Figur Seperti Apa yang Patut Dijadikan Role Model bagi Anak Anda?

Figur Seperti Apa yang Patut Dijadikan Role Model bagi Anak Anda?

Siapa idola anak Anda? Aliando Syarief? Lady Gaga? Steve Jobs? Atau, Hitler? (Waduh, serem!)

Siapa pun dia, yang pasti anak Anda memiliki idola, bukan? Nah, selain diidolakan sebagai tokoh yang dikagumi, idola juga menjadi role model bagi anak Anda. Sebagai role model, idola diikuti perilaku, hobi, ketidaksukaan, model rambut, hingga model bajunya. Jika idolanya suka menyanyi, maka anak Anda juga suka menyanyi. Jika idolanya suka membaca buku, maka anak pun ikut suka membaca buku. Jika idolanya suka merokok, maka anak Anda juga suka merokok. Begitulah anak Anda meniru idolanya sebagai role model.

Tetapi, mengapa anak memiliki tokoh idola dan menjadikannya sebagai role model? Ada beberapa faktor yang mendorongnya.

Pertama, kebutuhan memiliki role model muncul dari kebutuhan untuk bertahan hidup. Kita, manusia, bisa bertahan hidup, salah satunya dengan cara mencontoh perilaku mereka yang berhasil bertahan hidup. Ini merupakan mekanisme pertahanan diri yang diwarisi dari nenek moyang kita, manusia purba. Bukan hanya manusia, semua spesies di bumi ini, bertahan hidup, salah satunya dengan mencontoh perilaku spesies lain yang berhasil bertahan hidup.

role model

Nah, sama dengan nenek moyangnya, motif yang mendorong anak Anda untuk mencontoh idolanya adalah kebutuhan untuk bertahan hidup: Menyesuaikan diri dengan lingkungan, diterima oleh pergaulan sosial, dan memenangkan persaingan.

Maka tak heran jika idola anak Anda adalah mereka yang berhasil dalam hidup, mereka yang disukai khalayak, dan mereka yang tampak hebat di permukaan. Anak Anda tidak mungkin mengidolakan orang yang tidak sukses, tidak “hebat”, dan tidak disukai orang.

Faktor kedua, anak Anda yang sedang tumbuh menjadi remaja berada pada tahap PEMBENTUKAN IDENTITAS. Atau, dalam bahasa kerennya, sedang dalam tahap MENCARI JATI DIRI. Ia mulai mencari-cari figur yang cocok dengan identitas/jati dirinya. Ia mencoba mengidentifikasikan diri dengan figur ini itu, mencari figur yang paling cocok dengan kepribadiannya.

Tentu saja, dalam memilih figur, ia tak luput dipengaruhi oleh bias. Contoh, teman-temannya menyukai figur A. Oleh karena itu, ia pun mengidentifikasikan diri dengan figur A agar diterima oleh teman-temannya. Bias juga datang dari media. Jika media memberitakan A sebagai figur yang hebat, maka anak Anda pun mengidentifikasikan diri dengan A, agar sama-sama hebatnya dengan si A.

Maka, tak heran jika pada masa remajanya, ia memiliki banyak tokoh idola yang sekaligus menjadi role model, mulai dari tokoh terkenal, yang disukai teman-temannya, dan yang tampak hebat.

Terlepas dari motif yang mendorong anak memiliki role model, yang harus diperhatikan orangtua adalah SIAPA yang dipilih oleh anak menjadi role model. Hal ini penting karena anak mencontoh tingkah laku mereka. Jangan sampai ia salah memilih role model.

Tetapi, siapa role model yang cocok untuk anak Anda? Figur yang seperti apa yang dapat menjadi teladan yang baik baginya?

Siapa pun mereka, yang pasti harus memiliki kualitas yang baik. Setidaknya, mereka memiliki karakter pekerja keras, cerdas, kreatif, mandiri, berpikiran bebas dan terbuka, pantang menyerah, dan memiliki moral yang tinggi (baik, jujur, rendah hati, adil, setia, berprinsip, dan sebagainya).

Selain itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Apa saja itu? Yuk, langsung kita simak penjelasannya berikut ini.

Film, Musik, Buku, dan Public Figure

Anda perlu memperhatikan tontonan dan bacaan anak. Hindari tontonan dan buku yang hanya menghadirkan kekerasan, pelecehan, pergaulan bebas, dan diskriminasi. Perhatikan pula musik favorit anak Anda. Perhatikan liriknya. Hindari lagu dengan tema cinta-cintaan anak muda yang cengeng dan destruktif. Mengapa? Karena, lagu-lagu itu dapat mengalihkan fokus mereka. Mereka menjadi mudah rapuh hanya karena urusan cinta.

Selain itu, perhatikan pula public figure yang diidolakan anak. Periksa karakter, perilaku, dan kebiasaan mereka. Jika memang perilaku, karakter, dan kebiasaan mereka berpotensi membawa pengaruh buruk bagi anak Anda, maka Anda harus bisa mengalihkan perhatiannya dari tokoh-tokoh idolanya itu. Bagaimana caranya? Perkenalkan ia pada figur-figur yang memiliki kualitas yang tinggi: cerdas, memiliki peran bagi perubahan dunia, berpikir besar, tekun, berpegang teguh pada prinsip. Misalnya, Seteve jobs, Mahatma Gandhi, Albert Einstein, James Watt, Thomas Alva Edison, dan sebagainya.

Pergaulan

Siapa yang paaaaaaling berpengaruh bagi anak Anda? Andakah? Public figure kah? Atau, pergaulan/teman-temannya?

Saat anak beranjak remaja, pengaruh orangtua tergeser oleh teman-temannya. Anak lebih menganut teman-temannya ketimbang orangtua. Mengapa? Karena, anak ingin diterima oleh lingkungan pergaulannya. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya bersama teman-temannya. Oleh karena itu, ia merasa butuh diterima dalam pergaulan dengan teman-temannya.

Nah, bagaimana jadinya jika teman-temannya mengidolakan sosok tertentu, si A, misalnya? Maka, anak Anda pun ikut mengidolakan sosok itu demi diterima oleh teman-temannya. Demikian juga, jika grupnya mengidolakan sosok B, maka anak Anda niscaya ikut mengidolakan si B agar dapat diterima grupnya.

Sejauh role model yang dianut grupnya membawa pengaruh yang baik bagi anak Anda, Anda tidak perlu risau dengan pergaulannya. Apa yang menjadi masalah yaitu, role model yang dianut grupnya membawa pengaruh buruk bagi anak Anda.

Jika itu yang terjadi, maka Anda harus menjauhkan anak Anda dari pergaulannya. Sepintas, tindakan ini terkesan pilih-pilih. Yup! Memang, dalam pergaulan, anak perlu selektif dalam berteman. Pergaulan yang positif membawa pengaruh positif bagi anak Anda. Sebaliknya, pergaulan yang negatif membawa pengaruh negatif pula baginya.

Role Model Ideal: Superman atau…?

Siapa role model yang ideal? Manusia super yang hanya dalam khayalan atau manusia dalam kehidupan nyata?

Sepintas, sulit membayangkan anak Anda, yang sudah remaja, mengidolakan sosok manusia super seperti Superman, Ultraman, atau Spiderman. Anak sudah bisa membedakan mana sosok khayalan dan sosok yang nyata. Tetapi, tak tertutup kemungkinan ia masih mengidolakan sosok khayalan, sekalipun dalam bentuk yang lebih “realistis” (tidak bisa terbang tetapi memiliki kecerdasan super, misalnya). Ia mengindolakan sosok fiktif super jenius, misalnya, yang walaupun tanpa pendidikan sama sekali mampu menciptakan teknologi canggih. Atau, ia mengidolakan sosok super jenius yang mampu menyelamatkan dunia berkat tindakannya yang cerdas.

Nah, bagaimana jika anak Anda menjadikan sosok fiktif seperti itu (super jenius yang mampu menyelamatkan dunia berkat tindakannya) sebagai role model? Yang pasti, Anda harus waspada! Mengapa? Bagaimana pun juga sosok seperti itu hanya ada dalam khayalan. Jika anak Anda menjadikan sosok khayalan sebagai role model, maka yang dikhawatirkan, ia justru frustasi ketika tidak mampu mencontoh idolanya. Dan, bagaimana pun juga anak Anda memang tidak akan dapat mencontoh idolanya itu 100%.

Bagaimana tidak? Ia, manusia biasa, berusaha mencontoh sosok idolanya, yang hanya ada dalam fiksi. Maka, sudah barang tentu, anak Anda tak mungkin bisa menyamainya. Nah, melihat kenyataan itu, anak bukannya termotivasi tetapi justru frustasi karena tak bisa mencontoh idolanya.

Lantas, idealnya, role model itu yang bagaimana? Idealnya, role model adalah sosok yang memang ada dalam dunia nyata. Jika ia mengidolakan sosok jenius, maka Anda perlu mengarahkannya agar mengidolakan ilmuan-ilmuan dalam kehidupan nyata. Sekalipun jenius, para ilmuan itu tetap berusaha keras dalam mencapai kesuksesan. Kesuksesan mereka bukan datang “mak bedunduk”, tetapi merupakan hasil dari proses yang panjang.

Nah, sebenarnya, yang perlu dicontoh dari role model adalah proses dan usahanya dalam mencapai kesuksesan, bukan bentuk kesuksesannya.

Bakat, Minat, dan Kondisi

Selain sosok yang nyata, idealnya, role model juga memiliki skill, minat, bakat, dan kondisi yang sama dengan anak Anda. Sebagai contoh, jika anak Anda berminat dan berbakat dalam matematika, maka role model ideal baginya adalah para tokoh matematika yang berpengaruh di dunia. Jika ia memiliki minat baca yang tinggi, role model yang cocok baginya adalah tokoh-tokoh dunia yang terkenal gemar membaca. Jika ia bercita-cita menjadi musisi, maka role model ideal baginya adalah musisi terkenal, yang tentunya, selain pandai memainkan instrumen musik juga memiliki kualitas yang baik (jujur, tekun, setia kawan, baik, rendah hati, berprinsip).

Tak Ada yang Sempurna

Terakhir, siapa pun sosok role model anak Anda, yang pasti dia bukanlah orang yang sempurna. Anak Anda harus tahu kenyataan ini dan bisa menerimanya dengan lapang dada. Heheheh.

Dengan menyadari bahwa sosok role model-nya bukan manusia yang sempurna, ia tidak kecewa manakala mendapati sosok idolanya itu melakukan perbuatan yang mengecewakan. Selain itu, ia mampu memilah-milah perilaku idolanya yang patut dicontoh dan yang harus dijauhi.

Anak tidak boleh mencontoh perilaku idolanya 100%. Apa yang harus dicontoh anak dari role model-nya? Perilakunya yang konstruktif, yang menuntunnya pada kesuksesan. Sebaliknya, perilaku apa yang harus dijauhi anak dari role model-nya? Perilaku yang destruktif, diskriminatif, dan tidak sesuai nilai moral.

Contoh, konon katanya, Seteve Jobs dan Bill Gates pernah mengonsumsi narkoba. Nah, meskipun mencontoh tokoh-tokoh itu, anak Anda tidak boleh meniru mereka mengonsumsi narkoba. Anda perlu menjelaskan kepadanya bahwa kedua tokoh itu sukses bukan lantaran narkoba.

Role model merupakan faktor yang penting bagi pembentukan jati diri anak. Role model membantunya menemukan identitas yang paling cocok untuknya. Ia juga menginspirasi anak untuk berjuang lebih keras dalam mencapai kesuksesan. Ia menunjukkan jalan yang tepat, yang harus ditempuh anak untuk menjadi yang terbaik. Tetapi, jika anak salah memilih role model, akibatnya bisa fatal: Ia akan mengikuti teladan yang keliru, memilih jalan yang salah, dan membentuk identitas yang negatif. Untuk itu, Anda harus waspada. Tunjukkan pada anak role model yang positif, yang membantunya mencapai kesuksesan. 

Bagaimana? Anda setuju, bukan? 

Baca juga:

Cara Mudah Menumbuhkan Minat Baca pada Anak

Apa Bekal Terpenting bagi Masa Depan Anak Anda?

Anak Malas Belajar? Apa Penyebab dan Solusinya?

 

Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

Leave a Reply

Close Menu