3 Cara Dahsyat Melenyapkan Kebiasaan Menunda-nunda Pekerjaan

Shares

Hari ini hari Jumat. Ada tugas yang harus selesai hari ini. Tiga hari yang lalu, Anda sudah diamanatkan oleh atasan Anda untuk mengerjakannya. Tetapi, tak tahu mengapa, Anda terus menerus menunda-nunda mengerjakannya hingga menit terakhir.

Sekarang, Anda kewalahan mengerjakan tugas itu. Waktu tinggal beberapa jam saja untuk menyerahkannya kepada atasan.

Kira-kira, bisakah Anda mengerjakannya dengan tenang? Mampukah Anda mengerjakannya tanpa kepanikan? Atau, jangan-jangan hasilnya nanti berantakan karena Anda mengerjakannya dengan tergesa-gesa.

Ilustrasi di atas menggambarkan keadaan yang bakal Anda alami ketika Anda menunda-nunda pekerjaan.

Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan tampaknya sepele. Tetapi, ia sangat berpengaruh pada kinerja Anda. Ia memiliki dampak yang buruk bagi diri Anda. Tentu, Anda sudah hapal, bukan, dampak-dampak negatif kebiasaan menunda-nunda pekerjaan? Kerjaan tidak beres, kena tegur atasan, produktivitas menurun. Dan, yang paling parah… Hmmm, sanggupkah Anda membayangkan dampak yang paling parah?

Mengingat dampak negatif yang disebabkan oleh kebiasaan menunda-nunda pekerjaan seperti di atas, tentu, Anda tidak mau, bukan, terus-terusan terjebak dalam kebiasaan itu?

Dalam artikel ini, kita akan mengulas tiga cara dahsyat untuk melenyapkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan. Semoga, artikel ini dapat memberikan manfaat kepada Anda.

Sekarang, yuk, langsung saja kita simak ulasan lengkapnya berikut ini.

1. Berdiam Diri

Bayangkan Anda sedang saaaaangat malas bekerja. Anda pun lantas memutuskan untuk mengambil cuti.

Tetapi, karena tidak ada rencana untuk berlibur, pada akhirnya, Anda hanya menghabiskan cuti tersebut di rumah.

Di rumah, berhubung Anda sungkan jalan-jalan keluar rumah karena khawatir dinilai sebagai pemalas, Anda pun hanya berdiam diri saja di dalam rumah. Anda menghabiskan waktu hanya untuk menonton TV.

Celakanya, acara TV tidak ada yang menarik. Isinya hanya acara lagu-lagu yang biasa disukai anak muda. Atau, jika tidak, isinya drama-drama yang membosankan.

Nah, kira-kira, apa yang Anda rasakan?

Penulis berani bertaruh, Anda akan merasa bosan. Dan, pada ujungnya menyesal karena memilih untuk cuti.

Niscaya akan timbul rasa rindu terhadap pekerjaan Anda di kantor. Anda ingin hari segera berlalu, esok datang lagi, dan Anda bekerja kembali.

Nah, gambaran di atas mengisyaratkan bahwa kita cenderung tidak senang manakala tidak dapat melakukan aktivitas apa pun. Kita akan merasa bosan saat tidak ada hal yang dapat kita kerjakan.

Kebosanan itu mendorong kita untuk mencari kegiatan yang menarik.

Nah, kecenderungan di atas dapat kita manfaatkan untuk mendorong motivasi kerja kita. Caranya yaitu, saat Anda bosan bekerja, sedang tidak mood, dan Anda ingin menunda pekerjaan Anda, maka berhentilah bekerja. Berhentilah mengerjakan tugas Anda.

Tetapi, jangan lakukan aktivitas lainnya. Cukup Anda berdiam diri di meja Anda. Hindari membuka media sosial. Hindari mendengarkan musik. Hindari percakapan dengan orang lain. Pokoknya, hindari hal-hal yang menurut Anda merupakan kegiatan yang menyenangkan.

Teruslah berdiam diri dan tunggulah apa yang akan terjadi.

Yang akan terjadi yaitu, Anda akan merasa bosan. Dan, kebosanan ini menyadarkan Anda bahwa lebih baik Anda gunakan waktu yang ada untuk mengerjakan tugas Anda daripada hanya untuk bengong-bengong dan melamun.

Cara ini didasarkan pada apa yang disampaikan oleh Gretchen Rubin dalam sebuah artikel berjudul Problem with Procrastination? Try This: Do Nothing, yang termuat dalam situs psychologytoday.

Dalam artikel itu, dijelaskan bahwa seorang penulis produktif, Raymond Chandler memiliki sebuah kebiasaan yang aneh tetapi ampuh dalam menghindarkannya dari menunda-nunda pekerjaan. Ia terbiasa berdiam diri beberapa waktu, tanpa mengerjakan apa pun. Ia tidak membiarkan dirinya sendiri membaca buku, menulis surat, dan melakukan aktivitas apa pun. Setelah ia bosan berdiam, maka ia terdorong untuk menyelesaikan tulisan-tulisannya.

Two very simple rules. a. you don’t have to write; b. you can’t do anythong else. The rest comes of itself,” Chandler menyarankan. Dua aturan yang sangat sederhana: a. Anda tidak perlu menulis. b. Anda tidak dapat melakukan aktivitas lainnya. Sisanya akan datang dengan sendirinya.

2. Permainan

Cara yang kedua yaitu mengkondisikan kerja sedemikian sehingga menjadi permainan yang menarik dan menyenangkan.

Sebagai contoh, Anda sedang mengerjakan tugas di kantor. Tetapi, sebenarnya, Anda sedang sangat malas mengerjakannya. Anda ingin break sejenak karena terpikat untuk mengerjakan aktivitas lainnya seperti membuka email, berinteraksi di social media, atau membaca berita online.

Namun demikian, Anda sadar bahwa dengan mengiktui kemauan Anda untuk bermain social media atau membaca berita online alih-alih bekerja merupakan tindakan yang kurang produktif. Anda sadar Anda harus menghindari godaan-godaan itu.

Nah, untuk menghindari godaan itu, Anda dapat menciptakan permainan yang menyenangkan lewat pekerjaan Anda. Sebagai contoh, Anda dapat mengajak teman Anda untuk berkompetisi untuk menilai siapa yang lebih dahulu menyelesaikan pekerjaan. Atau, siapa yang lebih tahan bekerja dalam waktu 2 jam tanpa jeda.

Dengan kompetisi seperti itu, niscaya Anda akan lebih antusias bekerja karena Anda tidak mau kalah dari rekan kerja Anda.

Di samping permainan di atas, tentu masih ada banyak permainan lainnya yang dapat Anda ciptakan untuk membuat pekerjaan Anda jauh lebih menarik dan menyenangkan.

Oya, cara di atas didasarkan pada apa yang disampaikan oleh Marty Nemko, dalam artikel berjudul Fun Ways to Beat Procrastination yang termuat dalam situs psyhologytoday.

Dalam artikel itu, Nemko menjelaskan bahwa kita cenderung lebih menyukai aktivitas yang menyenangkan ketimbang aktivitas yang kaku dan penuh tekanan. Nah, oleh karena itu, untuk mensiasati kebosanan mengerjakan tugas (aktivitas yang tidak menyenangkan), kita dapat menjadikan tugas tersebut sedemikian sehingga menjadi tugas yang menyenangkan.

3. Identitas Diri

Terkadang, kita terdorong untuk menunda-nunda pekerjaan karena ada hal lain yang jauh lebih menarik daripada tugas kita seperti media sosial, berita, musik, atau mengobrol dengan teman.

Kita menunda-nunda pekerjaan lantaran kita lebih memilih untuk berinteraksi di media sosial, untuk mendengarkan musik, atau mengobrol dengan teman daripada menerjakan tugas yang berat.

Nah, menurut Elliot Berkman, seorang ahli psikologi dari Universitas Oregon, memang demikianlah apa yang terjadi saat kita menunda-nunda pekerjaan. Apa yang mendorong kita menunda pekerjaan yaitu kita dihadapkan pada dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah aktivitas “kerja”, yang tidak menarik, sedangkan pilihan yang kedua yakni aktivitas “rekreasional”, yang menarik dan menyenangkan.

Dihadapkan pada dua pilihan di atas, kita cenderung memilih aktivitas “rekreasional” daripada aktivitas “kerja”. Ini dikarenakan, aktivitas kerja menuntut tanggung jawab, yang dengan demikian, tidak dapat dikerjakan dengan sembarangan. Aktivitas kerja membuat kita tertekan dan terintimidasi. Inilah yang membuat kita lebih memilih aktivitas “rekreasional” ketimbang aktivitas “kerja”.

Dan, saat kita memilih aktivitas “rekreasional” daripada aktivitas “kerja”, maka pekerjaan kita pun terbengkalai.

Nah, untuk mengatasinya, Berkman menyarankan kita untuk memasukkan nilai (value) pada aktivitas “kerja” yang menjadi tugas penting kita. Caranya yaitu dengan menghubungkan tugas itu dengan identitas diri kita. (http://www.psychologytoday.com/blog/the-motivated-brain/201311/what-is-the-value-self-control)

Misalkan, Anda sedang menyelesaikan tugas. Tetapi, facebook jauh lebih menggoda karena di dalamnya, Anda dapat bercanda, membangun eksistensi Anda, dan dapat berdebat dengan teman-teman Anda. Facebook jauh lebih menarik daripada tugas Anda karena di dalam facebook, Anda tidak dituntut untuk berhati-hati dan bertanggung jawab. Sementara itu, dengan tugas Anda, Anda dituntut untuk mengerjakannya dengan benar dan penuh tanggung jawab.

Kendati demikian, Anda sadar bahwa memilih facebook dibanding tugas merupakan tindakan yang ceroboh, yang bisa berakibat fatal bagi diri Anda.

Nah, untuk mengendalikan diri Anda supaya tidak tergoda oleh rayuan facebook, Anda pun dapat menambahkan nilai (value) pada pekerjaan/tugas Anda. Hubungkan tugas itu dengan identitas diri Anda.

Dalam contoh di atas, citrakan diri Anda sendiri sebagai seorang pekerja yang produktif dan profesional. Atau, Anda dapat mengidentifikasikan diri Anda sendiri sebagai pribadi yang dewasa, yang tidak mudah tergoda oleh kesenangan-kesenangan sementara, yang membawa dampak negatif bagi diri Anda.

Dengan mengindentifikasikan diri Anda dengan identitas-identitas di atas (dewasa, profesional, produktif), Anda pun terdorong unntk bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas Anda. Dengan identitas di atas, Anda meniciptakan nilai (value) pada tugas Anda, di mana nilai ini jauh lebih tinggi daripada nilai facebook, email, musik, atau hal lainnya.

Dan, mengapa Anda cenderung memilih aktivitas yang bernilai tinggi? Karena, Anda jauh lebih puas melakukan aktivitas bernilai tinggi daripada melakukan aktivitas bernilai rendah. Anda lebih suka disebut sebagai pekerja otak daripada pekerja otot, bukan? itu dikarenakan, kerja otak jauh lebih bernilai daripada kerja otot.

Demikian 3 cara dahsyat melenyapkan kebiasaan menunda-nunda pekerjaan yang dapat penulis sampaikan kepada Anda. Semoga, cara-cara di atas memebrikan manfaat kepada Anda.

About the Author Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

follow me on:
>