat tersebut.

Bagaimana jadinya jika kesan pertama (dan satu-satunya kesan) dijadikan sebagai patokan untuk menilai sesuatu?

Akibatnya, kemungkinan besar penilaian Anda keliru! Dn, itulah mengapa, Anda menyalahpahami rasa ingin sebagai rasa suka.

Anda ingin tinggal di tempat yang dekat dengan lokasi wisata yang pernah Anda kunjungi karena Anda mengira Anda menyukai tempat itu. Anda mengira Anda menyukai tempat itu karena kesan pertama Anda tentang tempat itu sangat menyenangkan.

2. Kontaminasi sosial

Seringkali, kita dibingungkan antara apa yang kita sukai dengan apa yang disukai masyarakat/lingkungan kita. Kita mengira kita menyukai pizza hanya karena orang lain menyukai makanan itu. Kita sering mengira kita suka menjadi wirausahawan hanya karena menurut orang-orang, menjadi wirausahawan sangatlah hebat.

Karena itu, kita sering terjerumus menginginkan sesuatu yang kita sendiri sebenarnya tidak tahu apakah kita menyukainya atau tidak. Kita mengira kita menyukai suatu hal hanya karena menurut orang lain hal itu baik atau menyenangkan.

Sekarang, setelah mengetahui beberapa penyebab mengapa Anda mengira menyukai sesuatu dan oleh karenanya menginginkannya, apa yang harus Anda lakukan agar terhindar dari kejadian/kesalahan seperti itu?

Untuk mengetahui jawabannya, yuk, langsung saja kita simak penjelasan berikut.

Mengambil Keputusan yang Tepat: Membedakan antara Kesukaan dan Keinginan, Pilih yang Anda Sukai

Jika sebelum mengambil keputusan kita perlu mempertimbangkan aspek kegemaran/kesukaan, itu artinya, kita harus memilih apa yang kita sukai, bukan sekadar kita inginkan.

Tetapi, pertanyaanya, bagaimana caranya agar kita tidak terjerumus menginginkan sesuatu yang tidak kita sukai?

Berikut ini beberapa cara yang dapat Anda tempuh agar tidak terjerumus menginginkan sesuatu yang tidak Anda sukai.

1. Berani berbeda dari orang lain

Sebagaimana dijelaskan di atas, salah satu sebab mengapa Anda mengira Anda menyukai sesuatu dan oleh karenanya menginginkannya yaitu Anda melihat orang lain/lingkungan Anda menyukainya. Rasa suka Anda didiktekan oleh lingkungan; ia tidak datang dari diri Anda sendiri. Oleh karena itu, Anda mengira menyukainya. Padahal, belum tentu diri Anda benar-benar menyukainya.

Untuk itu, Anda perlu berani berbeda dari orang lain. Inginkan sesuatu hanya karena Anda menyukainya, bukan karena orang lain menyukainya. Atau, inginkan sesuatu karena Anda menyukainya, bukan karena menurut orang lain sesuatu itu baik, bagus, dan menarik.

2. Mencoba sebelum mengambil keputusan

Sebelum mengambil keputusan, lakukan trial/percobaan. Sebagai contoh, Anda ingin resign dari tempat kerja dan memulai usaha sendiri. Nah, untuk menghindari penyesalan, lakukan masa percobaan. Cobalah untuk membuka usaha kecil-kecilan sambil Anda tetap bekerja di kantor lama Anda. Jika Anda menikmati dan menyukai kegiatan baru Anda (mengurus usaha Anda), maka Anda dapat memutuskan untuk resign dan memulai usaha.

3. Berkonsultasi sebelum mengambil keputusan

Sebelum mengambil keputusan, berkonsultasilah kepada orang lain.

Contoh, Anda ingin pindah tempat tinggal di tempat yang pelosok, dingin, dan jauh dari hiruk pikuk kota. Anda mengira Anda menyukai tempat seperti itu.

Nah, sebelum mengambil keputusan, konsultasikan terlebih dulu pada istri Anda. Tanyakan kepadanya bagaimana jika Anda sekeluarga pindah ke tempat seperti itu. Jangan-jangan, istri Anda menjawab, “Yakin mau tinggal di tempat pelosok? Ga bisa online semenit saja sudah galau!” Itu artinya, menurut istri Anda, Anda tidak suka tempat pelosok karena jaringan internetnya masih terbatas.

Terkadang, Anda perlu bertanya kepada orang lain, terutama istri Anda mengenai apa yang Anda sukai dan tidak sukai. Karena, seringkali, Anda sendiri tidak tahu dan tidak sadar apa yang Anda sukai dan tidak sukai. Terkadang, orang lain lebih paham.

4. Kumpulkan informasi

Sebelum mengambil keputusan, kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya. Mengapa? Dari informasi itu, Anda bisa memutuskan apakah Anda menyukai pilihan Anda atau tidak.

Contoh, Anda ingin tinggal di dekat lokasi wisata yang pernah Anda kunjungi karena menurut Anda suasananya tenang, udaranya bersih, dan nyaman.

Suasana yang tenang, udara yang bersih, dan kehidupan yang nyaman hanyalah sekelumit informasi. Anda tidak dapat mengambil keputusan hanya berdasarkan informasi yang sedikit itu. Anda perlu menggali informasi lebih lengkap mengenai tempat itu.

Mengambil keputusan memang bukan hal yang mudah, tak seperti memilih antara makan tongseng atau sate. Anda perlu mempertimbangkan banyak aspek, yang salah satunya adalah aspek kesukaan/kegemaran. Dan, ingat selalu, apa yang Anda inginkan belum tentu Anda sukai. Begitu juga sebaliknya, apa yang Anda sukai belum tentu Anda inginkan karena Anda tidak tahu bahwa Anda menyukainya. Pilihlah apa yang benar-benar Anda sukai, bukan sekadar Anda inginkan.

 

About the Author Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

follow me on:
>