Otak Kanan vs Otak Kiri: Mitos atau Fakta?

Otak Kanan vs Otak Kiri: Mitos atau Fakta?

Lebih dominan mana otak Anda? Otak kiri atau otak kanan?

Menurut kepercayaan yang beredar, orang yang dominan otak kanan memiliki pribadi yang kreatif. Mereka pandai dalam bidang seni, bahasa, berimajinasi, dan berpikir holistik. Sementara itu, mereka yang dominan otak kiri dipercaya memiliki pribadi yang analitis. Mereka pandai dalam menalar, pandai dalam bidang matematika, dan logika.

Nah, jika demikian, kira-kira, menurut Anda, masuk golongan yang manakah Anda? Dominan otak kiri atau otak kanan?

Mungkin, Anda menjawab begini: “Kata teman sih, saya lebih dominan otak kiri. Pandai matematika. Pandai menalar. Jadi, lebih cocok kerja yang berkaitan hitung-hitungan.”

Hmm, memang, dengan pengkategorian kecerdasan seperti di atas (otak kanan vs otak kiri), muncul anggapan bahwa ada orang yang dominan berotak kanan dan ada pula orang yang dominan berotak kiri. Dari anggapan ini, orang disarankan untuk memilih pekerjaan sesuai dengan kecerdasan otaknya. Orang yang dianggap lebih dominan berotak kanan disarankan untuk bekerja dalam bidang tertentu. Demikian sebaliknya, orang yang dianggap lebih dominan berotak kiri disarankan bekerja dalam bidang lainnya.

Dari situ, mereka berlomba-lomba untuk mencari tahu lebih dominan mana otak mereka, otak kiri atau otak kanan. Selain itu, banyak juga yang mencari-cari informasi mengenai bidang-bidang pekerjaan yang cocok untuk si otak kiri dan si otak kanan.

Sekarang, pertanyaannya, benarkah ada orang yang dominan berotak kanan dan orang yang dominan berotak kiri? Benarkah otak kanan membuat orang jadi kreatif dan berpikiran terbuka? Benarkah juga otak kiri membuat orang berkepribadian kaku dan berpikiran tertutup?

Untuk menjawabnya, kita harus bertanya pada para pakar. Kita perlu mencari tahu bagaimana para pakar menanggapi dikotomi otak kanan vs otak kiri.

Seperti apa, sih, para pakar menanggapi dikotomi otak kanan vs otak kiri?

Apa Kata Pakar tentang Otak Kanan vs Otak Kiri?

Dalam sebuah eksperimen, para pakar dari the University of Utah mendapatkan kesimpulan bahwa dikotomi otak kanan vs otak kiri tidaklah benar! Menurut mereka, pengkategorian kecerdasan berdasarkan bagian otak (otak kanan vs otak kiri) hanyalah mitos belaka.

Eksperimen tersebut melibatkan lebih dari 1.000 partisipan (yang mayoritas adalah ilmuan), di mana dalam eksperimen terbut, kesemuanya ditemukan menggunakan kedua otak dalam melaksanakan tugas-tugas yang diberikan kepada mereka.

Dari hasil eksperimen tersebut, Dr. Jeff Anderson, direktur fMRI Neurosurgical Mapping Service di the University of Utah menyebutkan, “It is not the case that the left hemisphere is associated with logic or reasoning more than the rigt. Also, creativity is no more processed in the right hemisphere than the left.” Tidaklah benar bahwa otak kiri diasosiasikan dengan logika dan nalar melebihi otak kanan. Dan sebaliknya, kreativitas juga bukanlah proses yang lebih banyak terjadi di otak kanan daripada otak kiri.

Artinya, baik kreativitas maupun pemikiran analitis, keduanya menggunakan otak kiri dan otak kanan. Atau, dalam kata lain, baik otak kiri maupun otak kanan berperan aktif dalam proses berpikir kreatif dan berpikir analitis.

Jika kenyataannya demikian, lantas dari mana datangnya kepercayaan yang dikotomis antara otak kanan vs otak kiri?

Mitos itu muncul ketika Roger Sperry, peraih Nobel dalam bidang neuropsikologi melakukan riset pada tahun 1960an. Sperry mempelajari pasien dengan gangguan epilepsi. Demi mempelajari otak sang pasien, Sperry dan timya melakukan operasi, di mana bagian corpus callosum sang pasien dipotong. Karena corpus callosum menjembatani dua bagian otak (otak kanan dan otak kiri), setelah operasi, otak kanan dan otak kiri pasien pun tidak dapat berkomunikasi satu sama lain.

Dalam operasi tersebut, Sperry dan timnya mempelajari bagian mana yang terlibat dalam proses bahasa, matematika, visualisasi, dan sebagainya.

Dari situ, mulai simpang siurlah kabar yang tersebar. Katanya, otak kanan berperan dalam proses berpikir kreatif, sedangkan otak kiri berperan dalam berpikir analitis. Padahal, Sperry dan timnya tidak sampai pada kesimpulan seperti itu.

Nah, setelah mengetahui dari mana kepercayaan itu muncul, sekarang Anda paham, bukan, otak kiri vs otak kanan hanyalah mitos. Kedua bagian otak, otak kanan dan otak kiri sama-sama berperan dalam proses berpikir, baik berpikir kreatif maupun berpikir analitis.

Tetapi, bagaimana otak kiri dan otak kanan terlibat dalam proses kreatif?

Untuk mengetahuinya, mari simak penjelasan berikut.

Otak Kanan dan Otak Kiri dalam Proses Berpikir Kreatif

Pada tahun 1926, Graham Wallace, seorang pakar psikologi mengungkapkan temuannya tentang proses berpikir kreatif. Menurutnya, kreativitas dapat dicapai melalui 4 tahap, di mana proses itu terjadi baik di dalam otak kiri maupun otak kanan.

Apa saja 4 tahap itu?

Mereka yaitu tahap persiapan, inkubasi, iluminasi, dan verifikasi.

Untuk lebih jelasnya, mari kita kupas satu-persatu.

1. Persiapan

Pada tahap persiapan, kita mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan masalah yang hendak kita pecahkan. Tahap persiapan ini sepenuhnya dilakukan dalam tingkatan sadar. Artinya, pengumpulan informasi/data dilakukan oleh pikiran sadar kita.

Nah, aktivitas berpikir sadar terjadi di dalam otak kiri. Ini artinya, tahap PERSIAPAN terjadi di OTAK KIRI kita.

2. Inkubasi

Setelah data-data terkumpul, kita menuju tahap selanjutnya, yakni tahap inkubasi.

Apa itu inkubasi?

otak kanan vs otak kiri

Inkubasi adalah keadaan di mana otak tidak sedang dalam keadaan berpikir keras. Ia tidak sedang menghitung perkalian; Ia tidak sedang memecahkan masalah matematika; Ia tidak sedang menalar.

Inkubasi bisa menjelma dalam berbagai wujud. Anda dapat berinkubasi saat mandi, saat menyiram tanaman, saat mengobrol dengan orang lain, saat tidur, atau saat bersantai-santai. Pada intinya, inkubasi adalah saat di mana Anda sedang dalam keadaan melamun. Pikiran Anda melayang-layang ke sana kemari. Perhatian Anda tidak tertuju pada aktivitas yang sedang Anda kerjakan.

Nah, dalam tahap inkubasi ini, data/informasi yang tadi dikumpulkan, sekarang memasuki pikiran bawah sadar. Di dalam pikiran bawah sadar, data-data itu mengalami proses ASOSIASI BEBAS, di mana data-data itu dikombinasikan dengan data-data lainnya yang sudah tersimpan di dalam otak dalam bentuk ingatan.

Misalnya, dalam tahap 1, data yang terkumpul adalah gelas, HP, shampo, dan helm. Dalam tahap inkubasi, data-data itu dikombinasikan dengan data-data yang sudah lama tersimpan dalam otak kita. Shampo dikombinasikan sabun, handuk, rambut, gigi, dan sebagainya. Demikian juga, HP dikombinasikan dengan batu batrai, burung merpati, tulisan, musik, dan sebagainya.

Karena proses asosiasi bebas ini terjadi dalam pikiran bawah sadar, kita bisa mengatakan bahwa proses ini terjadi di dalam OTAK KANAN.

Kok bisa? Karena, pikiran bawah sadar bekerja di dalam otak kanan.

3. Iluminasi

Sebagaimana disebutkan di atas, dalam tahap inkubasi, data/informasi yang diperoleh dalam tahap 1 dikombinasikan dengan data-data yang sudah lama tersimpan di dalam otak. Ketika dari berbagai kombinasi itu ada satu kombinasi yang paaaaaling cocok dengan masalah Anda, maka terjadilah apa yang disebut “A Ha Moment” alias peristiwa MUNCULNYA IDE.

Nah, “A Ha Moment” ini tidak lain bentuk iluminasi/pencerahan.

A Ha Moment” terjadi di dalam PIKIRAN BAWAH SADAR. Oleh karena itu, bisa dikatakan pula bahwa tahap ILUMINASI terjadi di OTAK KANAN.

4. Verifikasi

Apakah setelah terjadi “A Ha Moment” lantas ide bisa langsung diterapkan?

Berbeda dengan kepercayaan yang melarang kita untuk menginterpretasikan dan menganalisis ide/intuisi yang menyeruak, menurut para pakar, justru ketika muncul “A Ha Moment” alias intuisi, kita perlu memverifikasinya. Verifikasi artinya menguji ketepatan ide/intuisi itu, apakah ia bisa langsung diterapkan untuk memecahkan masalah ataukah tidak.

Jika tidak, kita harus mengolahnya dengan pikiran sadar kita menjadi ide yang praktis (dapat diterapkan).

Tentang hal ini, Poincare, seorang ahil matematika menyatakan:

“It never happens that unconscious work supplies ready-made the result of a lengthy calculation in which we only have to apply fixed rules. … All that we can hope from these inspirations, which are the fruit of unconscious work, is to obtain points of departure for such calculations.”

Tak pernah terjadi bahwa kerja pikiran bawah sadar menyediakan hasil kalkulasi panjang yang SIAP PAKAI di mana kita hanya harus mengaplikasikan aturan-aturan yang sudah final… Apa yang dapat kita harapkan dari inspirasi (aha moment) ini, yang merupakan buah dari kerja pikiran bawah sadar, adalah untuk memperoleh titik-titik berangkat kalkulasi seperti itu (kalkulasi yang siap pakai).

Dan, karena verifikasi dilakukan dengan pikiran sadar, bisa dikatakan juga bahwa VERIFIKASI terjadi di dalam OTAK KIRI.

Kesimpulan

Demikianlah bagaimana kreativitas terjadi.

Pertanyaannya, bisakah kita memperoleh ide tanpa melewati tahap persiapan?

Menurut para pakar, tahap persiapan sangat penting. Tanpa tahap ini, tidak ada data yang dapat diolah oleh pikiran bawah sadar sedemikian sehingga menjadi ide.

Jadi, bagaimana pun juga, proses kreatif membutuhkan peran otak kiri juga.

Nah, setelah menyimak penjelasan di atas, Anda semakin yakin, bukan, otak kanan dan otak kiri Anda sama pentingnya. Tidak ada orang yang dominan otak kanan. Tidak ada pula orang yang dominan otak kiri. Otak kanan dan otak kiri memiliki peran yang saling mengisi. Tidak ada kreativitas tanpa otak kiri dan otak kanan. Tidak pula ada penalaran tanpa otak kiri dan otak kanan.

Maka dari itu, mulai sekarang, yuk, say good bye pada mitos otak kanan vs otak kiri!

 

Sumber:

Brainpicking.org

Creatingminds.org

Scientificamerican.com

Hypnosis4yourlife.com

 

Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

Leave a Reply

Close Menu