Tingkatkan Semangat Belajar Anak dengan Kiat Ampuh Berikut Ini

 Anak saya nilainya jelek terus.”

Lho? Kok bisa?”

Kerjanya main mulu, sih. Main HP lah, game, nonton TV, dan yang paling disukainya, nyanyi-nyanyi ga jelas. Susah kalau dikasih tau.”

Tahukah Anda tentang apa percakapan di atas? Yup! Percakapan di atas tentang seorang ibu yang mengeluhkan nilai anaknya yang tidak pernah bagus. Hal itu dikarenakan sang anak lebih suka bermain daripada belajar.

Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda memiliki masalah yang sama dengan ibu pada percakapan di atas?

Jika ya, bagaimana membuat anak Anda semangat belajar?

Untuk mengetahui bagaimana membuat anak semangat belajar, baca artikel ini hingga selesai, ya. Dalam artikel ini, penulis akan megajak Anda untuk mengurai sebuah kiat ampuh meningkatkan semangat belajar anak.

Namun, sebelum sampai pada kiat itu, kita simak terlebih dulu yang berikut ini. Hal ini saaaaangat berkaitan dengan kiat tersebut.

Motivasi, Passion, dan Willpower

Ketika membahas semangat atau motivasi, apa yang terlintas di benak Anda?

Yup! Semangat dan motivasi berhubungan dengan kemauan/willpower. Selain itu, semangat juga berkaitan dengan minat/passion dan kecintaan.

Anda bersemangat melakukan sesuatu karena Anda memiliki willpower untuk bertindak. Nah, kemauan/willpower ini muncul, salah satunya lantaran Anda berminat dengan aktivitas itu. Anda cinta kepada aktivitas itu. Oleh karenanya, Anda bersemangat melakukannya.

Sebagai contoh, Anda bangun pagi-pagi buta setiap hari untuk berangkat ke kantor. Dalam perjalanan menuju kantor, hampir setiap hari jalanan macet. Tetapi, toh Anda tak pernah mengeluh. Anda tidak pernah mengeluh capai harus bangun pagi terus. Demikian juga, Anda tidak pernah mengeluh bosan harus berjuang melawan kemacetan.

Apa yang membuat Anda semangat bekerja? Salah satunya yaitu kecintaan Anda terhadap pekerjaan Anda. Anda memiliki minat/passion yang tinggi terhadap pekerjaan itu. Oleh karenanya, apa pun halangan di depan tidak dapat melunturkan semangat Anda.

Nah, bagaimana dengan semangat dan motivasi belajar anak Anda?

Problem Passion dan Willpower

Jika masalahnya adalah minat/passion, artinya untuk membuat anak Anda semangat belajar, Anda perlu mencari tahu minat dan kecintaanya. Anda perlu mencari tahu pelajaran apa yang diminatinya.

Tetapi, hal ini berarti, Anda mendorongnya semangat belajar hanya pada pelajaran yang diminatinya saja. Sementara itu, pelajaran yang lain, yang tidak diminatinya ia tinggalkan.

Jika begitu, maka minat/passion tidak dapat dijadikan sebagai penyemangat anak. Sebabnya yaitu, di masa-masa belajar, anak perlu mempelajari semua pelajaran, bukan hanya pelajaran yang disukainya. Bahkan, pelajaran yang ia benci pun wajib ia pelajari.

Demikian sistem pendidikan di sekolah berlaku. Tujuannya, untuk memberikan pengetahuan dasar bagi anak mengenai berbagai ranah, di mana pengetahuan itu menjadi bekal hidupnya di kemudian hari.

Memang benar, mulai dari kelas 1 SMA, anak dipersilakan untuk memilih jurusan yang sesuai minatnya. Biasanya, sekolah menyediakan tiga jurusan yakni IPA, IPS, dan bahasa. Tetapi, tetap saja anak yang masuk jurusan IPA harus belajar ekonomi dan bahasa. Demikian juga, anak IPS harus belajar bahasa dan matematika. Jadi, anak tetap harus mempelajari pelajaran yang tidak diminatinya.

Dengan demikian, minat/passion tidak begitu berpengaruh terhadap level semangat belajar anak.

Oya, selain itu, sekalipun anak Anda memiliki minat yang tinggi dalam belajar, tidak tertutup kemungkinan kemauannya untuk belajar meluntur. Ini dikarenakan, sebagaimana dijelaskan para pakar, willpower/kemauan senantiasa berubah-ubah. Willpower bisa meningkat. Tetapi, tak jarang pula ia menurun. Apabila willpower digunakan terus-menerus, lama-lama stoknya habis. Dan, untuk meningkatkannya lagi, Anda perlu me-recharge-nya.

Dengan begitu, willpower/kemauan juga bukan solusi mengatasi kemalasan anak.

Jika willpower dan minat/passion bukan solusinya, lantas bagaimana membuat anak semangat belajar? Dengan apa Anda membuat anak semangat belajar?

Apa pun itu, yang pasti, Anda harus mendekatinya dengan cara lain.

Berikut ini satu kiat ampuh meningkatkan semangat belajar anak. Dengan kiat ini, anak niscaya tetap semangat belajar sekalipun willpower-nya sedang turun. Anak tetap semangat belajar sekalipun ia tidak berminat pada pelajaran yang ia pelajari.

Bagaimana Membuat Anak Semangat Belajar?

Sekalipun willpower naik-turun, tidak berarti Anda tidak dapat membantu anak Anda untuk semangat belajar setiap waktu.

Anda dapat membuat anak Anda terus semangat belajar dengan cara mendisiplinkannya. Yup!! Mendisiplinkannya!

Apa, sih, yang dimaksud dengan disiplin?

Kamus bahasa Inggris Oxford Dictionary mendefinisikan disiplin sebagai berikut: “Training or control, often using a system of punishment, aim at producing obedience to rules, self-control.”

Disiplin adalah pendidikan atau kontrol, seringkali dengan menggunakan sistem hukuman, yang bertujuan untuk menciptakan kepatuhan pada aturan; kontrol diri.

Dengan definisi di atas, kita tahu bahwa elemen kedisiplinan meliputi peraturan dan hukuman. Sementara itu, tujuan diterapkannya kedisiplinan yaitu agar kita menaati peraturan tersebut. Adapun hukuman merupakan sarana untuk mengontrol kita supaya taat peraturan. Lebih jauh, kedisiplinan diterapkan agar kita tetap memiliki kontrol diri.

Dalam kaitannya dengan kegiatan belajar, disiplin berarti sistem yang sedemikian sehingga mampu mengontrol anak untuk rutin belajar.

Mengapa Anda perlu menerapkan kedisiplinan agar anak terus semangat belajar? Karena, kedisiplinan dapat melawan kemalasan dan kebosanan.

Bayangkan jika perusahaan tempat Anda bekerja tidak menerapkan kedisiplinan, bersediakah Anda datang ke kantor setiap hari? Bersediakah Anda berjuang melawan kemacetan setiap pagi?

Tentu tidak, bukan?

Anda bersedia datang ke kantor setiap hari karena peraturan perusahaan mewajibkan Anda datang setiap hari. Demikian juga, Anda rela terjebak macet setiap pagi karena Anda tidak ingin datang terlambat. Tetapi, mengapa Anda tidak ingin datang terlambat? Karena, perusahaan mewajibkan Anda datang tepat waktu.

Itulah KEDISIPLINAN! Itulah KEKUATAN KEDISIPLINAN!

Kedisiplinan memaksa Anda untuk datang ke kantor setiap hari. Kedisiplinan juga yang memaksa Anda untuk datang ke kantor tepat waktu.

Dan, meskipun terkesan memaksa, kedisiplinan memiliki dampak positif yang besar. Dengan kedisiplinan, aktivitas kerja di kantor berjalan lancar, di mana kelancaran kerja ini menjadi tonggak bagi kemajuan perusahaan. Akhirnya, apabila perusahaan maju, maka Anda pun turut menikmati kemajuannya.

semangat belajar

Sebagaimana kedisiplinan di kantor, demikian juga kedisiplinan dalam belajar. kedisiplinan dalam belajar memaksa anak untuk belajar rutin setiap hari.

Setelah menyimak penjelasan di atas, bagaimana pendapat Anda tentang kedisiplinan? Anda setuju, bukan, bahwa agar anak semangat belajar, Anda perlu menerapkan kedisiplinan?

Tidak perlu khawatir bahwa anak akan merasa terbebani dan tertekan dengan kedisiplinan. Perasaan terbebani dan tertekan hanya akan ia rasakan di hari-hari pertama Anda menerapkan disiplin kepadanya. Lama-kelamaan, ia akan terbiasa dengan aturan itu.

Dan, saat ia merasa terbiasa dengan aturan itu, ia tidak lagi merasa terbebani dengan aturan tersebut.

Jika tidak percaya, coba tanyakan kepada diri Anda sendiri, apakah Anda terbebani dengan aturan kantor yang mewajibkan Anda datang setiap hari. Tidak, kan?

Tanyakan juga pada para pelajar yang menempuh pendidikan kemiliteran, di mana mereka ditempa dengan kedisiplinan baja. Tanyakan apakah setelah satu tahun di sekolah militer mereka terbebani dengan disiplin yang diterapkan di sekolah.

Jika Anda dan siswa kemiliteran tidak merasa terbebani dengan kedisiplinan, maka demikian juga dengan anak Anda. Pada mulanya, ia merasa terbebani. Tetapi, lama-lama, ia akan terbiasa berdisiplin.

Bagaimana Menerapkan Kedisiplinan dalam Belajar?

Mengingat elemen kedisiplinan meliputi aturan dan hukuman, maka untuk mendisiplinkan anak, Anda perlu menerapkan aturan dan hukuman.

1. Aturan

Agar anak disiplin dalam belajar, buatlah aturan.

Lantas, bagaimana bentuk aturannya? Tujuan aturan adalah agar anak rutin belajar setiap hari. Jadi, aturan harus berupa seperangkat sistem yang dengan sistem itu anak rutin belajar.

Nah, kira-kira, aturan yang bagaimana yang membuat anak rutin belajar? Anda dapat membuat aturan dalam bentuk jadwal belajar atau jadwal kegiatan sehari-hari.

Masukkan kegiatan belajar dalam jadwal kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, kegiatan belajar menjadi bagian hidup anak Anda.

Dan, sejak ia menjadi bagian hidup anak Anda, maka anak Anda tidak akan melupakannya.

Apa saja yang perlu Anda perhatikan dalam membuat jadwal kegiatan sehari-hari?

a. Durasi

Pertama, durasi. Durasi harus jelas. Dengan begitu, anak tahu kapan ia harus memulai kegiatannya dan kapan harus mengakhiri kegiatan itu.

Anda dapat menetapkan durasi belajar 2 jam setiap hari.

b. Waktu luang

Selain waktu belajar, Anda juga perlu memasukkan waktu santai/istirahat dalam jadwal kegiatan anak Anda.

Bagaimana pun juga, anak membutuhkan waktu luang untuk bersantai. Ia butuh bersosialisasi dengan teman-temannya, bermain game, menonton TV, atau sekadar bermalas-malasan di rumah. Selain itu, dengan waktu istirahat/santai, anak me-recharge willpower-nya yang habis terkuras untuk belajar.

Dimasukkannya waktu luang dalam jadwal kegiatan anak juga dapat membantu anak untuk tetap fokus dalam belajar.

Kok bisa?

Begini penjelasannya: Apabila jadwal belajar dan jadwal bersantai ditetapkan, masing-masing punya waktunya sendiri-sendiri. Ada waktu untuk belajar, ada juga waktu untuk bersantai (bermain, bersosialisasi, tidur, bermalas-malasan).

Dengan begitu, anak tidak resah, ingin cepat-cepat kegiatan belajar selesai. Ia bisa fokus pada kegiatannya. Ia tidak memikirkan game manakala belajar. Demikian sebaliknya, saat bermain game, ia tidak perlu resah memikirkan belajar.

Anak tidak perlu resah karena semua kegiatan sudah ada waktunya sendiri-sendiri. Dengan begitu, ia bisa fokus melakukan kegiatannya.

2. Hukuman

Selain aturan, Anda juga perlu menerapkan hukuman. Hukuman bertujuan agar anak menaati peraturan/jadwal yang Anda buat.

Hukum anak Anda apabila ia melanggar jadwal kegiatan belajar.

Hukuman dapat beraneka macam. Hukuman dapat berupa pemotongan uang jajan, mewajibkan anak mengganti jadwal belajar yang dilanggar, atau memotong jadwal santai anak.

Tips Mendisiplinkan Anak

Selain aturan/jadwal dan hukuman, ada beberapa tips yang membantu Anda mendisiplinkan anak. Apa saja tips itu?

1. Jadikan belajar sebagai bagian hidup anak

Agar anak tidak lupa untuk belajar, jadikan kegiatan belajar sebagai bagian hidup anak. Sampaikan kepada anak tentang pentingnya memiliki waktu tersendiri untuk belajar. Anak harus meluangkan waktu untuk belajar setiap hari. Waktu belajar tidak bisa diganggu gugat oleh kegiatan lain.

Agar anak tergugah untuk belajar, ajak dia untuk membayangkan/memvisualisasikan manfaat belajar untuk masa depannya, juga dampak negatif malas belajar untuk masa depannya. Kita tahu bahwa konsekuensi negatif dan konsekuensi positif merupakan motivasi yang ampuh. Membayangkan konsekuensi positif atau konsekuensi negatif dari suatu perbuatan dapat mendorong kita untuk melakukan atau menghindari perbuatan tersebut.

Agar kegiatan belajar menjadi bagian hidup anak, tetapkan jadwal belajar. Anak harus belajar hanya pada jadwal itu, denga durasi yang sama setiap harinya. Dengan begitu, lama-kelamaan, kegiatan belajar menjadi kebiasaan.

semangat belajar

Ini seperti jadwal makan Anda. Setiap hari, Anda memiliki jadwal makan yang sama. Dan, karena jadwal itu sudah paten, Anda sudah terbiasa dengan jadwal itu, maka saat Anda melanggarnya, Anda bisa terserang maag. Mengapa? Karena, tubuh Anda sudah terbiasa makan pada jam yang sama. Sekali ia telat makan/makan bukan pada jam yang seharusnya, ia pun berontak.

Sebagaimana makan, belajar pun demikian. Tetapkan jadwal belajar yang sama setiap harinya agar anak terbiasa dengan jadwal itu. Apabila ia sudah terbiasa dengan jadwal belajarnya, maka saat ia tidak belajar, tubuhnya akan berontak. Hatinya akan resah, ingin segera belajar.

2. Stop perfeksionisme

Dalam menerapkan jadwal kegiatan, hindari sikap perfeksionis.

Apa itu sikap perfeksionis? Sikap perfeksionis adalah sikap menetapkan kesempurnaan sebagai standar kesuksesan.

Contoh, Anda menetapkan jadwal kegiatan untuk anak Anda. Tetapi, suatu hari, anak Anda melanggar jadwal tersebut.

Nah, karena hal itu, Anda pun menganggap bahwa semuanya hancur, bahwa jadwal yang Anda susun hancur berkeping-keping lantaran anak Anda mengacaukannya.

Mengapa Anda beranggapan bahwa semuanya hancur? Karena, Anda berprinsip seperti ini: “Taati jadwal itu atau tidak sama sekali!”.

Dengan prinsip itu, Anda ingin jadwal kegiatan anak Anda berjalan sempurna. Atau, jika tidak berjalan sempurna, lebih baik tidak usah menerapkan jadwal itu.

Nah, sikap Anda di atas itu merupakan contoh sikap perfeksionis.

Orang yang perfeksionis memiliki prinsip berikut: “Lakukan dengan sempurna, atau tidak sama sekali!” Akibatnya, saat kita tidak dapat melakukannya dengan sempurna, maka kita berhenti dan menyerah begitu saja.

Dengan prinsip di atas, saat kita tidak dapat melakukan sesuatu dengan sempurna, kita menganggap semuanya telah hancur, semua telah berakhir. Padahal, pada kenyataannya, semuanya tidaklah hancur, semua belum berakhir.

Pada kenyataannya, melanggar jadwal kegiatan tidak membuat dunia berakhir. Anda dan anak Anda masih saaaaangat bisa memperbaikinya.

Apabila anak melanggar jadwal belajar, bukan berarti besok ia melanggar jadwal itu lagi.

Contoh, jadwal belajar anak Anda yaitu malam hari, tepat setelah makan malam. Tetapi, suatu hari, ia melanggar jadwal itu. Tepat setelah makan malam, bukannya belajar, ia malah menonton TV sampai jam 9.

Nah, tidak perlu katastropik (menganggap semuanya sudah berakhir, sudah kacau dan tidak dapat diperbaiki) menghadapi hal itu. Bicaralah kepada anak Anda. Katakan bahwa ia harus mengganti jadwal yang dilanggarnya itu. Katakan bahwa ia harus bangun lebih pagi (daripada biasanya) untuk belajar karena pada malam sebelumnya ia tidak belajar.

Selanjutnya, ia dapat melaksanakan jadwal kegiatannya seperti biasa.

3. Teknik Anchoring

Terapkan teknik anchoring dalam menyusun jadwal kegiatan belajar. Teknik anchoring adalah teknik menghubungkan kebiasaan baru yang hendak dibentuk pada kebiasaan lama.

Sebagai contoh, agar anak Anda terbiasa belajar, Anda menetapkan jadwal belajar untuknya. Nah, agar anak tidak lupa jadwal belajar itu, hubungkan jadwal belajar dengan salah satu kebiasaan yang dilakukannya setiap hari.

Apabila anak terbiasa makan malam pada jam 6 sore, maka Anda dapat menghubungkan kegiatan belajar dengan kegiatan makan malam. Artinya, Anda dapat menyusun jadwal belajar tepat setelah jadwal makan malam.

Dengan begitu, setiap selesai makan malam, anak tidak lupa untuk belajar.

4. Jadilah orangtua yang demokratis

Terakhir, jadilah orangtua yang demokratis. Orangtua yang demokratis tidak anti terhadap aturan, larangan, dan hukuman. Sebaliknya, orangtua yang demoktratis memandang aturan, larangan, dan hukuman sebagai elemen-elemen yang penting dalam mendidik anak.

Secerdas dan sedewasa apa pun kita, kita tetap membutuhkan aturan. Anda membutuhkan aturan. Peraturan di kantor membuat Anda disiplin dalam bekerja. Aturan di kantor membuat Anda tepat waktu. Aturan juga membuat Anda teratur.

Negara yang demokratis juga memiliki aturan. Dalam negara yang demokratis, orang bebas berbuat semaunya. Tetapi, bukan berarti orang bebas menghina orang lain, bebas membunuh, menganiaya, dan mem-bully orang lain.

Nah, jika Anda yang sudah dewasa, sudah bisa membuat pilihan hidup sendiri butuh aturan, jika negara demokratis saja butuh aturan, bagaimana dengan anak Anda yang masih membutuhkan bimbingan dan pendidikan? Tentu, anak Anda jaaaaaauh lebih membutuhkan aturan.

Aturan membentuknya menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Aturan juga melindunginya dari penyesalan di hari tua.

Sekalipun menetapkan aturan, larangan, dan hukuman, orangtua yang demokratis tidak lantas bertindak sewenang-wenang terhadap anaknya. Setiap aturan dan hukuman yang ia tetapkan untuk anaknya senantiasa ia diskusikan terlebih dulu dengan si anak.

Dengan diskusi, ia tahu keberatan dan kesetujuan sang anak. Ia juga tahu bagaimana perasaan, keinginan, dan kendala sang anak.

Sikap itu berbeda dengan sikap otoriter. Orangtua yang otoriter menerapkan aturan dan hukuman, tetapi tidak mengkomunikasikan aturan itu kepada anak. Sebaliknya, mereka memaksakan aturan itu kepada sang anak.

Selain itu, sikap demokratis juga berbeda dengan sikap permisif. Orangtua yang permisif enggan menerapkan aturan dan hukuman. Mereka terlalu lunak kepada anak.

Orangtua yang permisif salah mengartikan demokrasi dengan kebebasan tanpa batas. Dengan kesalahpahaman itu, mereka memberi kebebasan yang luas pada anaknya. Walhasil, manakala anak malas belajar, mereka tidak dapat melakukan apa-apa untuk membantu sang anak keluar dari kemalasan.

Nah, Bunda, demikianlah kiat ampuh meningkatkan semangat belajar anak yang dapat penulis sampaikan. Semoga, kiat di atas bermnafaat bagi Anda dan anak Anda.

Baca juga:

Anak Malas Belajar? Apa Penyebab dan Solusinya?

Apa Itu Mental Block dan Bagaimana Mengatasinya agar Anak Lebih Optimis?

Cara Mendidik Anak agar Mandiri

Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

This Post Has 1 Comment

Leave a Reply

Close Menu