Penuhi 6 Kebutuhan Dasar Ini agar Kebahagiaan Terasa Lengkap

Shares

Setiap orang tentu ingin selalu bisa merasa bahagia dalam hidupnya. Bahkan setiap tindakan yang kita lakukan pada akhirnya bertujuan untuk bahagia. Kebahagiaan adalah motif. Ya, motif dari setiap tindakan yang kita lakukan.

Namun, banyak di antara kita yang bertanya-tanya apa makna bahagia. Banyak yang awalnya mengira bahwa bahagia adalah hidup kaya raya, punya mobil dan rumah mewah.  Namun, begitu mendapatkan itu semua ternyata masih merasa belum bahagia.

Ada juga yang awalnya mengira bahwa bahagia adalah menjalani passion yang diimpikan. Namun begitu sudah mencapai passion yang diinginkannya, tiba-tiba merasa bosan dan ingin melakukan hal yang lain.

Ada juga yang awalnya mengira bahwa bahagia adalah relasi yang tak pernah punya masalah. Namun, begitu relasinya tidak pernah menjumpai masalah malah merasa jenuh dan ingin mencari-cari masalah.

Nah, jika kekayaan, passion, atau pun relasi yang harmonis tidak menjamin kita merasa bahagia, lalu apa itu bahagia? Apa yang bisa membuat hidup kita bahagia dan terasa lengkap?

 

6 Kebutuhan Dasar Manusia

Pakar pengembangan diri Anthony Robbins menemukan bahwa manusia memiliki 6 kebutuhan dasar dalam hidup, yakni:

  1. Kebutuhan akan kepastian (certainty)
  2. Kebutuhan akan variasi/ketidakpastian (uncertainty/ variation)
  3. Kebutuhan akan signifikansi/merasa berarti & berharga (significance)
  4. Kebutuhan akan cinta & relasi (love & relation)
  5. Kebutuhan untuk bertumbuh (growth), dan
  6. Kebutuhan untuk berkontribusi (contribution)

 

Menurut saya, kesimpulan ini tepat. Karena pada dasarnya, manusia memang membutuhkan keenam-enamnya.

Kita bekerja setiap hari tujuannya tak lain untuk memenuhi kebutuhan akan kepastian. Jika kita punya uang yang cukup atau berlebih, maka hidup kita pasti/mapan dan kita pun merasakan kepastian itu.

Namun, kepastian yang berlebihan akan membuat kita bosan dan mencari-cari sesuatu yang bisa menyenangkan kita. Nah, variasi atau ketidakpastian adalah jawabannya.

Dalam buku yang berjudul “Flow: The Psychology of Optimal Experience”, ahli psikologi Mihaly Csikszentmihalyi menjelaskan bahwa manusia memperoleh kesenangan bukan dari tidak adanya tantangan, melainkan dari tantangan yang sepadan dengan skill untuk menghadapi tantangan tersebut.

Tantangan sendiri adalah sesuatu yang asing bagi kita, sesuatu yang berada di luar zona nyaman kita, sesuatu yang memberikan kita rasa ketidakpastian.

Jadi bisa disimpulkan, di samping membutuhkan kepastian, kita juga butuh ketidakpastian karena ketidakpastianlah yang bisa memberikan kita kesenangan.

Sekarang bayangkan seseorang yang merasa dirinya tidak layak, tidak berarti & berharga, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Kira-kira, dampak apa yang akan timbul dari perasaan itu?

Dia akan menjadi pribadi yang minderan dan tak punya kepercayaan diri. Ya, dia tidak akan memiliki kepercayaan diri baik dalam bersosialisasi dengan orang lain maupun dalam mengejar impiannya.

Mempunyai perasaan bahwa diri kita berarti/berharga sangatlah penting. Perasaan inilah yang memberikan kita keberanian untuk menghadapi tantangan dalam hidup.

Nah di samping kepastian, ketidakpastian, dan merasa berarti/penting, kita juga membutuhkan cinta dan relasi. Tak ada orang yang bahagia jika pasangan pura-pura mencintainya atau dia pura-pura mencintai pasangannya. Setiap orang butuh benar-benar dicintai atau mencintai. Inilah esensi dari kebutuhan akan cinta & relasi.

Bagaimana dengan kebutuhan untuk bertumbuh? Apa benar setiap orang membutuhkannya?

Charles Darwin pernah berkata, “Bukan spesies terkuat yang bertahanbukan juga yang terpandai, melainkan yang paling mampu beradaptasi terhadap perubahan.”

Ya, apa yang dikatakan Darwin itu tepat karena dunia terus berubah. Maka, yang bisa bertahan hidup adalah yang mampu beradaptasi terhadap perubahan.

Dan berubah di sini artinya terus bertumbuh, menjadi pribadi yang baru setiap hari.

So, setiap orang perlu bertumbuh. Jika kita tidak bertumbuh, maka kita akan merasa stag dan “mati”.

Terakhir, diakui atau tidak, setiap orang tidak hanya mementingkan kepentingan sendiri, namun juga mementingkan kepentingan orang lain. Ini mungkin disebabkan karena manusia adalah makhluk sosial.

Hanya mementingkan diri sendiri membuat manusia merasa hidupnya tidak berarti/meaningless. Sedangkan bisa memberikan dampak kepada orang lain membuat manusia merasa hidupnya bermakna/meaningful.

Kontribusi memberikan kita perasaan bahwa hidup kita memiliki tujuan.

Itulah mengapa menurut saya apa yang dijelaskan Anthony Robbins bahwa manusia memilki kebutuhan dasar untuk berkontribusi adalah tepat.

 

Pertanyaannya…

Apa hubungan 6 kebutuhan dasar ini dengan kebahagiaan kita?

Di awal tulisan, kita sudah membahas bahwa meskipun setiap tindakan pada akhirnya ditujukan untuk bahagia, namun banyak orang yang merasa tidak paham apa itu kebahagiaan. Banyak orang yang meskipun sudah mapan, memiliki relasi yang harmonis, punya jabatan, namun merasa masih ada yang kurang.

Nah, ini disebabkan karena mereka berfokus hanya pada satu kebutuhan dasar dan lupa dengan kebutuhan lainnya. Idealnya, bukan hanya 1 atau 2 kebutuhan yang harus kita penuhi, namun keenam-enamnya.

So, agar kebahagiaan kita lengkap kita harus memenuhi keenam-enamnya.

 

Bagaimana Caranya?

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk memenuhi 6 kebutuhan dasar kita. Berikut ini beberapa contohnya.

 

 

Memenuhi Kebutuhan akan Kepastian

Untuk memenuhi kebutuhan akan kepastian, kita bisa bekerja, berinvestasi, membangun bisnis yang bisa menghasilkan pemasukan memadai bagi kita.

Kebutuhan akan kepastian juga bisa dipenuhi dengan terus belajar, membaca buku, menggali ilmu pengetahuan. Mengapa? Karena ilmu pengetahuan memberikan kita kontrol dan membuat kita mampu memprediksi masa depan.

 

Memenuhi Kebutuhan akan Variasi/Ketidakpastian

Untuk memenuhi kebutuhan akan variasi, kita juga bisa terus belajar. Mengapa? Karena, di samping memberikan rasa kepastian, belajar hal baru, khususnya hal-hal yang di luar pemahaman kita akan membuat kita tertantang.

Kebutuhan akan variasi juga bisa dipenuhi dengan traveling, bertulang, menjalani hobi baru, atau bertemu dengan orang-orang baru.

 

Memenuhi Kebutuhan akan Signifikansi/Merasa Berarti

Bisa dengan membantu orang lain atau dengan hidup mandiri (tak bergantung pada orang lain).

Bersyukur, tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain, menggali dan menyadari potensi kita juga membantu kita meningkatkan signifikansi.

 

Memenuhi Kebutuhan akan Cita & Relasi

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan akan cinta & relasi, kita bisa mmemberikan cinta yang tulus, bersikap setia terhadap pasangan dan setiakawan terhadap teman, menjadi mentor bagi anak, mengajarkan hal yang baik kepada anak dan keluarga, dan masih banyak lagi.

 

Memenuhi Kebutuhan untuk Bertumbuh

Untuk memenuhi kebutuhan untuk bertumbuh, kita bisa terus belajar, membaca buku, berlatih skill baru, menggali makna dari kehidupan sehari-hari kita, yang bisa meningkatkan kebijaksaan dan kualitas diri kita.

 

Memenuhi Kebutuhan untuk Berkontribusi

Nah, untuk kebutuhan kontribusi, kita bisa menjadi relawan, memberikan charity/sumbangan, bersedekah, berpartisipasi dalam kegiatan sosial. Namun, kontribusi tak harus yang wah. Tidak buang sampah sembarangan juga merupakan kontribusi bagi masyarakat.

 

Awas Jebakan

Nah, beberapa contoh di atas bisa Anda terapkan untuk memenuhi 6 kebutuhan dasar Anda. Atau, Anda juga bisa memenuhinya dengan cara Anda sendiri.

Namun yang perlu diwaspadai, jangan sampai cara-cara yang Anda tempuh adalah cara-cara yang tidak sehat.

Karena, cara yang tidak sehat hanya akan memberikan Anda ilusi. Ya, ilusi seolah-olah kebutuhan Anda terpenuhi dengan cara itu, namun jika Anda renungkan akibat jangka panjangnya, Anda akan tahu betapa cara-cara itu justru merugikan Anda.

Contoh, ada orang yang memenuhi kebutuhan akan kepastian dengan bisnis yang kotor. Benar, hidupnya bisa mapan dan penuh kepastian. Dia pun bisa merasa tenang dan aman (secure). Namun itu hanya jangka pendek. Di jangka panjang, dia akan dihantui ketakutan karena khawatir kejahatannya akan diketahui.

Contoh lain, ada orang yang memenuhi kebutuhan akan signifikansi/merasa berarti dengan memposting foto keren di media sosial agar di-like atau diberi komentar yang memuji.

Atau, membeli benda-benda mewah seperti tas ratusan juta dan mobil milyaran rupiah agar dipuji orang lain.

Mengapa ini termasuk cara yang tak sehat?

Karena dengan cara ini, signifikansi yang kita dapatkan berasal dari orang lain. Kita bergantung pada orang lain untuk memberikan rasa signifikansi kepada kita.

Akibatnya, di saat tak seorang pun yang memuji kita, di saat tak seorang pun yang “melihat” dan menganggap keberadaan kita, maka kita akan kehilangan signifikansi, kita akan merasa tidak berarti.

Idealnya, signifikansi diperoleh dari dalam, bukan dari luar. Karena dengan begitu, kita tidak bergantung pada orang lain. Mau orang lain memuji atau menghina kita, kita tetap merasa diri kita berarti dan berharga. Pujian atau hinaan orang lain tidak akan mempengaruhi harga diri kita.

 

Bagaimana caranya?

Selalu syukuri apa yang kita miliki. Atau, dengan menerima diri kita apa adanya, tidak membandingkan diri kita dengan orang lain, karena setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Kita juga bisa memenuhi kebutuhan signifikansi dengan menggali kemampuan dan meningkatkan kapasitas diri.

Sehubungan dengan kebutuhan akan ketidakpastian, ada orang yang memenuhinya dengan mengikuti balapan liar, atau terjun dalam dunia kelam dan perselingkuhan. Ini merupakan contoh cara yang tidak sehat untuk memenuhi kebutuhan akan ketidakpastian.

Balapan liar mungkin memberikan sensasi yang menyenangkan. Namun, akibatnya bisa fatal jika terjadi kecelakaan. Begitu juga dengan perselingkuhan. Alasannya jelas, perselingkuhan bisa menghancurkan relasi dengan pasangan dan anak.

Bagaimana dengan kebutuhan akan cinta & relasi?

Salah satu contoh cara yang tidak sehat untuk memenuhi kebutuhan akan cinta & relasi adalah “membeli” cinta orang lain. Saat orang yang kita cintai tidak mencintai kita, lantas kita “membeli” cintanya dengan uang.

Ya, mungkin kita akan merasa dia mencintai kita. Namun sejatinya itu hanya ilusi. Jika kita tidak memberikannya materi, maka bisa dipastikan dia tidak akan “mencintai” kita.

Agar seseorang bisa mencitai kita, maka kita pun perlu mencintainya dengan tulus. Yakni, dengan memberikannya perhatian, kesetiaan, kasih sayang, menjadi teman dalam suka dan duka, mengarahkannya menjadi pribadi yang lebih baik.

“Lho, kan uang juga bisa memberikan kasih sayang?”

Benar, uang bisa memberikan kasih sayang. Anak yang sekolah butuh uang. Pasangan yang sakit juga butuh uang. Namun, bukan berarti hanya uanglah satu-satunya ekspresi kasih sayang kita.

Faktanya, banyak orang yang merasa tidak dicintai meskipun diberikan uang dan kemewahan yang luar biasa. Ini karena, uang tanpa perhatian, uang tanpa kehadiran kita, maka rasanya hampa, kering.

Sehubungan dengan kebutuhan untuk berkontribusi, contoh cara yang tidak sehat untuk memenuhinya adalah dengan memberikan charity dengan memamerkannya ke khalayak umum.

Mengapa ini termasuk cara tak sehat?

Karena kita berharap pujian dari orang lain.

Idealnya dalam memberikan kontribusi, kita tidak perlu mengharapkan pujian orang lain. Karena, jika kita berharap pujian dari orang lain, niscaya dalam lubuk hati terdalam, kita akan merasa bahwa kita tidak ikhlas. Ini pada akhirnya justru akan membuat kita malu.

Nah, demikianlah bagaimana cara agar kita memperoleh kebahagiaan yang lengkap. Dari uraian di atas, kata kuncinya adalah menggali/mengeksplore makna 6 kebutuhan dasar itu. Dari eksplorasi, Anda akan tahu cara yang tepat, yang cocok bagi Anda untuk memenuhi 6 kebutuhan tersebut.

Sekarang, silakan berikan pemikiran Anda di kolom komentar dan jangan lupa untuk share artikel ini.

About the Author Agus Setiawan

Agus Setiawan, seorang pembelajar yang sangat menyenangi dunia pengembangan diri khususnya dunia pikiran. Hasratnya untuk membantu banyak orang membawanya mendalami berbagai pengetahuan tentang pengembangan diri dan hipnoterapi. Ia menjadi hipnoterapis yang direkomendasikan oleh Adi W Gunawan Institute. Dalam prosesnya Pria kelahiran 1982 ini juga menemukan Sistem Bacakilat yang menggunakan pikiran sadar dan bawah sadar untuk meningkatkan keefektifan dalam membaca buku yang sudah dibawakan ke berbagai kota mulai tahun 2009. Dorongan untuk membantu lebih banyak orang lagi membuatnya mendirikan Aquarius Resources yang berperan untuk memberikan Re-Edukasi terbaik kepada setiap orang yang ingin menempuh kesuksesan dalam kehidupannya.

follow me on:
>