Pola pikir Irasional yang Menyebabkan Anak Pesimis Belajar dan Cara Merubahnya

Shares

Kenapa, ya, anak saya malas belajar? Dia terlalu pesimis, merasa dirinya ga mampu menjadi juara. Jangankan menjadi juara, dapat nilai tinggi pun dia ga yakin.”

Bagaimana supaya dia optimis? Kenapa dia bisa pesimis seperti itu?

Bunda, apakah Anda memiliki masalah yang sama seperti ibu di atas? Anak Anda malas belajar. Penyebabnya, ia terlalu pesimis mendapatkan prestasi. Dia merasa tidak pantas mendapatkan prestasi karena ia pikir ia bukan orang yang pandai.

Jangan dianggap sepele, ya, Bunda, apabila anak Anda memiliki masalah belajar seperti itu.

Salah satu masalah belajar yang lumrah kita jumpai yaitu masalah mental. Mental anak terhambat oleh pola pikir irasional yang membuat mereka merasa rendah, buruk, tidak pandai, dan tidak akan pernah bisa meraih prestasi.

Dalam istilah psikologi, pola pikir irasional itu lumrah disebut distorted thinking. Tak jarang, distorted thinking membuat orang dewasa stres dan depresi. Nah, selain membawa dampak yang buruk bagi orang dewasa, distoreted thinking juga membawa dampak buruk pada anak. Dengan pola pikir yang irasional/distorted thinking, anak menjadi pribadi yang pesimis, minder, dan merasa dirinya buruk.

Namun demikian, jangan khawatir, Bunda. Anda dapat membantu anak Anda untuk merubah pola pikir itu sedemikian sehingga ia terbebas dari pikiran-pikiran negatif tentang dirinya. Kuncinya, Anda harus terlebih dulu mengetahui apa saja pola pikir irasional itu. Dengan mengetahui apa saja pola pikir irasional yang membuat anak pesimis belajar, Anda tahu bagaimana cara merubah pola pikir itu.

Nah, berikut ini beberapa pola pikir irasional yang membuat anak pesimis belajar dan cara merubahnya.

Hitam-Putih

Yang pertama, anak berpikir bahwa ia harus meraih kesempurnaan. Sebagai contoh, saat ulangan matematika, ia berpikir ia harus mendapatkan nilai 100. Atau, jika tidak mendapat nilai 100, maka lebih baik tidak usah mendapat nilai sekalian. Tidak 7, 8, atau 9. Pokoknya, nilainya harus sempurna, yaitu 100.

Bunda, apabila anak Anda berpikir seperti di atas mengenai nilainya, apabila ia terlalu mengagungkan kesempurnaan hingga jijik dengan kegagalan, maka Anda wajib waspada. Itu merupakan tanda ada yang salah dengan pola pikirnya.

Ia menilai sesuatu secara hitam-putih. Kalau tidak baik, ya pasti buruk. Kalau tidak sempurna, ya pasti cacat.

Dengan pola pikir yang hitam-putih, anak merasa buruk saat ia tidak mendapatkan nilai 100. Sekalipun ia mendapatkan nilai 8 atau 9, ia tetap merasa kecewa. Mengapa? Karena, ia menganggap selain nilai 100 adalah buruk, tidak sempurna. Kalau tidak putih pastilah hitam. Demikian menurut anak Anda.

Nah, pola pikir seperti itu tentu membuat anak pesimis belajar, terutama apabila anak jarang mendapatkan nilai yang sempurna (100). Ia akan frustrasi, di mana rasa frustrasi itu pada ujungnya membuatnya menyerah.

Lantas, bagaimana mengatasinya? Bagaimana merubah pola pikir hitam-putih itu?

Orang yang memiliki pola pikir hitam-putih adalah orang yang perfeksionis. Mereka terlalu mengagungkan kesempurnaan hingga jijik terhadap kegagalan atau kekurangan. Mereka anti terhadap kegagalan. Padahal, kegagalan merupakan fase yang penting yang perlu dilalui anak dalam proses belajar. Dengan kegagalan, anak tahu kesalahannya yang membuatnya gagal. Dengan begitu, ia tidak mengulangi kesalahan itu.

Nah, apabila anak Anda memiliki pola pikir hitam-putih alias perfeksionis, maka beri tahu dia bahwa nilai yang sempurna memang sangat penting. Sebisa mungkin dia harus mendapat nilai yang sempurna. Tetapi, jika gagal, maka tidak perlu menyesali kegagalan itu. Sambutlah kegagalan dengan suka cita. Mengapa? Karena, kegagalan merupakan pelajaran yang berharga. Kegagalan memberi tahu anak adanya kesalahan yang harus ia perbaiki. Dengan begitu, anak mampu memperbaiki kesalahannya.

Overgeneralisasi

Pola pikir yang kedua yaitu anak menggeneralisasi kegagalannya. Sebagai contoh, suatu hari, ada ulangan fisika di kelasnya. Pada ulangan itu, ia mendapatkan nilai yang jelek. 5, misalnya.

Nah, karena kejadian itu, setiap kali ulangan dan mendapatkan nilai yang jelek, ia lantas mengumpat dalam hati: “Sial! Selaaaaalu dapat nilai jelek. Bodoooooh!

Padahal, pada kenyataannya, tidak selalu ia mendapatkan nilai yang jelek. Ia juga pernah mendapatkan nilai yang bagus. Tetapi, ia lupa karena terlalu fokus pada nilai yang jelek.

Karena pola pikir yang overgeneralisasi itu, ia pun pesimis belajar. Ia berpikir percuma juga belajar, toh akhirnya tetap mendapat nilai yang jelek.

Lalu, bagaimana cara merubah pola pikir itu sedemikian sehingga dia mampu melihat kelebihannya?

Jika anak Anda berpikir bahwa ia selalu mendapat nilai yang jelek, dan karenanya ia malas belajar, Anda dapat berkata seperti ini kepadanya: “Masa sih kamu selalu dapat nilai jelek? Coba diingat-ingat lagi. Jeleknya berapa?” Ajak dia membandingkan nilai-nilai ulangannya. Apabila sekarang ia mendapat nilai 6, sedangkan pada ulangan sebelumnya ia mendapat nilai 5, maka ia telah mencapai sebuah progres. Katakan kepadanya bahwa ia telah meraih prestasi, yakni nilainya meningkat dari 5 menjadi 6. Katakan bahwa yang terpenting ada progres yang dicapainya. Jika sekarang nilainya 6, besok minimal harus 7, dan tidak harus 100.

Dengan begitu, anak tidak frustrasi dengan nilainya. Nilai yang sempurna memang sangat penting, tetapi proses mendapatkannya juga tidak kalah penting. Bisa jadi, dalam proses itu, anak mengalami kegagalan atau progresnya lambat. Tidak masalah. Yang penting ia sudah berusaha dan mampu belajar dari kesalahan.

Mengesampingkan informasi positif

Pola pikir ini hampir mirip overgeneralizing. Saat ia mendapatkan nilai jelek, ia langsung kecewa tanpa mempertimbangkan sisi positifnya.

Sebagai  contoh, awalnya, ia selalu mendapatkan nilai di bawah 5. Tetapi, kemudian, dalam ulangan matematika ia mendapatkan nilai 7. Nah, ia bukannya senang dengan pencapaian itu, tetapi justru kecewa.

Mengapa ia kecewa? Lantaran ia membandingkan nilai 7 dengan nilai sempurna alias 100. Ketika ia membandingkan nilainya (7) dengan nilai sempurna (100), ia dapati nilainya masih jauh dari sempurna. Ini merupakan informasi negatif yang membuatnya kecewa. Dan, ia semakin kecewa ketika hanya berfokus pada informasi ini dan mengesampingkan informasi positifnya.

Apa informasi positif yang dikesampingkannya? Informasi bahwa proses belajarnya mengalami peningkatan. Buktinya, awalnya ia mendapat nilai 5, sekarang ia mendapat nilai 7. Itu merupakan peningkatan belajar. Itulah informasi positif yang dikesampingkannya.

Karena mengesampingkan informasi positif dan hanya berfokus pada informasi negatif, anak kecewa. Ia kecewa dengan proses belajarnya yang menurutnya tidak mengalami kemajuan. Dan, karena kekecewaan itu, ia pun pesimis belajar.

Bunda, apabila anak Anda memiliki pola pikir seperti di atas, jangan dianggap sepele. Hanya berfokus pada informasi negatif dan mengesampingkan informasi positif membuat anak pesimis, stres, dan depresi. Anda perlu membantunya merubah pola pikir itu.

Bagaimana caranya? Caranya, ingatkan dia mengenai informasi positif yang dikesampingkannya. Jika informasi negatif membuatnya kecewa, informasi positif dapat menghibur dirinya dan mengurangi kekecewaannya. Selain itu, informasi positif juga dapat membuatnya kembali bersemangat belajar.

Katastropi

Katastropi sama artinya dengan membesar-besarkan masalah.

Misal, suatu hari, anak mengikuti kursus musik. Tetapi, di hari pertama belajar musik, ia banyak melakukan kesalahan. Lebih dari itu, ia tidak memahami apa yang diajarkan guru musiknya.

Karena hal itu, ia berpikir bahwa ia memang tidak berbakat dalam bidang musik. Ia tidak ditakdirkan untuk bermain musik. Ia bertanya dalam hati, “Bagaimana jika nanti saya tetap tidak bisa bermain musik? Semuaya akan sia-sia.” Padahal, dia baru pertama kali belajar musik. Jadi, wajar jika belum banyak memahami apa yang diajarkan guru musiknya.

Tetapi, karena berpikir katastropik, ia mengesampingkan informasi itu. Ia mengesampingkan kenyataan bahwa ia baru pertama kali belajar musik dan karenanya wajar jika masih banyak melakukan kesalahan.

Dengan pola pikir yang katastropik itu, ia stres, kecewa, dan pesimis. Ia patah arang mempelajari keterampilan bermain musik.

Lantas, bagaimana membantu anak Anda merubah pola pikir itu?

Katakan kepadanya bahwa ia baru pertama kali mengenal musik, dan oleh karenanya wajar jika belum memahami apa yang diajarkan guru musiknya.

Labeling

Labeling hampir sama dengan overgeneralisasi. Ketika anak berpikir dengan labeling, mereka menyematkan identitas tertentu kepada dirinya, di mana identitas itu ia jadikan sebagai simbol, identitas, dan image dirinya.

Pola pikir labeling membuat anak mengidentikkan dirinya dengan identitas-identitas tertentu, di mana celakanya identitas itu adalah identitas yang berkonotasi negatif seperti “si bodoh”, “si oneng”, “bego” dan sebagainya. Singkatnya, pola pikir labeling membuat anak memberikan stereotip yang buruk tentang dirinya.

Sebagai contoh, ia memang susah memahami pelajaran. Ia memang lebih lamban dibanding teman-temannya.

Menyadari kenyataan itu, anak Anda lantas melabeli dirinya sebagai “si oneng”.

Dengan labeling, anak menjadi kurang percaya diri terhadap kemampuannya. Ia merasa percuma saja belajar, toh dia orang yang bodoh, yang sulit memahami pelajaran.

Pola pikir labeling merupakan pola pikir yang irasional. Anak yang lamban dalam belajar bukan berarti anak itu bodoh. Bisa jadi, cara guru menjelaskan pelajaran memang kurang efektif sedemikian sehingga anak susah memahaminya. Atau, ia lamban dalam belajar lantaran ia berpikir detail dan kritis. Orang yang berpikir secara detail dan kritis tidak mudah menerima penjelasan orang lain. Ia lebih puas mendalami materi pelajaran secara mandiri, tanpa bantuan orang lain termasuk guru.

Apabila anak Anda memiliki pola pikir labeling, apabila anak menganggap dirinya bodoh hanya karena susah menangkap pelajaran, katakan kepadanya tidak ada orang yang bodoh, termasuk dirinya. Semua orang telahir genius. Sebenarnya, ia bukanlah orang yang lamban dalam pelajaran. Bisa jadi, ia lamban memahami pelajaran lantaran ia berpikir detail dan terlalu kritis. Atau, ia lamban dalam belajar karena penyampaian sang guru tidak efektif.

Apa pun penyebab ia lamban belajar, yang pasti ia bukanlah anak yang bodoh. Semua orang terlahir genius. Hanya saja, dalam pertumbuhannya, ada mindset-mindset tertentu, pola pikir-pola pikir tertentu yang diajarkan lingkungan kepadanya yang menutupi potensinya yang luar biasa.

Unreal ideal

Sudah menjadi kecenederungan kita, manusia modern, suka membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Bahkan, kita suka membandingkan teman kita dengan orang lain. Saat memilih pasangan, misalnya, kita membandingkan beberapa calon, dan kita pilih yang terbaik dari yang terbaik.

Nah, jika kita suka membanding-bandingkan, demikian juga dengan anak kita. Karena pengaruh budaya yang suka membanding-bandingkan, mereka pun gemar membanding-bandingkan. Mereka membandingkan diri mereka dengan orang lain. Mereka membandingkan dirinya dengan temannya yang lebih unggul.

Seringkali, perbandingan ini bahkan dilebih-lebihkan.

Dilebih-lebihkan bagaimana maksudnya?

Maksudnya, anak tidak lagi membandingkan dirinya dengan temannya, melainkan membandingkan dirinya dengan gambaran ideal (idealized image) temannya.

Sebagai contoh, temannya yang bernama C memang langganan juara satu. Tidak diragukan lagi si C anak terpandai di kelas.

Nah, awalnya, anak Anda membandingkan dirinya dengan si C yang sebenarnya. Perbandingan ini saja sudah membuatnya minder. Apalagi, ditambah ia membandingkan dirinya yang sesungguhnya dengan gambaran ideal si C. Tentu, anak Anda tambah minder.

Lantas, apa, sih yang dimaksud gambaran ideal?

Gambaran ideal adalah identitas-identitas positif yang disematkan pada seseorang. Gambaran itu bisa jadi sesuai kenyataan, tetapi tak jarang pula jauh dari kenyataan.

Apabila gambaran ideal ini tidak sesuai kenyataan, maka kita menyebutnya unreal ideal image alias gambaran ideal yang tidak sesuai kenyataan.

Dalam contoh di atas, apa gambaran ideal si C? Gambar ideal itu dapat berupa pemberian label yang positif kepada si C, seperti label “genius”, “tidak belajar pun tetap cerdas”, “keren”, “multitalent”, “serba bisa” dan sebagainya.

Jika kita perhatikan, kesemua label itu merupakan label yang positif. Tetapi, belum tentu label itu sesuai dengan kenyataan. Belum tentu si C anak yang genius, meskipun ia selalu juara 1. Belum tentu juga si C serba bisa. Mungkin, dia memang pandai dalam pelajaran. Tetapi, siapa tahu ia lemah dalam praktik.

Nah, apabila anak Anda gemar membandingkan dirinya dengan temannya, Anda patut waspada. Mengapa? Bisa jadi, ia membandingkan dirinya yang sebenarnya dengan gambaran ideal temannya.

Dengan sikap itu, ia melebih-lebihkan penilaiannya tentang temannya. Misal, temannya memang cerdas, tetapi anak Anda melebih-lebihkannya dan menilai temannya genius, IQ-nya di atas rata-rata. Atau, boleh jadi temannya memang menguasai berbagai skill. Tetapi, anak Anda melebih-lebihkannya sebagai anak yang serba bisa. Padahal, pada kenyataannya, ia bukanlah anak yang serba bisa. Ia hanya menguasai beberapa skill, bukan serba bisa.

Intinya, apa yang dilihat tidak selalu mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Tetapi, anak Anda berpikir apa yang dilihatnya mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Nah, hal itu tentu membuatnya minder. Bagaimana tidak? Ia membandingkan dirinya yang sebenarnya, yang memiliki kekurangan dan kelebihan, dengan temannya yang ia imajinasikan sebagai sosok yang sempurna. Tentu saja, perbandingan itu tidak seimbang. Dalam perbandingan itu, tentu saja anak Anda kalah unggul dibanding gambaran ideal temannya.

Oleh karena itu, tidak heran jika anak Anda minder dan pesimis lantaran membandingkan dirinya dengan teman-temannya.

Lantas, bagaimana jika anak suka membandingkan dirinya dengan temannya yang lebih unggul? Sampaikan kepadanya bahwa setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan, demikian juga dengannya dan dengan temannya. Meskipun ia tak seunggul temannya dalam prestasi akademik, tetapi dalam hal tertentu, niscaya dia memiliki kelebihan yang mengungguli temannya. Mungkin dia kurang pandai pelajaran matematika, tetapi dia unggul dalam pelajaran bahasa Inggris. Sebaliknya, mungkin temannya unggul dalam pelajaran matematika, tetapi lemah dalam pelajaran bahasa Inggris.

Sampaikan pula kepadanya bahwa apa yang ia lihat tidak selalu mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Boleh jadi dia menganggap temannya sebagai sosok yang sempurna. Tetapi, bisa saja anggapan itu tidak sesuai kenyataan.

Dengan begitu, anak tidak merasa minder menyaksikan temannya berprestasi. Ia akan berpikir bahwa ia juga memiliki kelebihan yang tidak dimiliki temannya.

Demikian, Bunda, beberapa pola pikir irasional yang membuat anak pesimis belajar. Dengan mengetahui pola pikir-pola pikir itu, Anda dapat membantu anak Anda merubahnya. Dengan demikian, dia tidak lagi pesimis belajar.

Akhir kata, semoga uraian di atas bermanfaat untuk Anda.

 

 

 

 

 

 

About the Author Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

follow me on:
>