4 Pantangan yang Harus Anda Hindari agar Lebih Produktif

Shares

Salah satu faktor yang memengaruhi kesuksesan yaitu produktivitas. Semakin produktif, maka semakin besar peluang sukses. Sebaliknya, semakin kurang produktif, maka semakin kecil pula peluang kesuksesan.

Kita semua sepakat dengan prinsip di atas. Namun demikian, prinsip itu tidak serta-merta mendorong Anda untuk lebih produktif. Masalah yang muncul yaitu, kemauan untuk lebih produktif terkalahkan oleh godaan-godaan yang muncul, seperti rasa bosan dan kehilangan mood, Facebook, dan email.

Jika kita amati, orang yang produktif mampu mengontrol perilakunya. Yup! Mereka mampu mengontrol perilaku sedemikian sehingga tidak melakukan hal-hal yang dapat menghambat produktivitas mereka.

Anda pun dapat mencontoh mereka. Anda dapat mencontoh mereka dalam dua hal. Pertama, Anda dapat ikut melakukan apa yang mereka lakukan, yang dapat meningkatkan produktivitas. Kedua, Anda dapat ikut menghindari hal-hal yang tidak mereka lakukan, yang dapat menghambat produktivitas mereka.

Nah, dalam artikel ini, penulis ingin mengajak Anda untuk mengetahui beberapa pantangan yang harus dihindari agar lebih produktif. Orang sukses menghindari pantangan itu karena pantangan-pantangan itu dapat menghambat produktivitas mereka.

Anda harus meniru mereka. Anda juga harus menghindari pantangan-pantangan itu agar lebih produktif dan sukses.

Sekarang, apa saja pantangan itu? Yuk, kita simak uraian selengkapnya berikut ini.

1. Menunggu pulihnya mood

Mencari inspirasi”. Itulah satu ungkapan yang sering kita dengar saat seseorang (artis, misalnya) membahas bagaimana mereka menghasilkan karya.

Ungkapan “mencari inspirasi” terkesan sangat artistik, kreatif, dan produktif. Ungkapan itu mengesankan bahwa orang yang kreatif dan produktif musti mencari inspirasi untuk berkarya.

Dalam pandangan itu, inspirasi berpengaruh pada mood. Banyaknya inspirasi akan meningkatkan mood. Sebaliknya, kurangnya inspirasi mengurangi mood. Dan, pada ujungnya, kurangnya mood menjadi alasan untuk menunda pekerjaan.

Nah, apakah Anda setuju dengan pandangan di atas? Apakah menurut Anda, agar dapat berkarya, Anda perlu mencari inspirasi? Apakah dalam bekerja, Anda perlu menunggu datangnya mood?

Jika kita telusuri, orang-orang produktif justru tidak terpaku pada inspirasi atau pun mood. Mereka melakukan pekerjaan secara rutin setiap hari. Mereka tidak berhenti saat mood hilang.

Masih tidak percaya? Coba Anda bayangkan saat seorang dokter harus mengobati luka pasiennya. Bayangkan, kira-kira, sebagai manusia biasa, yang memiliki rasa ngilu (saat melihat darah, misalnya), mampukah dokter itu mengesampingkan rasa ngilunya demi mengobati sang pasien? Bagaimana jika sang dokter tidak mampu mengesampingkan rasa ngilunya saat mengobati sang pasien? Yang terjadi, sang dokter akan menyerah mengobati pasiennya karena ngilu melihat luka tersebut.

Nah, di sini, kemampuan dokter untuk tidak terbawa rasa ngilunya saat mengobati pasien menjadi salah satu rahasia kesuksesannya.

Sebagai dokter, ia tidak boleh menggunakan perasaannya saat mengobati pasien. Ia harus bertindak objektif, sesuai dengan prosedur ilmiah yang ditetapkan. Intinya, ia harus profesional saat bekerja. Ia tidak boleh mencampuradukkan perasaannya dengan pekerjaannya.

Selain dimiliki oleh para dokter, kemampuan di atas juga dimiliki oleh orang-orang yang produktif. Orang yang produktif senantiasa profesional dalam bekerja. Mereka tidak mencampuradukkan perasaan pribadi dengan pekerjaan. Mereka memiliki keterampilan dalam memisahkan perasaan dari kewajiban mereka.

Lantas, bagaimana dengan Anda? Mampukah Anda mengesampingkan perasaan Anda saat bekerja? Mampukah Anda mengesampingkan rasa jenuh Anda saat bekerja? Mampukah Anda menjadi orang yang profesional, yang tidak mencampuradukkan perasaan Anda dengan kewajiban Anda?

2. Bekerja tanpa perencanaan

Salah satu cara meningkatkan produktivitas yaitu dengan merencanakan segala sesuatunya sebelum memulai kerja. Perencanaan membantu Anda mengetahui goal dan strategi mencapai goal tersebut. Sebaliknya, tiadanya perencanaan membuat Anda bingung. Anda bingung lantaran tidak mengetahui apa yang akan Anda capai dan bagaimana cara mencapainya.

Dan, saat Anda bingung, progres pun tidak akan tercapai. Bagaimana Anda mencapai progres jika Anda berdiam diri saja karena tidak tahu apa yang harus Anda lakukan?

Untuk itulah, bagi orang-orang yang produktif, memulai kerja tanpa perencanaan merupakan pantangan! Memulai kerja tanpa perencanaan dapat menghambat produktivitas dan progresivitas mereka.

Lalu, bagaimana dengan Anda? Ingin lebih produktif? Awali hari Anda dengan rencana!

3. Bekerja ala kadarnya, tanpa memperhatikan prioritas

Perhatikan ilustrasi berikut ini:

Ada dua tugas, A dan B. A adalah tugas berat tetapi tidak urgent. B adalah tugas ringan tetapi urgent (harus selesai pada pukul 11.00, misalnya).

Kira-kira, mana yang akan Anda kerjakan terlebih dulu?

Bayangkanlah Anda mengerjakan tugas A dulu, kemudian baru mengerjakan B.

Bayangkan, kira-kira apa yang akan terjadi? Yang akan terjadi yaitu, Anda menghabiskan waktu untuk mengerjakan A hingga kehilangan waktu untuk mengerjakan tugas B.

Mengapa demikian? Karena tugas A berat, Anda pun membutuhkan banyak waktu untuk menyelesaikannya. Padahal, seharusnya, waktu yang ada dapat digunakan untuk mengerjakan tugas B, yang ringan tetapi urgent. Tetapi, karena Anda menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas A, Anda pun kehilangan kesempatan untuk mengerjakan tugas B.

Nah, jika sudah begitu, apa konsekuensinya? Konsekuensinya, Anda tidak dapat menyelesaikan B (tugas ringan tetapi ugrgent) tepat pada waktunya.

Tidak mau, kan, ilustrasi seperti atas terjadi pada Anda? Untuk itu, sebelum memulai kerja, tentukan terlebih dulu prioritas Anda. Dahulukan tugas yang urgent.

Seseorang menjadi produktif lantaran mampu menentukan prioritas. Ia tidak memulai kerja tanpa memperhatikan prioritas.

4. Melakukan semuanya sendirian

Produktivitas yang tinggi bukan berarti mengerjakan semuanya sendirian. Kita hanya memiliki dua tangan dan satu otak. Itu artinya, kita memiliki keterbatasan dalam bekerja.

Para pakar menemukan bahwa otak manusia tidak dapat melakukan kegiatan secara multitasking. Otak manusia tidak dapat melakukan lebih dari satu tugas dalam waktu yang bersamaan.

Lantas, apa yang terjadi saat kita memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya sendirian? Memaksakan diri untuk mengerjakan semuanya sendirian justru membuat kita tidak fokus. Dan, tiadanya fokus, pada ujungnya, justru menghambat progres kita.

Bagaimana kita bisa mencapai progres jika kita tidak fokus? Saat tugas A belum selesai, kita beralih ke tugas B. Saat tugas B belum selesai, kita beralih ke tugas C. Saat tugas C belum selesai, kita kembali ke tugas A. Yang ada, kita justru seperti sedang melakukan senam poco-poco, maju-mundur, maju-mundur. Heheheh.

Oleh karena itulah, orang yang produktif tidak segan-segan meminta bantuan kepada orang lain. Mereka berpikir, mereka tidak dapat menyelesaikan semua tugasnya sendirian karena mereka memiliki keterbatasan waktu, energi, dan pikiran.

Mereka lebih mementingkan kepentingan perusahaan daripada kepentingannya sendiri. Mereka berpikir, meminta bantuan orang lain merupakan tindakan yang produktif. Yang penting pekerjaan selesai, tidak peduli siapa yang mengerjakannya. Yang penting masalah teratasi tanpa memedulikan siapa yang paling berjasa.

Demikianlah 4 pantangan yang harus Anda hindari agar lebih produktif. Tentu saja, maaaaasih banyak lagi pantangan lainnya. Nah, untuk mengetahui lebih banyak informasi dan tips produktivitas, baca buku-buku produktivitas yang banyak beredar. Atau, jika tidak ada waktu untuk membaca, Anda cukup membaca ringkasan buku-buku itu. Dalam Tantangan 30 Hari Membaca, kami menyediakan ringkasan buku-buku international best-seller bertema produktivitas yang dapat membantu Anda menjadi lebih produktif. Ayo, gabung segera, baca selama 20 menit, dan rasakan manfaatnya yang WOW!

Baca juga:

Mengapa Semua Pemimpin Besar Produktif?

Bagaimana Mengubah Kemalasan Menjadi Aktivitas yang Produktif?

Takut Sukses? Ini Dia Kiat-Kiat Mengatasinya

About the Author Rina Ulwia

Rina Ulwia mulai terjun ke dunia penulisan semenjak lulus pendidikan S1 di salah satu perguruan tinggi Islam di Jawa Tengah. Ketertarikannya dengan dunia tulis-menulis bermula ketika ia menjadi editor di salah satu penerbit buku pendidikan terkemuka di Indonesia. Semenjak itu, ia aktif menuangkan ide ke dalam tulisan. Perempuan yang hobi membaca buku ini menaruh minat pada semua bidang. Ia suka berdikusi mengenai berbagai topik. Dari filsafat hingga musik, dari ekonomi hingga sastra, semua ia diskusikan di sela-sela kesibukan kerja. Memiliki banyak pengalaman yang menguji aspek psikis dan psikologisnya membuat perempuan kelahiran 1985 ini menaruh perhatian besar pada dunia pengembangan diri. Ia bergabung dengan Aquarius Resources, event organizer yang bergerak di bidang reedukasi pengembangan diri sebagai creative writer. Baginya, berkecimpung di dunia pengembangan diri memberikan banyak manfaat. Selain dapat mengembangkan diri, ia juga dapat membantu orang lain lewat tulisan-tulisannya.

follow me on:
>