Cara Cepat Mengendalikan Emosi di Kantor

Bagaimana cara mengendalikan emosi di kantor?

Ya, bagaimana? Ada yang tahu?

Heheheh. Rasa-rasanya, hari ini seperti hari keapesan Anda. Sejak pagi tagi, jalanan macet parah. Walhasil, Anda terlambat tiba di kantor. Sudah begitu, saat kegiatan kerja berlangsung, rekan divisi lain membuat Anda kesal. Bagaimana tidak? Laporan yang seharusnya sudah selesai, masih belum dikerjakannya. Akibatnya, kerjaan Anda pun ikut terbengkalai. Mengapa bisa begitu? Karena, tugas Anda adalah menindaklanjuti laporan itu. Belum lagi, atasan menghujani Anda dengan kritik pedas akibat keterlambatan Anda.

Ya, penulis paham apa yang Anda rasakan hari ini. Semua orang membuat Anda kesal. Semua meluapkan emosi kepada Anda. Dan, sebagai balasannya, Anda pun berontak, “Oke, memangnya yang bisa marah cuma kalian? Memangnya yang bisa bikin kesal cuma kalian?! Saya juga bisa!!”

Oops! Stop! Stop! Kendalikan emosi Anda sebelum semuanya terlambat! Yup! Karena, jika tidak, akbiatnya bisa fatal. Jika Anda meluapkan emosi kepada teman dan atasan Anda, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan berbalik menyerang Anda. Akibat jangka panjangnya, hubungan antara Anda dengan rekan divisi lain serta dengan atasan Anda bisa terganggu. Jika sudah begitu, tentu aktivitas kerja di kantor terhambat.mengendalikan emosi

Selain itu, kemarahan dan emosi juga memengaruhi keputusan Anda. Keputusan yang diambil di kala Anda marah dipertimbangkan bukan berdasarkan pikiran jernih, melainkan berdasarkan emosi sesaat. Bukan tidak mungkin, Anda akan menyesali keputusan yang seperti itu.

“Lalu, apakah itu artinya saya harus menahan emosi?”

“Bukankah lebih baik saya luapkan emosi kepada mereka yang bikin kesal? Biar mereka tahu apa kesalahan mereka.”

Mungkin, demikian tanya Anda. Ya, memang benar, adalah perlu untuk meluapkan emosi dan kemarahan kita. Jika tidak, jika kita menahan emosi itu, maka yang terjadi adalah emosi itu akan berubah menjadi penyakit.

Namun demikian, itu bukan berarti Anda harus meluapkan emosi kepada orang-orang yang membuat Anda kesal. Bukan berarti Anda meluapkan kemarahan di kantor. Kemarahan Anda di kantor hanya akan memperburuk keadaan.

Dalam artikel ini, penulis akan mengajak Anda untuk mengetahui satu cara dahsyat mengendalikan emosi di kantor. Dengan cara ini, Anda tidak butuh waktu yang lama untuk mengendalikan emosi Anda. Hanya dalam hitungan detik, dijamin emosi Anda akan mereda. Dengan begitu, Anda bisa menghadapi situasi di kantor Anda dengan kepala dingin; Anda bisa membuat keputusan berdasarkan pikiran logis Anda, bukan berdasarkan emosi semata.

Namun, sebelum beranjak ke cara itu, mari kita ulas sedikit tentang emosi dan pengendalian diri.

Kemarahan dan otak reptil

Tahukah Anda mengapa saat kecewa atau kesal Anda marah? Tahukah Anda mengapa Anda meluapkan kemarahan, memaki-maki, berteriak-teriak, bahkan membanting handphone saat kecewa atau kesal?

Jawabannya yaitu karena otak reptil mengambil alih kendali. Mulanya, sebelum Anda marah, otak Anda dikendalikan oleh otak neo cortex. Otak neo cortex adalah bagian otak yang berperan dalam berpikir, berrasionaliasasi, dan melakukan analisis.

Nah, saat Anda kesal, otak reptil menerjemahkan perasaan kesal itu sebagai pertanda adanya ancaman. Dan, karena hal itu, otak reptil mengambil alih dan merespons pihak yang membuat Anda kesal dengan kemarahan.

Kemarahan itu merupakan bentuk dari mekanisme fight or flight (menyerang atau berlari). Berhubung oleh otak reptil rasa kesal itu diartikan sebagai pertanda adanya ancaman, maka otak reptil merespons ancaman itu dengan menyerang (fight). Nah, bentuk serangannya bisa bermacam rupa seperti memaki, membentak, menggebrak meja, atau membanting handphone.

mengendalikan emosi

Dan, maka dari itu, saat Anda meluapkan amarah, Anda tidak dapat berpikir jernih. Keputusan yang Anda buat hanya berdasarkan emosi. Ini karena, otak neo cortex, yang berperan dalam berpikir logis tidak berfungsi. Fungsi diambil alih oleh otak reptil.

Yang menjadi pertanyaan, apakah benar rasa kesal itu memang merupakan pertanda adanya ancaman yang bakal menyerang Anda?

Dalam konteks Anda (di kantor), sebenarnya, kekesalan itu bukan merupakan pertanda adanya anacaman. Kekesalan itu muncul lantaran Anda kecewa dengan sikap orang lain terhadap Anda. Nah, kekecewaan ini tentu bukanlah merupakan ancaman.

Tetapi, oleh otak reptil, apa pun yang membuat Anda kecewa, apa pun yang membuat Anda berpikir negatif dianggap sebagai ancaman. Oleh karena itu, ia mengambil alih peran dan merespons faktor luar yang membuat Anda kecewa dengan serangan (fight). Dan, berhubung budaya tidak memungkinkan Anda menyerang secara fisik, otak reptil Anda pun menyerang secara lisan seperti memaki-maki, berteriak, membentak, dan menggebrak meja.

Mengapa Anda perlu meluapkan emosi Anda?

Sebagaimana penjelasan sebelumnya, bagian otak yang berperan dalam kemarahan Anda adalah otak reptil. Saat Anda kesal, otak reptil mengambil alih peran dan merespons faktor luar yang membuat Anda kesal dengan kemarahan (memaki, membanting, menyerang fisik, dst).

Sebenarnya, melampiaskan kemarahan merupakan tindakan yang sehat. Setidaknya, demikian kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Marcus Mund dan Kristin Mitte, dua pakar dari Universitas Jena. Dalam penelitan itu, keduanya mencapai kesimpulan bahwa saat amarah ditahan, denyut jantung meningkat. Hal itu membuat tekanan darah ikut meningkat.

Nah, jika setiap saat kita menahan amarah, maka lama-kelamaan hal itu berpotensi membuat kita terkena serangan jantung, gagal ginjal, bahkan kanker. Itulah mengapa, melampiaskan amarah merupakan tindakan yang diperlukan saat kita kesal dan kecewa.

Mengapa Anda perlu mengendalikan emosi Anda?

Namun demikian, dalam hubungan sosial di zaman modern, kemarahan tidak dapat dilampiaskan secara fisik. Kita tidak dapat melampiaskan kekesalan pada orang lain dengan memaki-maki, menyerang fisik, membentak, atau membanting pintu.

Mengapa demikian? Karena lingkungan sosial tidak menerima cara-cara brutal seperti itu. Pelampiasan fisik seperti itu membuat kita dianggap sebagai orang yang tidak memiliki etika dan sopan santun. Pelampiasan seperti itu membuat kita dicap sebagai orang “stres”.

Itulah mengapa kita perlu mengendalikan emosi.

Lantas, bagaimana cara mengendalikan emosi sedemikian sehingga tidak berpengaruh buruk pada kesehatan kita?

Penasaran? Pingin tahu aja atau pingin tahu banget? Hehehe, yuk, kita simak uraiannya berikut ini.

Cara cepat mengendalikan emosi di kantor

Sekalipun menahan amarah membuat kita tidak sehat, bukan berarti kita tidak dapat mengendalikan emosi dan amarah. Hal itu bukan berarti kita harus melampiaskan emosi kepada orang-orang yang membuat kita kesal.

Nah, salah satu cara sehat yang dapat Anda tempuh untuk mengendalikan emosi yaitu dengan mengatur napas.

“Hah, mengatur napas?? Ah, kuno…. ga mempan!” mungkin demikian bantah Anda.

Akan tetapi, cara ini sudah banyak terbukti. Bukan hanya emosi/amarah yang dapat dikendalikan dengan cara ini, kecemasan, stres, dan kepanikan juga dapat dikendalikan dengan cara ini.

Masih tidak percaya?

Suatu hari, penulis pernah mempraktikkan cara ini dan hasilnya fantastis!

Waktu itu, penulis sedang mengikuti sebuah acara diskusi. Dalam diskusi itu, peserta diberi kesempatan untuk bertanya.

Nah, agar tidak merasa rugi, penulis memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajukan pertanyaan pada pembicara. Akan tetapi, karena disaksikan banyak peserta, penulis merasa gugup.

Segera timbul rasa deg-degan luar biasa ketika terlintas niat untuk mengajukan pertanyaan. Segala pikiran negatif bercampur aduk membuat penulis cemas dan semakin gemetaran. “Bagaimana kalau pertanyaan saya konyol?”Bagaimana kalau ucapan saya terbata-bata? Kan memalukan?” demikian ketakutan penulis waktu itu.

Untungnya, penulis ingat salah satu cara untuk mengendalikan kecemasan. Segera, penulis menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan. Demikian berulang selama 3-4 kali. Walhasil, kecemasan lenyap dan penulis percaya diri untuk bertanya kepada si pembicara.

Dari saat itu, penulis takjub dengan khasiat olah napas!

Nah, setelah menyimak pengalaman penulis di atas, apakah Anda percaya olah napas dapat membantu Anda mengendalikan emosi?

Jika masih tidak percaya juga…. OMG! Heheheh.

Perlu Anda ketahui bahwa cara ini juga dipraktikkan oleh tim SWAT (agen kepolisian Amerika Serikat yang sangat terlatih yang ditugaskan untuk menggantikan polisi biasa menangani kasus kriminal besar).

Bayangkan! Olah napas dipraktikkan oleh tim SWAT untuk mengendalikan stres saat bertempur! Canggih, bukan?

Nah, sekarang, setelah tahu bahwa tim SWAT juga memanfaatkan olah napas, bagaimana komentar Anda? Masihkah Anda ragu?

Tentu tidak, bukan?

Sekarang, yuk, kita urai bagaimana cara mengendalikan emosi dengan mengatur napas.

Caranya yaitu:

mengendalikan emosi

Tarik napas lewat hidung. Hitung sampai 4 hingga perut mengembang.

Selanjutnya, tahan napas selama 4 hitungan, lalu embuskan lewat mulut secara perlahan dalam 4 hitungan.

Lakukan secara berulang. Tarik napas. Satu, dua, tiga, empat. Tahan. Satu dua tiga empat. Embuskan lewat mulut. Satu dua tiga empat.

Oya, sebagaimana penulis sebutkan sebelumnya, cara ini aman bagi kesehatan kita. Mengapa? Karena, menurut para pakar, cara ini (deep breathing) dapat menormalkan tekanan darah dan detak jantung.

Rasa kesal dan kecewa sering kita alami. Bukan hanya di rumah, kekesalan dan kekecewaan juga sering kita alami di kantor. Proses kerja yang lama, yang mengharuskan Anda menunggu, kemacetan di jalan, instruksi atasan yang tanpa kompromi, dan masih banyak lagi, kesemua itu membuat Anda kesal.

Tak jarang, kekesalan yang kemarin-kemarin tertahan, kini terakumulasi, menggunung, dan siap meledak. Jika tidak segera ditangani, maka bukan tidak mungkin Anda akan mengeluarkannya di kantor. Semua orang kena imbasnya. Bahkan, keputusan Anda pun terpengaruhi oleh kemarahan itu.

Melakukan deep breathing merupakan salah satu cara sehat mengendalikan emosi atau kemarahan. Dengan cara ini, dalam hitungan detik, emosi mereda, neo cortex Anda kembali bekerja. Walhasil, Anda dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin dan dapat berpikir jernih.

Sumber: lifehack.org

Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

This Post Has 2 Comments

  1. thanks gan infonya.. semoga bisa membantu

    1. Amiiin. Terima kasih atas komentarnya 😀

Leave a Reply

Close Menu