Alasan Mengapa Anak Remaja Anda Tidak Mau Mendengarkan Anda

Shares

Anak yang tidak mau mendengarkan orangtua terkadang menjadi persoalan tersendiri bagi orangtua. Mereka bisa kebakaran jenggot hanya agar anak mau mendengarkan dan melakukan apa yang diminta. Jika tidak nurut, habislah sudah. Tidak jarang orangtua lepas kendali dan membuat suasana rumah menjadi tegang. Setegang aliran listrik tingkat tinggi 🙂

Tidak jarang mood orangtua yang tadinya baik-baik saja berubah total karena anak sibuk dengan pekerjaanya dan tidak mempedulikan apa yang disampaikan oleh orangtuanya. Bisa jadi anak memang tidak mendengar atau mereka pura-pura tidak mendengar. Ini menunjukkan anak mulai membangkang dan pada kenyataanya, banyak kasus remaja yang kurang lebih sama seperti yang di jelaskan di atas.

Semua ini tidak lepas dari didikan orangtua terhadap anak mulai dari kecil hingga saat ini. Selain itu, lingkungan juga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter anak. Jika lingkungan anak dipenuhi dengan teman yang giat belajar, melakukan kegiatan positif, saling mendukung satu sama lain dan memiliki prestasi yang baik di sekolah maka anak akan memiliki karakter yang baik pula.

Begitu juga sebaliknya, jika anak masuk ke lingkungan yang kurang baik seperti teman yang suka merokok, bolos, suka melanggar aturan, suka buat onar maka karakter anak pun tidak akan jauh beda dengan lingkunganya.

Jika ini yang terjadi, mereka pun akan berani melawan Anda selaku orangtua dan apa pun yang Anda sampaikan tidak akan mudah didengarkan oleh anak selama mereka tidak menyukainya.

Pertanyaanya sekarang, mengapa anak tidak mau mendengarkan Anda? Apa masalahnya sehingga mereka terkadang mau melawan Anda? Adakah solusi untuk masalah ini?

 

Sebelum kita membahas lebih jauh, saya ingin sampaikan, sangat penting untuk jujur pada diri sendiri dalam menganalisa apa yang akan kita bahas. Karena banyak orangtua yang saya jumpai tidak mau mengakui kekurangan mereka dan saya yakin Anda tidak seperti orangtua yang saya jumpai di luar sana.

Mengetahui kekurangan bukan berarti Anda dicap jelek, buruk atau atribut lain yang memiliki makna kurang lebih sama. Tapi, itu satu kesempatan untuk Anda memperbaiki dan meningkatkan diri menjadi orangtua yang lebih baik untuk anak dan keluarga Anda sendiri tentunya.

Artikel ini bukan bermaksud untuk menggurui Anda, saya hanya ingin berbagi pengetahuan yang saya dapatkan dan saya yakin apa yang akan kita bahas akan sangat bermanfaat dalam membangun hubungan baik Anda dengan anak.

Ok, mari kita bahas satu persatu.

Raising Brat

Hilangnya Integritas Orangtua

“It’s not only children who grow. Parenst do too. As much as we watch to see what our children do with their lives, they are watching us to see what we do with ours. I can’t tell my children to reach fot the sun. All I can do is reach for it, my self.

Joyce Maynard”

Masalah pertama mengapa anak tidak mau mendengarkan orangtua adalah karena integritas orangtua lemah di mata anak. Ini membuat anak merasa baik-baik saja saat tidak mendengarkan apa yang disampaikan oleh orangtua. Makanya tidak heren jika anak bisa asik main game atau chat dengan temanya meskipun orangtuanya sudah berkata dengan suara keras kepada anak.

Untuk menyamakan persepsi, apakah Anda pernah melihat anak mendengarkan dan melakukan apa yang disampaikan oleh anggota keluarga Anda yang lain. Secara ajaib anak melakukannya meskipun isinya sama dengan apa yang Anda sampaikan pada anak. Pernahkah?

Jika ia, maka anggota keluarga, apakah itu paman, tante, kakek, nenek dan siapa saja lebih memiliki integritas daripada Anda di mata anak. Pertanyaanya, bagaimana bisa integritas orangtua lebih lemah daripada sanak keluarga Anda yang lain?

Integritas dibentuk semenjak anak lahir sampai sekarang. Semakin besar otoritas atau pengaruh Anda semakin tinggi integritas Anda di mata anak. Rendahnya integritas Anda disebabkan karena Anda tidak konsisten akan apa yang telah disampaikan pada anak. Anak melihat dan belajar melalui semua tingkah laku yang Anda tunjukkan secara langsung pada anak.

Coba ingat seberapa sering Anda tidak menepati apa yang telah disepakati bersama. Misalnya akan memberikan anak keinginanya jika ia berhasil melewati waktu dan tantanga yang telah disepakati. Mungkin sewaktu anak masih kecil, Anda tidak menyusun mainannya setelah selesai bermain meskipun telah disepakati kalau selesai main, mainan harus disimpan oleh anak sendiri tanpa bantuan mbak atau orangtua.

Atau mungkin anak merengek dan berguling-guling di mol karena ingin dibelikan mainan baru dan dari rumah anak telah berjanji untuk tidak dibelikan mainan dan anak menyetujuinya. Tapi Anda membelikannya karena malu dilihat orang lain, di mana anak sedang menangis dan merengek.

Kejadian seperti inilah yang membuat anak melakukan cara yang sama untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dan secara tidak langsung otoritas orangtua hilang di mata anak. Anak akan melanggar dan Anda pun selaku orangtua memberikannya karena tidak mau repot dengan tingkah laku anak.

Masalah yang paling umum, saat anak meminta sesuatu dan tidak diberikan oleh ibunya. Saat anak meminta kepada ayahnya, ayahnya malah mengabulkan permintaan si anak. Begitu juga sebaliknya. Di sini anak belajar untuk mendapatkan sesuatu atau meloloskan keinginanya melalui salah satu orangtua.

Inilah permasalahannya. Jika Anda mengalami seperti yang saya sebutkan di atas, maka Anda perlu belajar konsisten atas apa yang telah disepakati bersama. Anda perlu menunjukknya melalui tindakan nyata. Bukan hanya sekedar berbicara dan melanggarnya. Saling mendukunglah dengan pasangan Anda untuk konsisten.

Jika Anda melanggarnya, otoritas Anda akan hilang dengan sendirinya di mata anak. Akan lebih mudah mengajarkan anak secara tindakan daripada secara kata-kata. Karena tindakan bisa mereka lihat, direnungkan dan tiru oleh anak. Mereka jauh lebih lama mengingat tindakan dari pada kata-kata Anda.

Berkompromi dengan anak

Komunikasi Antara Orangtua dan Anak

“At the end of the day, the most overwhelming key to a child’s success is the positive involvement of parents.

Jane D. Hull”

Komunikasi memegang peran yang sangat penting dalam membangun hubungan antara orangtua dan anak. Komunikasi yang buruk akan menghasilkan hubungan yang buruk begitu juga sebaliknya. Dalam membangun komunikasi baik, dibutuhkan landasan emosi yang kuat berupa rasa cinta, kasih sayang dan rasa percaya.

Hilang atau lunturnya emosi di atas dalam proses komunikasilah yang membuat hubungan antara orangtua dan anak menjadi kurang baik. Makanya perlu menjada emosi tetap baik agar Anda bisa mengungkapkan maksud dan keinginan dengan baik dan anak dengan mudah bisa memahami Anda.

Selain itu, orangtua juga perlu memahami tipe kepribadian manusia. Menurut Florence Littauer dalam buku Personality Plus, ada 4 jenis tipe kepribadian.

Pertama kepribadian Sanguinis. Kepribadian ini menggambarkan seseorang yang memiliki karakter yang lincah, extrovert, periang, bisa meramaikan suasana, suka berbicara, memiliki rasa humor yang tinggi, berhati tulus, penuh semangat, selalu kekanak-kanakan, memiliki energi serta antusiasme, kreatif dan inovatif, suka kegiatan spontan.

Kelemahanya mereka bukanlah tipe yang konsisten dan mudah dipengaruhi oleh orang lain karena energi mereka yang sangat besar untuk berinteraksi dengan orang lain. Selain itu, mereka juga mudah lupa akan hal-hal kecil yang mereka miliki.

Kedua, tipe kepribadian Koleris. Tipe ini menggambarkan seseorang yang memiliki karakter yang percaya diri, dinamis dan aktif, berbakat memimpin, extrovert, optimis, berani mengambil resiko besar sekalipun, hatinya mudah terbakar, selalu unggul dalam keadaan darurat, selalu merasa benar, susah menerima pendapat orang, disiplin, dan tepat waktu.

Kelemahanya, mereka tidak suka dengan orang yang terlalu bertele-tele dan lambat, mereka tidak peka pada apa yang dirasakan orang lain, dan mereka juga bukanlah orang yang mudah diatur karena mereka memiliki keinginan kuat untuk membuat keputusan secara pribadi bukanya dibuatkan oleh orang lain.Personality Plus

Ketiga, tipe kepribadian Melankolis. Kepribadian ini menggambarkan seseorang yang penuh pikiran, cenderung pemurung, pendiam, introvert, pesimis, perfeksionis, berorientasi jadwal, standar tinggi, sadar perincian, gigih dan cermat, tertib dan terorganisasi, teratur dan rapi, ekonomis, perlu menyelesaikan apa yang dimulai, suka diagram, grafik, bagan, dan daftar.

Kelemahanya, mereka suka memendam perasaan yang membuat mereka mudah murung. Ini membuat mereka menjadi pendendam dan suka melampiaskan emosi yang dipendam kepada orang lain dengan sangat kreatif.

Terakhir, tipe kepribadian Phlegmatis. Kepribadian ini menggambarkan seseorang yang memiliki karakter yang rendah hati, mudah bergaul dan santai, pendiam, sabar, hidup konsisten, baik hati, mampu menyembunyikan emosi, mudah diajak bergaul dan kompromi, menyenangkan, tidak suka menyinggung perasaan orang lain, pendengar yang baik dan memiliki selera humor yang baik.

Sayangnya, mereka mudah marah kepada diri sendiri jika melewati batas yang mereka tetapkan untuk diri sendiri baik masalah uang, waktu dan barang-barang yang mereka miliki. Ini disebabkan karena mereka tidak bisa menolak setiap permintaan orang lain. Selain itu, mereka juga memiliki sifat malas dalam bertindak dan mencoba hal baru.

Setiap orang memiliki keempat kepribadian ini. Tergantung seberapa besar kadar setiap orang. Pada umumnya akan ada dua tipe kepribadian yang terlihat pada seseorang. Ada kepribadian yang primer dan sekunder. Dari keempat tipe kepribadian di atas, yang manakah tipe kepribadian Anda dan anak Anda?

Setiap tipe kepribadian memiliki pendekatan gaya komunikasi yang berbeda. Anak koleris misalnya, ia lebih suka mengambil keputusan dari pada dibutkan keputusan untuknya. Sedangkan anak plagmatis lebih mudah diarahkan tanpa harus mengeluarkan banyak energi tetapi sedikit.

Ketidakmampuan Anda mengenali tipe kepribadian anaklah yang membuat mereka sulit mendengarkan Anda. Apa yang Anda sampaikan tidak seperti gaya bahasa dari tipe kepribadian anak. Dengan mengetahui tipe kepribadian ini akan memudahkan Anda mengungkapkan isi hati Anda dan mereka bisa melakukanya dengan senang hati tanpa harus melibatkan emosi negatif didalamnya. Selain itu, Anda juga bisa membangun kedekatan dengan lebih mudah ke anak.

Inilah masalah besar yang membuat anak tidak mendengarkan orangtua. Dengan mengetahui masalah dan solusinya tentu akan membuat Anda menjadi lebih memiliki intergritas di mata anak.

Anda menjadi lebih dihargai dan dihormati dengan cara didengarkan oleh anak. Begitu juga sebaliknya, anak merasa dipedulikan karena Anda mampu memahaminya melalui bentuk komunikasi yang baik kepada anak sesuai dengan tipe kepribadianya. Ini juga salah satu cara untuk mendukung anak mengatasi masalah belajarnya.

Pembaca, cara apa yang Anda gunakan agar anak remaja Anda mau mendengarkan Anda? Tulis komentar Anda di bawah ini.

About the Author ronalbiring

>