Taklukkan Stres: Rahasia Sukses Karir

  • Standard
  • 24 Feb 2014
  • 0 Comments
  • Rina Ulwia

Benner-1.png

,

stress-workplace-top-reasons1

Membayangkan tempat kerja membuatmu tertekan, bukan? Deadline yang mencekik, tanggung jawab yang besar, dan capai fisik dan mental sungguh membuatmu ingin melarikan diri! Eits, mau lari ke mana? Kamu dikepung masalah pekerjaan yang tak pernah habis!

Tidak ada jalan selain menghadapinya! Tapi, mungkin kamu berkata, “Menghadapi tekanan kerja membuatku stres.” Tak usah khawatir! Apa yang perlu kamu lakukan yaitu menaklukkan stres tersebut, mengontrolnya, dan menjadikannya motivasi untuk meraih sukses. Singkatnya, jadikan stres itu jalan menuju sukses.
Penasaran bagaimana stres bikin sukses? Ayo, ikut saya bertualang dan temukan rahasianya!

Penyebab Stress

Gejala Stres di Tempat Kerja

Ketika stres karena pekerjaan menjangkitimu, belum tentu kamu menyadarinya. Mungkin kamu terlalu sibuk mengeluhkan stres itu hingga tidak sadar bahwa kamu sedang dilanda stres. Yang pasti, jika hasil kerjamu menurun, atasan sering komplain, atau agenda yang kamu susun gagal, kamu wajib waspada. Jangan-jangan, kamu sedang dilanda stres hingga pekerjaanmu terbengkalai. Patut dicurigai juga jika akhir-akhir ini kamu sering uring-uringan.
Agar tidak terus-terusan mengganggu produktivitasmu, segeralah ambil tindakan untuk mengatasinya. Untuk meyakinkan bahwa kamu benar-benar dilanda stres karena lingkungan kerja, kenalilah gejala-gejalanya. Dengan begitu, kamu akan termotivasi untuk segera melakukan tindakan.

Bingung mengenali gelaja stres kamu? Berikut beberapa di antara gejala stres di lingkungan kerja. Mungkin ada beberapa di antaranya yang mirip dengan yang sedang kamu alami.

1. Konsentrasi terganggu
2. Daya ingat menurun
3. Kreativitas menurun
4. Pasif
5. Emosional
6. Murung
7. Diam
8. Bosan
9. Lemas
10. Mengantuk
11. Hasil menurun
12. Merokok
13. Kecewa dengan diri sendiri
14. Hilang kepercayaan diri
15. Insomnia

Nah, kira-kira mana yang mirip dengan gejala yang kamu alami? Jika kamu sudah dapat mengidentifikasinya, sekarang saatnya untuk mengetahui penyebab stres kamu.

Penyebab Stres di Lingkungan Kerja

Mungkin kamu sering bertanya, mengapa perubahan yang kamu buat tidak kunjung meningkatkan kinerja dan produktifitasmu. Bisa jadi ini disebabkan, perubahan tersebut tidak tepat sasaran sehingga tidak membawa dampak yang signifikan.

Sebagai contoh, merasa kinerja menurun, kamu pun mulai melakukan perbaikan. Kamu mulai lebih disiplin, menjaga kesahatan dengan makanan yang bergizi, menghindari alkohol dan kafein, dan lebih aktif dalam kerja tim. Akan tetapi, perubahan tersebut kurang berdampak pada kinerjamu. Produktivitasmu tak kunjung meningkat. Kamu tetap tertekan dan stres di tempat kerja.

Jika kamu menjumpai kejadian seperti itu, mulailah menelusuri penyebab kamu stres dan kinerjamu menurun.

Dalam contoh di atas, setelah kamu menelusuri akar penyebab stres yang kamu alami, kamu dapati bahwa penyebabnya adalah konflik personal dengan rekan kerja. Nah, setelah mengetahui penyebabnya, kamu pun dapat segera melakukan tindakan untuk menaklukkan stres karena konflik dengan rekan kerja tersebut. Caranya dengan mempersiapkan diri untuk menghadapi sumber tekanan. Dengan begitu, kamu siap manakala tekanan datang bertubi-tubi.
Stres yang kamu alami akan menjadi stres yang positif yang mampu memotivasimu sehingga bersemangat untuk meraih hasil yang memuaskan.
Itulah manfaat dari mengidentifikasi masalah yang menyebabkan kamu stres.

Lalu, apa saja kira-kira penyebab stres di lingkungan kerja? Penasaran?

Ada dua faktor yang menyebabkan kamu tertekan ketika bekerja di kantor. Ia dapat berupa faktor profesionalitas maupun faktor personal. Faktor profesionalitas berarti bahwa tekanan di tempat kerja berasal dari pekerjaan itu sendiri. Contohnya, tugas yang sulit dikerjakan atau lambatnya hasil kerja divisi lain, yang membuatmu ikut terlambat memrosesnya.

Sementara itu, faktor personal dipahami sebagai faktor yang tidak berkaitan dengan tugas-tugasmu di kantor. Sekalipun begitu, sebenarnya, faktor ini memengaruhi kinerjamu, meskipun secara tidak langsung. Sebagai contoh, masalah pribadi antara kamu dengan rekan kerja atau atasan.

Meskipun tidak berhubungan dengan tugas-tugas yang kamu kerjakan, masalah ini bisa mengganggu profesionalitas, lho. Jadi, kamu harus memerhatikannya.

Berikut beberapa masalah yang menyebabkan kamu stres di lingkungan kerja.

1. Masalah profesionalitas

a. Waktu

Pekerjaan belum selesai, padahal deadline sudah menunggu. Atasan memintamu untuk segera menyelesaikannya.

Sering mengalami kejadian tersebut? Deadline memang sering membuatmu tertekan, apalagi jika tugas yang kamu emban sangat banyak. Tentu membutuhkan perjuangan penuh untuk menyelesaikannya.

b. Rencana

Ide tidak selalu muncul di benakmu. Terkadang, merumuskan apa yang akan kamu kerjakan sangat menyusahkan. Pikiran buntu. Ide mentok. Kamu pun bingung dan tidak tahu apa yang harus kamu lakukan. Ujung-ujungnya, kamu stres!

c. Tanggung jawab

Stres juga dapat menyerang lantaran kamu mengemban tanggung jawab yang menurutmu terlalu berat sehingga kamu tidak sanggup memikulnya. Mungkin kamu berpikir bahwa kamu tidak memiliki kompetensi yang cukup untuk mengemban tanggung jawab tersebut. Atau, kamu merasa tanggung jawabmu terlalu besar, dan tidak sesuai dengan keuntungan yang kamu peroleh.

d. Atasan yang perfeksionis

Memiliki atasan yang perfeksionis merupakan berkah yang patut disyukuri. Darinya, kamu dapat belajar mengenai berbagai hal. Kamu dapat belajar menjadi tipe yang tidak gampang puas. Dengan begitu, kreativitasmu meningkat. Kamu juga dapat belajar untuk lebih teliti. Secara tidak langusng, atasan yang perfeksionis menuntun kamu menjadi pribadi yang jauh lebih berkualitas dari sebelumnya.
Namun demikian, di balik keberkahan itu, terkadang tersimpan tekanan yang meneror.
Teror muncul ketika kamu belum siap dikritik, dikomplain, dan diminta untuk menyempurnakan hasil kerjamu. Bisa jadi, hal tersebut dikarenakan tugasmu sedang menumpuk sehingga menyempurnakan pekerjaan, yang menurutmu sudah sempurna, membuatmu malas. Mungkin kamu juga berpikir, lebih baik kamu mengerjakan tugas lainnya agar lebih efektif dan efisien waktu.

Pikiran-pikiran negatif itu justru mmbuatmu tambah tertekan ketika mendengar komplain dan kritikan.

e. Kerja sama tim

Ketidaksolidan tim pastinya membuatmu jengkel. Terlebih apabila tugas-tugasmu terbengkalai karena tim tidak profesional. Masing-masing anggota tim tidak mengetahui tugas secara jelas sehingga terjadi kebingungan dalam mengimplementasikan kerja sama. Karena kerja terbengkalai, kamu mulai uring-uringan. Dan, stres pun datang.

f. Manajemen

Manajemen yang buruk membuat kamu, sebagai karyawan bingung. Kamu akan melakukan tugas-tugas tanpa panduan yang jelas. Hal tersebut tentu akan membuatmu stres karena bingung dengan apa yang harus kamu kerjakan.

g. Jaringan

Lingkungan kerja dengan struktur SDM yang lemah dan tidak konsisten, dan kurangnya prosedur untuk sharing mengenai masalah-masalah yang ada berarti bahwa karyawan, termasuk kamu, dibiarkan untuk memecahkan masalahnya sendiri. Ada saatnya ketika kamu tidak dapat mengatasi masalahmu tanpa bantuan orang lain. Untuk itu, apabila jaringan di lingkungan kerjamu buruk, maka kamu akan rentan terkena stres.

2. Masalah personal

a. Hubungan dengan rekan

Di tempat kerja, kamu bertemu dengan bermacam orang dengan karakter yang berbeda. Oleh karena itu, ada saat tertentu di mana konflik niscaya timbul. Konflik personal yang terjadi antara kamu dengan rekan kerja akan memengaruhi mentalmu, yang bisa membuatmu stres. Pada ujungnya, hal tersebut akan membawa dampak negatif pada kinerjamu. Konflik pribadi juga dapat melebar menjadi konflik profesionalitas. Kerja sama dengan tim dapat terganggu karenanya.

b. Hubungan dengan atasan

Memiliki hubungan persahabatan dengan atasan pasti membuatmu bangga. Banyak segi positif yang dapat diambil. Kamu tidak perlu sungkan ketika sharing masalah pekerjaan dengannya. Akan tetapi, jika hubungan personalmu dengan atasan terjadi konflik, akibatnya bisa fatal! Kamu bisa stres dibuatnya. Bahkan, level stres bisa lebih berat daripada stres karena konflik dengan rekan.

Stres semakin menjadi-jadi karena kamu berpikir, atasan membawa konflik tersebut ke ranah profesional. Kamu membayangkan hal-hal yang tidak kamu inginkan. Akibatnya, pekerjaanmu terbengkalai karena konsentrasimu bukan tertuju pada tugas, melainkan pada bayangan-bayangan itu.

c. Sakit

Deadline sudah menunggu; kamu baru setengah mengerjakan tugas; Atasan memintamu lembur. Padahal, kamu sedang tidak enak badan. Menahan rasa sakit saat bekerja akan memperparah penyakit yang kamu derita. Pernah mengalaminya? Waspada, ya.

d. Masalah psikologis

Jika kamu tipe pesimis, kamu akan menghadapi tekanan di tempat kerja dengan keyakinan yang kurang. Kamu kurang yakin bahwa kamu dapat menyelesaikan tugas tepat waktu. Kerja sama dengan tim pun akan terhambat karena kamu pesimis dengan kinerja rekan-rekan tim. Sifat pesimis membuatmu menyerah sebelum berperang. Kamu takut hasil kerjamu mengecewakan. Pikiranmu hanya berkutat pada hasil, yang belum lagi kamu kerjakan.

Begitu juga jika kamu tipe pendengki. Kamu akan merasa bahwa lingkungan kerja merupakan tempat yang penuh persaingan. Kamu akan mencurigai rekan-rekanmu.
Sekalipun lingkungan kerja merupakan arena persaingan yang ketat, bukan berarti kamu terobsesi terhadapnya. Terlalu terobsesi dengan persaingan berarti memandang bahwa hubungan antar-rekan kerja hanyalah hubungan persaingan. Siapa yang menang pautut menyandang gelar juara, sementara yang kalah dipandang sebagai pecundang. Pikiran seperti itu timbul karena kamu memandang persaingan sebagai tujuan, bukan sarana. Padahal, persaingan hanyalah salah satu sarana yang memotivasimu menjadi lebih baik.

Nah, sifat pesimis dan dengki hanya dua contoh masalah psikologis yang membuatmu stres di lingkungan kerja. Masih banyak lagi masalah psikologis lainnya yang merugikan dan membuatmu stres. Segeralah cari solusi untuk mengatasinya.

Menaklukkan Stres

Setelah membaca subtopik di atas, sudahkah kamu mengenali penyebab stres yang kamu alami? Sekarang, ayo lanjutkan petualangan untuk menemukan rahasia sukses dengan menaklukkan stres. Tidak usah terburu-buru, karena sebentar lagi petualangan selesai. Kamu bisa mempraktikannya di kehidupan nyata. Dan, nikmati hasilnya!

Berikut ini beberapa rahasia menakklukkan stres disesuaikan dengan kategori penyebab dan level pengaruhnya terhadap stres yang kamu hadapi.

1. Profesionalitas

a. Manajemen waktu

Apabila stres kamu dikarenakan masalah seputar deadline, segera atur ulang waktu. Koreksi jadwal-jadwal yang membuat kinerjamu tidak efektif dan efisien waktu.

b. Mind mapping

Apabila kamu tidak memiliki rencana yang jelas, sudah pasti pekerjaan amburadul. Kamu akan bingung untuk memulainya. Bisa-bisa strategi yang kamu terapkan tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, buatlah perencanaan dari tugas yang hendak kamu kerjakan. Buatlah outline atau mind map mengenai rencana kamu. Dengan begitu, ide-ide kamu yang tadinya abstrak, menjadi jelas.

bad-debts

Mind map atau outline juga berguna sebagai patokan ketika kamu mengimplementasikannya. Jika di tengah proses kerja, kamu mengalami kebingungan karena langkah melenceng dari rencana semula, kamu bisa langsung melihat dan mencocokkan langkah tersebut dengan mind map yang sudah kamu buat.

c. Catat problem

Saya yakin kamu pernah menemui masalah di tengah proses kerja. Hal tersebut bahkan membuat kamu stres karena masalah itu begitu peliknya sehingga susah untuk diselesaikan pada waktu itu juga. Kamu perlu mengonsultasikannnya dengan rekan atau atasan.

Situasi akan semakin pelik jika kamu tidak mencatat problem yang kamu jumpai karena bisa jadi kamu lupa untuk mengonsultasikannya kepada atasan, yang pada gilirannya kamu mengesampingkan masalah terseebut. Padahal, agar tugas selesai, kamu harus menyelesaikan problem tersebut. Nah, tidak mau hal seperti itu terjadi dan membuatmu stres? Catatlah problem yang kamu temui di tengah proses pekerjaan. Setelah kamu merasa cukup banyak waktu untuk mengonsultasikannya dengan atasan, segeralah berkonsultasi. Tujuannya supaya problem tersebut cepat selesai. Dengan begitu, tugas pun selesai tepat waktu.

d. Belajar

Stres yang kamu alami di tempat kerja bisa jadi karena kamu kurang up to date. Kamu ketinggalan dalam segala hal. Padahal, kamu perlu menguasai berbagai bidang keterampilan demi produktifitas kerja. Keterbatasan pengetahuan yang kamu miliki akan membuatmu tertekan dan stres karena tidak bisa mengikuti perkembangan yang terjadi. Kamu semakin tertinggal di belakang.

Sebagai contoh, kamu bekerja sebagai staf keuangan. Jika kamu tidak pernah meng-upgrade pengetahuan seputar software keuangan terbaru, niscaya kamu akan tertinggal dari rekan yang lebih up to date. Apalagi jika software itu secara resmi digunakan oleh manajemen perusahaan. Mau tidak mau kamu harus ikut menggunakannya.

Jika kamu tidak banyak belajar tentang software tersebut, pekerjaan bisa terbengkalai karena kamu akan menghabiskan waktu untuk bertanya kepada rekan mengenai cara menggunakan software tersebut.
Tidak mau stres karena kurang pengetahuan? Banyaklah belajar.

e. Teliti

Kesempurnaan adalah dambaan setiap orang. Atasan dan kamu sendiri senantiasa mendambakannya. Kesempurnaan merupakan tanda kualitas.

Nah, berkaitan dengan pekerjaan, hasil yang kamu capai haruslah sempurna. Kekurangan di sana-sini akan membuat atasan komplain. Tidak mau, kan, stres gara-gara terus menerus dikomplain? Sempurnakan hasil kerjamu! Caranya, teliti hasil kerja. Catat poin-poin yang kurang, kemudian lakukan tindakan untuk melengkapinya. Jika ada masalah, tanyakan pada atasan atau rekan kerja.

f. Deskripsi kerja

Apabila kerja tim terganggu karena masing-masing individu tidak paham tugasnya, segeralah menanyakan kepada koordinator atau atasan mengenai kejelasan deskripsi kerja masing-masing.

Publikasikan deskripsi kerja tersebut kepada rekan-rekanmu sehingga mereka paham posisi dan kapasitas masing-masing. Mengetahui deskripsi kerja membantu tim untuk mengimplementasikan kerja sama dengan efektif.

g. Tawarkan solusi

Apabila terjadi konflik antara kamu dengan rekan tim, hindari memandang konflik tersebut sebagai masalah yang tidak dapat terpecahkan. Pandanglah konflik sebagai proses menuju kemajuan. Tawarkan solusi pada rekan yang sedang berkonflik denganmu. Agar dia mau menerima tawaranmu, solusi tersebut harus memiliki dampak yang menguntungkan baginya.

h. Bertanya

Di tengah proses kerja, sekali waktu kamu akan menemui masalah berat yang tidak dapat kamu selesaikan sendiri. Hal tersebut akan membuatmu bingung, takut, dan stres. Terlebih, jika kamu tidak tahu harus ke mana mengadu.

Agar kejadian seperti itu tidak terjadi, banyak-banyaklah bertanya. Tanyakan pada manajemen mengenai struktur organisasi perusahaan. Jika tidak ada yang bisa kamu tanyai, tanyalah rekan yang sudah lama bergabung di perusahaan itu. Tanyakan siapa atasan langsung kamu, yang dengannya kamu dapat berkonsultasi mengenai tugas-tugas kamu.

Tanyakan juga divisi apa saja yang berkaitan dengan divisimu. Apa tugas dan kewenangan mereka, serta apa yang bukan kewenangan mereka. Dengan begitu, kerja sama antara kamu dengan rekan divisi lain akan berjalan lancar.

2. Personal

a. Psikologis

1) Olah batin

Masalah psikologis dapat membawa dampak yang buruk bagi produktivitas. Waktu kamu tersisa hanya untuk mendramatisasi perasaan dan pikiran-pikiran negatifmu. Semakin kamu mendramatisasi perasaan dan pikiran-pikiran negatif kamu, semakin stres menjangkitimu.

Oleh karena itu, kamu perlu melatih diri dengan olah batin. Telusurilah kelemahan mentalmu, yang membuatmu selalu berpikir negatif. Carilah hikmah di balik segala kejadian. Ini membantumu memandang hidup secara positif.

2) Berkonsultasi

Jika menurutmu, kamu mengalami gangguan mental yang akut atau kronis, segeralah mencari bantuan. Sebagai contoh, berkonsultasi ke psikolog atau psikiater, konseling, atau mengikuti kelas-kelas pengembangan kepribadian.

b. Hubungan dengan rekan

1) Komunikasi

Konflik personal seringkali terjadi karena miskomunikasi. Salah menerima informasi membuat kamu atau rekanmu salah menilai. Konflik pun muncul karenanya. Untuk itu, komukasikanlah konflik dengannya. Buatlah klarifikasi jika ia salah menilaimu. Dan, sebaliknya, jika kamu berpikir ia yang bersalah, maka berbesar hatilah untuk memberi maaf.

Jangan lupa, perhatikan waktu yang tepat untuk mengomunikasikan konflik. Pahami keadaan rekan yang berkonflik denganmu. Jangan sampai kamu mengajaknya untuk mendiskusikan masalah saat dia masih dikuasai amarah. Tunda diskusi jika ia sedang sakit atau stres. Apabila ia tidak ada di tempat, hindari mendiskusikan masalah lewat SMS, BBM, telepon, atau pesan elektronik lainnya. Terkadang, komunikasi tidak langsung lewat perangkat-perangkat seperti tersebut di atas berpotensi pada kesalahpahaman. Hal itu tentu akan memperparah keadaan.

Ketika mendiskusikan masalah dengan rekan, tidak perlu dtramatis. Hindari mengancamnya dengan berbagai ancaman. Hindari pula mengejek, apalagi mengadakan serangan fisik.

Apabila ucapan rekan membuatmu sakit hati, jangan bereaksi secara frontal. Ambillah napas dalam-dalam, dan embuskan perlahan. Hal tersebut berguna untuk mengontrol emosi. Setelah emosimu terkontrol, pikiranmu dapat memilah dan membedakan antara maksud dan emosi yang terkandung dalam ucapannya.

Seringkali, ia tak bermaksud mengucapkan kata-kata yang menyakiti hatimu. Ucapan yang menyakiti hati terlontar lantaran dia emosi, bukan berasal dari lubuk hatinya yang terdalam. Dengan begitu, kamu dapat memaklumi ucapannya.

Satu yang harus kamu ingat, apabila kamu memang beri’tikad baik untuk menyelesaikan konflik, kamu akan bersikap bijak menghadapi konfrontasi dengannya. Banyaklah mendengar dan kurangi berbicara. Beri ia kesempatan untuk berbicara, menyuarakan pendapat dan harapannya kepadamu.

2) Bersosialisasi

Semakin sedikit teman di lingkungan kerja akan melemahkan posisimu. Jika ada masalah yang menimpamu, akan sedikit yang bersedia membantu. Terlebih jika kamu bermasalah dengan salah satu dari rekan yang memiliki banyak teman. Bisa-bisa, teman-temannya menyerang dan mem-bully dirimu. Kamu akan menajdi bahan omongan. Apapun yang kamu kerjakan dan ucapkan akan selalu salah di mata mereka. Hal terburuknya, tempat kerja serasa neraka!

Oleh karena itu, bersosialisasilah dengan semua rekan kerja. Berbuat baiklah pada mereka, niscaya mereka juga akan berbuat baik dan memberimu support.

3) Sharing

Jika ada masalah dengan rekan kerja, sebaiknya jangan disimpan sendiri. Ceritakan masalah tersebut kepada rekan yang kamu percayai. Barangkali, ia dapat memberi masukan untuk menyelesaikan masalah yang kamu hadapi.

Apabila ia tidak memberi masukan, paling tidak kamu bisa meluapkan kekesalan dan emosi kepadanya. Dengan begitu, perasaanmu lebih plong.

Sharing juga bisa menjadi klarifikasi kalau-kalau lingkungan kerja menebak-nebak apa yang terjadi antara kamu dengan rekan kerja.

c. Hubungan dengan atasan

Memiliki konflik pribadi dengan atasan merupakan masalah yang serius. Konflik dengan atasan pastinya membuatmu takut dan tertekan. Jangan panik jika hal itu terjadi. Yang harus kamu lakukan yaitu mengajaknya mendiskusikan masalah tersebut. Perlu diingat, saat mengomunikasikan masalah dengannya, gunakan etika dan sopan santun yang pantas. Ia adalah bosmu, maka etika berbicara dengannya pun berbeda dari etika berbicara dengan rekan kerja.

d. Sakit

1) Siapkan obat dan alat kesehatan

Sakit yang kamu derita akan mengganggu kinerja. Terlebih jika kamu berfokus pada rasa sakit tersebut. Pekerjaan pun terbengkalai karenanya. Apabila tidak segera ditangani, sakit akan membuatmu menderita dan tambah stres.

Untuk itu, sebaiknya persiapkan obat-obatan dan alat kesehatan, seperti inhaler, jika kamu menderita asma. Simpan di dalam laci atau tas. Tujuannya untuk memudahkanmu mendapatkan pertolongan ketika sakit.

2) Olahraga

Rutin berolahraga dapat menghindarkanmu dari penyakit. Untuk itu, segeralah meluangkan waktu untuk berolahraga. Lakukan secara rutin setiap hari.

Apabila tempat kerja jauh sehingga tidak ada waktu untuk berolahraga, kamu masih dapat berolahraga di kantor pada jam istirahat. Bagi waktu istirahat di kantor menjadi dua. Pertama, gunakan waktu untuk makan. Kemudian, 30 menit setelah makan, lakukan olahraga ringan seperti jalan-jalan di sekitar ruangan atau sekitar gedung kantor.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Kyoto Prefectural University menyatakan bahwa olahraga yang dilakukan satu jam setelah makan dapat mengurangi trigliserida alias lemak dalam darah. Kadar trigliserida dalam darah memengaruhi kesehatanmu, lho. Kadar trigliserida yang terlalu tinggi membuatmu semakin rentan terkena penyakit jantung.
Nah, karena waktu istirahat di kantor hanya satu jam, tidak mungkin kamu menunggu hingga satu jam untuk berolahraga. Jadi, cukup tunggu 30 menit saja untuk memulai latihan.

3) Makanan dan minuman

Jangan sampai sakit mengganggu kinerjamu di kantor. Untuk itu, lebih baik mencegahnya sebelum penyakit timbul.

Ada banyak cara mencegah penyakit, salah satunya dengan menerapkan pola makan sehat. Jika upaya pencegahan sudah kamu lakukan, tapi toh tetap terserang sakit juga, buatlah teh kental atau teh hijau. Teh kental dapat mengurangi kadar hormon kortisol yang menyebabkan stres, sedangkan teh hijau mengandung theanin yang dapat merelaksasi otak. Sebuah studi yang dipublikasikan di Harvard Women’s Health Watch mengonfirmasi hal tersebut.

Jika teh baik dikonsumsi saat stres melanda, tidak demikian dengan rokok, kopi, dan minuman beralkohol. Dalam Encyclopedia of Good Health: Stress and Mental Health, Dr. Mario Orlandi dan Dr. Donald Prue mengatakan bahwa stres akan semakin memburuk ketika kita mengonsumsi minuman beralkohol, kopi, dan rokok.

4) Istirahat

Stres bisa mengakibatkan kamu insomnia. Hal itu dikarenakan, kamu terus-terusan berpikir mengenai masalah di tempat kerja. Akibatnya, kinerja kamu tambah menurun.

Tidak mau, kan, kinerja semakin menurun karena insomnia dan kurang istirahat? Aturlah waktu istrirahat. Jika di hari-hari kerja waktu istirahatmu kurang, perbanyak istirahat di hari libur. Apabila insomnia melanda, carilah solusi untuk mengatasinya.

Kamu dapat melakukan kegiatan yang dapat membuatmu tidur. Menurut pengalaman saya, membaca buku dengan konten yang berat membuat saya tertidur. Mungkin kamu pun bisa menerapkannya juga.

Akan tetapi, jika membaca buku menjelang tidur justru membuatmu tambah stres, cobalah untuk mengosongkan pikiran dan pejamkan mata. Jangan berpikir tentang apapun. Dengan begitu, pikiranmu tenang.

Sebelum tidur, matikan lampu. Menurut penelitian, intensitas cahaya memengaruhi produksi hormon melatonin dalam otak. Nah, kadar melatonin ini mempersiapkan otak untuk berpikir. Kadar melatonin yang cukup dalam otak membuatmu terjaga karena otakmu dalam kondisi aktif berpikir. Oleh karena itu, kamu perlu menurunkan produksinya dengan mematikan lampu.

Mudah, bukan, menaklukkan stres di lingkungan kerja? kata kuncinya adalah MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK MENGHADAPINYA. Saat kamu berhasil menaklukkan stres, apa yang kamu lakukan, termasuk meraih sukses karir, menjadi jauh lebih mudah.

Mulai sekarang, siapkan diri untuk hadapi tantangan, ya. Jangan lupa beri komentar 🙂Benner-1.png

 

Leave a Comments