Ingin Tahu Kunci Sukses di Dunia Kerja? Waspadai Pujian atas Kecerdasan dan Bakat Anda!

Shares

 

 

 complimentPernahkah Anda mendapat pujian dari atasan karena menurutnya Anda cerdas? Karena kecerdasan yang Anda miliki, Anda pun cakap dalam mengerjakan tugas-tugas Anda; Anda tidak membutuhkan banyak waktu untuk mengerjakan tugas-tugas itu. Katanya, Anda bahkan orang yang multitalent, bisa mengerjakan berbagai jenis tugas. Pokoknya, Anda hebat!

Hehehe, berhati-hatilah jika Anda pernah menerima pujian seperti itu. Berhati-hatilah jika atasan memuji kecerdasan Anda!

Mengapa? Karena pujian atas kecerdasan dan bakat membuat Anda berpikir bahwa yang terpenting adalah kecerdasan dan bakat Anda, bukan usaha Anda. Carol Dweck, ahli Psikologi dari Universitas Stanford, mengatakan bahwa penghargaan atas kemampuan dan kecerdasan senantiasa melahirkan apa yang ia sebut sebagai pola pikir fixed mindset. Fixed mindset adalah pola pikir yang memandang bahwa kualitas, termasuk kecerdasan dan kemampuan merupakan sesuatu yang tetap; Kecerdasan tidak akan berubah, kemarin, sekarang, maupun besok.

Menurut Carol Dweck, pola pikir fixed mindset melahirkan watak yang destruktif alias merusak, yang pada gilirannya memengaruhi keberhasilan seseorang. Dalam penelitiannya, Carol menemukan bahwa orang yang memiliki pola pikir ini cenderung tidak dapat mempertahankan pencapaiannya.

Penelitian Carol memberikan pemahaman kepada kita bahwa untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan, kita harus menghindari pola pikir fixed mindset.

Nah, dalam artikel ini, penulis ingin mengajak Anda untuk mengetahui beberapa alasan mengapa Anda harus meninggalkan pola pikir fixed mindset demi kesuksesan Anda.

Penasaran? Yuk, kita simak penjelasannya sebagai berikut.

Pola Pikir Fixed Mindset

Seperti yang penulis sebutkan sebelumnya, pola pikir fixed mindset lahir dari pujian atas kecerdasan dan bakat seseorang. Hal ini merupakan sebuah siklus. Dikatakan siklus karena penghargaan atas kecerdasan menjadi sebab sekaligus menjadi akibat dari pola pikir ini. Jadi, pola pikir fixed mindset mendorong seseorang untuk memuji orang lain berdasarkan kecerdasan dan kemampuannya. Selanjutnya, pujian ini menyebabkan orang yang dipuji berfokus pada dua kualitas itu. Saat orang tersebut berfokus pada kecerdasan dan kemampuannya, ia menjadikan kecerdasan dan kemampuan sebagai tujuan. Nah, saat ia menjadikan kecerdasan dan kemampuan sebagai tujuan, maka saat itu ia telah terjebak pada pola pikir fixed mindset.

Lalu, mengapa pola pikir ini membawa dampak buruk? Untuk menjawab itu, mari kita lihat pandangan, tindakan, dan sikap apa saja yang lahir dari pola pikir fixed mindset.

Pandangan

1. Kemampuan dan kecerdasan

Pola pikir fixed mindset terbentuk dari budaya yang sedemikian rupa sehingga melahirkan pandangan bahwa kualitas seseorang bersifat statis alias tetap. Kualitas, seperti kecerdasan, bakat, dan keterampilan dianggap pemberian yang sudah dari sononya. Menurut pola pikir ini, adalah kebanggaan tersendiri saat seseorang dikaruniai kualitas-kualitas yang membuatnya berbeda dari kebanyakan orang. Kualitas-kualitas tersebut membuatnya istimewa dan seolah sudah ditakdirkan Tuhan menjadi orang-orang terpilih.

Lebih jauh, menurut orang yang memiliki pola pikir ini, hanya orang cerdas dan berbakatlah yang mampu mengemban tanggung jawab yang besar. Menurut mereka, orang yang cerdas dan berbakat adalah orang penting!

2. Kesuksesan

Karena menganggap bahwa kualitas menjadikannya istimewa dan penting dibanding yang lain, orang yang memiliki pola pikir fixed mindset memandang bahwa kualitas, termasuk kecerdasan dan kemampuan adalah segalanya. Hal ini pada gilirannya membuat mereka berfokus pada kecerdasan dan kemampuan. Lebih dari itu, mereka menganggap bahwa kesuksesan adalah bukti dari kemampuan dan kecerdasan mereka.

3. Sukses berarti cerdas

Karena mereka memandang bahwa kesuksesan adalah bukti kecerdasan, bagi mereka kesuksesan sama artinya dengan kecerdasan. Orang yang sukses adalah orang yang cerdas. Sebaliknya, seseorang tidak akan disebut sukses kecuali ia menjadi orang yang cerdas.

4. Kegagalan

Nah, karena mereka menganggap bahwa kesuksesan adalah kecerdasan, maka saat mereka gagal, mereka berpikir bahwa mereka bukan orang yang cerdas. Dan, saat mereka menemukan diri mereka tidak cerdas, mereka sangat malu.

Mengapa malu? Karena menurut mereka, kecerdasan dan kualitas-kualitas lain yang mereka miliki adalah bukti bahwa mereka berharga, bukti bahwa mereka isimewa dibanding yang lain. Saat mereka gagal meraih sukses, mereka menganggap mereka tidak memiliki kualitas apa pun termasuk kecerdasan. Saat mereka tidak memiliki kualitas apa pun, itu artinya mereka orang yang tidak berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka menganggap bahwa mereka tidak berharga. Nah, itulah mengapa kegagalan merupakan hal yang sangat memalukan bagi mereka.

5. Usaha dan perjuangan

Bagi orang yang berpegang pada pola pikir fixed mindset, usaha dan perjuangan (seperti halnya kegagalan) merupakan hal yang memalukan. Ini dikarenakan, baginya, usaha dan perjuangan membuktikan bahwa mereka bukanlah orang yang cerdas. Semakin cerdas seseorang, semakin sedikit usaha dan perjuangan yang dibutuhkan. Sebaliknya, semakin tidak cerdas seseorang, semakin banyak perjuangan yang harus ditempuhnya untuk sukses. Itu menurut orang yang berpola pikir fixed mindset.

Tindakan

Pandangan-pandangan di atas, pada ujungnya membentuk suatu sikap dan tindakan. Sayang sekali, sikap dan tindakan yang lahir dari pandangan-pandangan di atas merupakan sikap yang destruktif. Nah, berikut beberapa sikap yang lahir dari pandangan-pandangan di atas.

1. Takut

Sebagaimana penulis sebutkan di atas, orang yang memiliki pola pikir fixed mindset senantiasa memandang bahwa kecerdasan dan kemampuan adalah tujuan. Akibatnya, saat ia dipuji sebagai orang yang cerdas, ia mengira perjuangan telah berakhir. Saat dia sudah mencapai predikat ‘cerdas’, maka ia akan nyaman tinggal di sana, dan takut untuk keluar dari zona itu. Ia takut jikalau ia keluar dari zona itu dan menghadapi tantangan selanjutnya, ia tidak dapat mempertahankan predikat ‘cerdas’ yang telah ia terima.

Dalam dunia kerja, sikap seperti ini sangat merugikan. Orang yang memiliki pola pikir ini akan takut dan cemas dengan perubahan. Saat perusahaan memberikan tanggung jawab yang lebih besar kepadanya, ia cenderung tidak berani mengemban tanggung jawab itu. Atau, jika ia berani mencoba, ia akan berfokus pada pembuktian kecerdasan dan kemampuannya. Akibatnya, setiap kali ia gagal atau mengalami kesulitan, ia merasa dirinya tidak cerdas. Saat merasa dirinya tidak cerdas, ia akan berpikir bahwa ia tidak berharga dan tidak berguna.

2. Kekurangan

Saat orang yang memiliki pola pikir fixed mindset menemukan dirinya memiliki kekurangan, ia akan menyembunyikan kekuarangan itu. Hal ini dikarenakan, kekuarangan akan membatalkan predikat ‘berbakat’ dan ‘cerdas’ yang diterimanya. Kekurangan yang dimilikinya membuat ia berpikir bahwa ia tidak pantas menyandang predikat ‘berbakat’ dan ‘cerdas’. Nah, demi mempertahankan predikat itu, mereka menjadi antipati terhadap kekurangan.

Dalam dunia kerja, sikap seperti ini juga merugikan diri sendiri. Karena terlalu cemas dan takut predikat ‘cerdas’ yang dicapainya lenyap gara-gara kekurangannya diketahui orang lain, saat ia dibebani tugas yang menuntutnya menggunakan keahlian yang menjadi kekurangannya, ia menyembunyikan kekurangan itu. Ia enggan bertanya dan meminta bantuan orang yang lebih ahli. Akibatnya, ia justru menemui banyak kesulitan ketika mengerjakan tugas itu. Celakanya, semakin ia menghadapi kesulitan, semakin itu mengukuhkan bahwa ia bukan orang yang cerdas. Ujung-ujungnya, ia akan menyerah mengerjakan tugas itu. Lebih fatal lagi, ia akan frustasi dan depresi akibat menemukan dirinya tidak cerdas dan tidak berguna.

3. Tujuan

Saat orang yang memiliki pola pikir fixed mindset melakukan suatu tindakan, tindakannya itu ditujukan untuk membuktikan kecerdasan dan kemampuannya. Ia selalu cemas dan khawatir saat predikat ‘cerdas’ yang telah diraihnya diuji oleh waktu. Ia akan terus-menerus berfokus pada pembuktikan bahwa ia pantas menyandang predikat ‘cerdas’ yang telah ia terima.

Akibatnya, saat ia gagal atau menemui kesulitan, ia menganggap bahwa ia tidak pantas menyandang predikat ‘cerdas’. Pemikiran seperti itu pada ujungnya akan membuatnya merasa tidak berguna. Ini tentu akan melemahkan motivasinya. “Sulit sekali mengerjakan tugas ini. Sudahlah, Saya tidak akan mampu menyelesaikan tugas ini karena saya bukan orang yang cerdas. Saya sangat tidak berguna,” sesalnya.

4. Perjuangan dan usaha

Seperti disebutkan sebelumnya, orang yang memiliki pola pikir fixed mindset senantiasa menganggap perjuangan dan usaha sebagai hal yang buruk dan memalukan. Hal ini pada ujungnya membuatnya menderita dan tidak nyaman ketika harus berusaha dan berjuang demi mencapai tujuan.

Sikap seperti ini tentu saja sangat tidak diinginkan dalam dunia kerja. Setiap pencapaian senantiasa membutuhkan proses. Itu sudah menjadi hukum alam. Jadi, tidak mungkin pencapaian diraih secara cuma-cuma. Mustahil jika pencapaian diraih tanpa usaha hanya karena orang yang mengerjarnya orang yang cerdas dan berbakat. Secerdas dan seberbakat apa pun, tetap butuh waktu untuk meraih suatu pencapaian.

Nah, orang yang memiliki pola pikir fixed mindset tidak menyadari kenyataan ini. Baginya, semakin cepat ia meraih sukses, semakin hebatlah ia. Semakin mudah baginya meraih sukses, semakin berhargalah ia. Sebaliknya, semakin ia membutuhkan banyak waktu untuk meraih sukses, semakin tidak hebat ia. Semakin ia merasakan kesulitan dalam mencapai kesuksesan, semakin ia berpikir ia tidak berharga. Itulah mengapa, perjuangan merupakan hal yang memalukan bagi mereka.

Bagi orang yang memiliki pola pikir fixed mindset, membuktikan bahwa mereka mampu menyelesaikan tugasnya dalam waktu yang singkat merupakan hal yang sangat penting. Mereka akan frustasi manakala menemui kesulitan dalam menyelesaikan tugas. Walhasil, karena mereka frustasi, hasil kerja pun tidak maksimal.

5. Ketertarikan untuk belajar

Lantaran ingin membuktikan bahwa dirinya memiliki kualitas yang berbeda dari kebanyakan orang, orang yang memiliki pola pikir fixed mindset cenderung malas belajar. Menurutnya, belajar membuktikan bahwa ia tidak berkualitas (tidak cerdas) dan tidak berbeda dengan kebanyakan orang yang, butuh berjuang untuk meraih pencapaian. Ia akan bangga manakala ia mampu mengerjakan tugas-yang menurut orang lain berat dan butuh perjuangan untuk menyelesaikannya-tanpa usaha. Ia akan bangga jika ia memiliki pengetahuan yang luas dan kreatif tanpa harus belajar dari buku atau pun dari orang lain.

Ini merupakan kesalahan fatal, bukan hanya di dunia kerja, tetapi juga di seluruh bidang kehidupan. Prinsip kehidupan adalah perubahan. Segala sesuatu senantiasa berubah. Yang tidak berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Konsekuensi dari dunia yang selalu berubah adalah, kita pun harus berubah. Jika saat ini kita memiliki pengetahuan tetang sesuatu, sangat mungkin pengetahuan itu tidak lagi relevan di hari esok.

Dulu orang menganggap bumi sebagai pusat tata surya. Sekarang terbukti pengetahuan itu tidak relevan.

Itulah mengapa, jika kita tidak meng-upgrade pengetahuan dan keterampilan kita, niscaya kita akan tergerus zaman.

Mengenai poin ke-5 ini, penulis telah membuktikan sendiri kebenarannya. Dulu, waktu duduk di bangku SMA, penulis pernah mendengar pendapat seorang teman mengenai orang yang mendapat juara 1. Anggap saja teman penulis ini A, dan orang yang juara 1 adalah B. Kata si A mengenai si B: “Wajarlah kalau dia dapat juara 1, orang dia belajar terus. Dia bukan orang hebat. Aku juga bisa juara 1. Kecil! Kalau aku rajin belajar!”

Nah, pada kenyataannya, si A ini memang tidak pernah belajar. Ia ingin membuktikan kepada lingkungan bahwa ia orang yang cerdas, yang tidak butuh belajar untuk mendapatkan predikat juara. Rupanya, ia telah terjebak dalam pola pikir fixed mindset. Dia menganggap bahwa kecerdasan adalah kualitas yang tetap, dulu, sekarang, dan nanti. Orang yang butuh rajin belajar untuk mendapat juara 1 tidak pantas menyandang predikat ‘cerdas’. Ini menurutnya.

Demikianlah pandangan dan tindakan yang lahir dari pola pikir fixed mindset. Pola pikir ini sangat merugikan, bukan? Oleh karena itulah Anda harus membuangnya jauh-jauh dan menggantinya dengan pola pikir yang lebih bermanfaat.

Waspadai jika atasan memuji kualitas dan bakat Anda. Jangan sampai pujian itu membuat Anda terjerumus pada pola pikir fixed mindset yang merugikan.

Nah, jika ada yang perlu ditanyakan, silakan berkomentar

Benner-1.png

 

About the Author Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

follow me on:
>